Sabtu, 12 Maret 2011

Bab 2: Riwayat Pribadi Muhammad

Terdapat puluhan ribu kisah/riwayat pendek tentang Muhammad. Kebanyakan adalah karangan/dibuat-buat, sebagian lainnya lemah dan diragukan kesahihannya, tapi sisanya dipercaya sebagai Hadits (tradisi/kisah/riwayat dari mulut ke mulut) yang Sahih (otentik, benar). Dengan membaca Hadits Sahih ini, sebuah gambaran konsisten yang jelas dari Muhammad muncul dan dimungkinkan untuk membuat evaluasi yang kurang lebih tepat mengenai karakternya dan keadaan psikologinya.

Gambar yang muncul adalah gambaran seorang yang narsistik. Dalam bab ini saya akan mengutip sumber-sumber berwenang dalam hal narsisisme dan kemudian akan mencoba menunjukkan bagaimana Muhammad cocok sekali dengan profil tersebut.

Para akademisi dan ilmuwan yang melakukan riset dalam hal ini telah dibatasi karena para Muslim tidak mau dan tidak akan mengijinkan penyelidikan objektif ke dalam Quran atau kehidupan Muhammad. Tapi, apa yang ditulis mengenai dia tidak hanya konsisten dengan definisi narsisme, tapi juga bisa dilihat dalam banyak tindakan aneh yang mirip, yang dilakukan oleh para muslim itu sendiri seluruh dunia. Dengan demikian, penyakit kepribadian/jiwa dari satu orang telah ditularkan seperti sebuah warisan kepada para pengikutnya, dimana sakit kejiwaan dari satu orang, yang luarbiasa dalam hal keasyikan-terhadap-dirinya-sendiri, telah menyebar dan menulari jutaan para pengikutnya, membuat mereka bertindak sama berbahaya, irasional dan asyik-sendiri.



Adalah melalui pengertian dari psikologi Muhammad, kekejamannya dan etika situasionalnya yang begitu penting bagi karakternya inilah, kita mulai dapat mengerti kenapa para muslim begitu tidak toleran, begitu suka kekerasan dan begitu paranoid. Kenapa mereka melihat diri sendiri sebagai korban ketika mereka sendirilah yang menjadi penyerang dan penyebab adanya korban!

Apa itu Narsisisme?

The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM/Buku petunjuk Statistik dan Diagnosa dari Penyakit Jiwa) memberi definisi dari narcissistic personality disorder (NPD/Penyakit kepribadian Narsisistik) sebagai “sebuah pola penyebaran perasaan hebat (dalam khayalan atau tingkah laku), kebutuhan untuk dikagumi atau dipuja-puja dan kurangnya empati, biasanya dimulai dari awal masa dewasa dan ada dalam konteks yang bermacam-macam.” (reference 80, p. 61)

Terjemahan bebasnya, seorang narsisistik adalah ciri khas seseorang yang secara obsesif mencari-cari kepuasan, dominasi dan ambisi diri secara berlebihan. Mereka cenderung melebih-lebihkan kemampuan mereka, bakat mereka dan prestasi-prestasi mereka.

Seorang narsisis adalah seorang pembohong yang alami dan patologis. Mereka akan memandangmu tajam-tajam, bersumpah dalam nama Tuhan dan mengatakan kebohongan terbesar yang pernah kau dengar. Mereka akan mengatakan bahwa mereka tidak akan melakukan hal itu, sementara yang sebenarnya adalah mereka merencanakan untuk melakukan hal yang dikatakannya tidak akan mereka lakukan itu.

Edisi ketiga dan keempat dari Diagnostic and Statistic Manual (DSM) tahun 1980 dan 1994 dan European ICD-10 menjelaskan NPD dalam bahasa yang identik:

Sebuah pola penyebaran perasaan hebat (dalam khayalan atau tingkah laku), kebutuhan untuk dikagumi atau dipuja-puja dan kurangnya empati, biasanya dimulai dari awal masa dewasa dan ada dalam konteks bermacam-macam. Lima (atau lebih) kriteria berikut harus ada:

1. Merasa hebat dan penting (misalnya, membesar-besarkan prestasi dan bakat hingga terdengar mustahil/bohong, menuntut dikenali sebagai seorang yang superior/lebih tinggi meski tanpa prestasi yang pantas).

2. Terobsesi oleh fantasi-fantasi sukses yang tidak ada batasnya, ketenaran, kekuatan menakutkan atau maha, kepintaran yang tak ada tandingannya (narsisis cerebral), keindahan tubuh atau kemampuan seks (narsisis somatic) atau cinta/birahi yang menuntut taklukkan, kekal dan ideal.

3. Benar-benar merasa yakin bahwa dia itu unik dan spesial, hanya dapat dimengerti oleh, hanya mesti diperlakukan dengan, atau dihubung-hubungkan dengan, orang (atau institusi) lain yang juga spesial, unik atau punya status tinggi.

4. Membutuhkan untuk dikagumi dengan berlebihan, dipuja-puja, diperhatikan dan diiyakan, jika tidak, ia berharap utk ditakuti dan dikenal karena kejahatannya (narsisis supply).

5. Merasa berhak. Mengharap untuk diprioritaskan dalam hal perlakuan baik dan spesial atau tidak masuk akal. Menuntut dipenuhi secara otomatis dan benar-benar sesuai dengan harapannya.

6. Sangat memanfaatkan hubungan antar manusia, yakni, memperalat orang lain untuk mencapai tujuan-tujuannya.

7. Tidak punya empati. Tak mampu atau tak rela untuk mengenali atau mengakui perasaan dan kebutuhan orang lain.

8. Terus-menerus cemburu terhadap orang lain atau percaya bahwa orang lain mempunyai perasaan cemburu yang sama terhadapnya.

9. Sangat arogan, kelakuan atau sikap sombongnya digabung dengan kemurkaan jika merasa frustasi, ditentang atau dilawan [1]

Semua ciri ini ada dalam diri Muhammad. Di luar dari pemikiran dia adalah utusan Tuhan dan Nabi penutup, (Sura 33:40) Muhammad menganggap dirinya sebagai Khayru-l-Khalq “Ciptaan paling baik,” “Suri Tauladan,” (Sura 33:21) dan secara tegas dan mutlak mengisyaratkan sebagai “lebih tinggi beberapa derajat dibanding nabi-nabi lain.” (Sura 2:253) Dia mengklaim sebagai “nabi yang lebih disukai,” (Sura 17:55) dikirim sebagai “rahmat bagi semesta alam,” (Sura 21:107) diangkat “ke tempat yang terpuji,” (Sura 17:79) sebuah posisi/tempat yang mana kata dia tak seorangpun kecuali dia yang mendapatkannya dan itu adalah menjadi perantara/intersesi di sebelah kanan Tuhan yang maha kuasa disebelah singgasana-Nya. Dengan kata lain, dia akan menjadi orang yang memberi nasihat pada Tuhan siapa yang harus dikirim ke neraka dan siapa yang dimasukkan ke Surga. Ini baru sedikit saja dari klaim-klaim yang dinyatakan sang Megalomania Muhammad tentang posisi tingginya, seperti yang dilaporkan dalam Quran.

Berikut ini adalah dua ayat yang mengungkapkan dengan jelas rasa ‘pentingnya diri’ dan ‘kebesaran’ Muhammad.

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Sura 33.56).

“Supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkanNya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (Sura 48.9)

Ia begitu terkesan dengan dirinya sendiri, hingga dia taruh kalimat berikut ini ke dalam mulut Makhluk Allah bonekanya:

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (Sura 68.4) dan “untuk jadi cahaya yang menerangi.” (Sura 33.46).

Ibn Sa’d melaporkan Muhammad berkata:

“Diantara semua bangsa didunia Tuhan memilih bangsa Arab. Dari antara bangsa Arab Dia memilih Kinana. Dari Kinana dia memilih Suku Quraish (sukunya Muhammad). Dari suku Quraish Dia memilih Bani Hashim (klannya). Dan dari Bani Hashim Dia memilih Aku.” [2]

Yang berikut adalah beberapa klaim dari Muhammad yang dia katakan sendiri dalam Hadits.

· Hal pertama yang dibuat Allah Maha Kuasa adalah jiwaku.

· Pertama dari segala hal, Allah menciptakan jiwaku.

· Aku dari Allah, dan orang-orang percaya adalah dariku. [3]

· Seperti Allah menciptakanku agung, dia juga memberiku karakter Agung.

· Kalau bukan karena kau, [O Muhammad] Aku tidak akan menciptakan jagat raya. [4]

Bandingkan itu dengan perkataan Yesus, yang ketika seseorang memanggilnya “guru yang baik,” dia keberatan dan berkata, “Kenapa kau panggil aku baik? Tak ada seorangpun yang baik – kecuali Tuhan saja.” [5] Hanya seorang narsisis patologis yang bisa begitu terpisah dari kenyataan hingga mengaku jagat raya diciptakan karena dia saja.

Bagi orang biasa, seorang narsisis mungkin kelihatan begitu percaya diri dan terampil. Dalam kenyataan dia menderita rasa kurang percaya diri yang sangat besar dan butuh suplai pujian, pujaan dan kemuliaan dari luar.

Dr. Sam Vaknin adalah penulis Malignant Self-Love (Cinta Diri Sendiri yang membahayakan). Dia sendiri mengaku sebagai seorang narsisis dan mungkin karenanya, dapat dianggap sebagai otoritas akan subjeknya. Vaknin menjelaskan:

Setiap orang adalah seorang narsisis, sampai tahap tertentu. Narsisisme adalah sebuah fenomena yang sehat. Hal itu membantu perjuangan hidup. Perbedaan antara narsisisme patologis/penyakit dan yang sehat adalah, tentu saja, dalam ukurannya. Narsisisme Patologis… dicirikan dengan sangat kurangnya rasa empati. Orang narsisis menganggap dan memperlakukan orang lain sebagai objek untuk dieksploitasi. Dia mempergunakan mereka untuk mendapatkan suplai narsisistiknya. Dia percaya bahwa dia berhak untuk diperlakukan dengan spesial karena dia mengandung banyak khayalan agung tentang dirinya. Orang narsisis TIDAK sadar diri. Kesadaran/pengertiannya dan emosinya menyimpang…Orang narsisis berbohong pada dirinya sendiri dan pada orang lain, memproyeksikan “ketidak-tersentuhan,’ kekebalan emosional dan perasaan tak terkalahkan… Bagi seorang narsisis segala hal lebih besar daripada kehidupan itu sendiri. Jika dia bersikap sopan, maka dia melakukannya dengan sangat…sangat… sopan. Janji-janjinya sangat aneh, kritikannya mengandung kekerasan dan tak menyenangkan, kemurahan hati sama sekali tidak ada… Orang narsisis adalah ahli menyamar/menyembunyikan sesuatu. Dia seorang yang memikat hati, aktor berbakat, pesulap dan seorang sutradara baik bagi dirinya maupun bagi lingkungannya. Sangat sulit sekali utk membuka kedoknya pada pertemuan pertama. [6]

Cult (aliran pemujaan) dari Seorang Narsisis

Seorang narsisis membutuhkan pengagum. Dia menarik lingkaran khayal di sekeliling dirinya, dimana dia menjadi pusatnya. Dia mengumpulkan para fans dan pengikutnya ke dalam lingkaran tersebut, menghadiahi mereka dan mendorong mereka untuk menjadi seorang penjilat terhadap dirinya. Mereka yang jatuh keluar lingkaran, dia anggap sebagai musuhnya. Vaknin menjelaskan:

Seorang Narsisis adalah guru/pemimpin spiritual pada pusat sebuah pemujaan (cult). Seperti guru-guru lainnya, dia menuntut kepatuhan total dari jemaahnya: istrinya, anaknya, anggota keluarga lainnya, teman-teman dan kolega-kolega. Dia merasa berhak untuk dipuja dan diperlakukan spesial oleh para pengikutnya. Dia menghukum orang yang tidak patuh dan domba-domba yang tersesat. Dia memaksakan disiplin, ketaatan pada ajaran-ajarannya dan tujuan-tujuannya. Semakin kurang prestasi yang dia capai dalam kenyataan – semakin keras penguasaannya dan semakin meresap pencucian otaknya.

Kontrol dari orang-orang narsisis didasarkan pada kemenduaan, pendirian yang tidak dapat ditebak, ketidakjelasan dan penyalahgunaan situasi. [7] Tingkahnya yang berubah-ubah secara eksklusif mendefinisikan benar lawan salah, yang diinginkan dan yang tidak diinginkan, apa yang harus dicapai dan apa yang harus dihindarkan. Dia sendiri menetapkan apa yang benar dan kewajiban-kewajiban dari para pengikutnya dan mengubah-ubah mereka semau dia.

Orang narsisis adalah seorang manajer mikro. Dia memaksa untuk mengatur semua rincian yang detil dan segala tindak-tanduk. Dia menghukum dengan kejam dan menganiaya mereka yang menahan informasi dan mereka yang gagal utk memenuhi harapan dan tujuannya.

Orang narsisis tidak menghormati batas-batas dan privasi dari para pengikutnya yang terpaksa. Dia mengabaikan harapan-harapan mereka dan memperlakukan mereka sebagai objek atau alat untuk kepuasan diri. Dia berusaha untuk mengontrol baik situasi maupun orang-orangnya secara paksa.

Dia dengan keras tidak menyetujui otonomi dan kemandirian orang lain. Bahkan aktivitas yang tidak berbahaya, seperti bertemu teman atau mengunjungi keluarga perlu mendapat ijinnya dulu. Secara perlahan, dia mengisolasi mereka yang dekat dengannya sampai mereka sepenuhnya tergantung pada dia secara emosional, seksual, finansial dan social.

“Dia berlaku dalam sebuah cara seakan menjadi pelindung dan sekaligus merendahkan dan sering mengkritik. Dia berpindah-pindah dari menekankan kesalahan-kesalahan detil (merendahkan) dan melebih-lebihkan bakat-bakat, perlakuan-perlakuan dan kemampuan-kemampuan dari anggota cultnya. Dia tidak realistis dalam pengharapan-pengharapannya, lalu mengabsahkan penganiayaan setelahnya. [8]

Muhammad menciptakan sebuah kebohongan besar yang oleh para pengikutnya dipercaya sebagai kebenaran yang mutlak. Bahayanya adalah bahwa mereka, seperti juga orang-orang yang percaya pada kebohongan Hitler, adalah para pengikut yang ikut secara sukarela.

Dalam bab sebelumnya, dimana kita baca pengenalan pada Muhammad, kita lihat bagaimana dia pisahkan para pengikutnya dari keluarga-keluarga mereka dan tahap kontrol yang dia paksakan pada kehidupan pribadi mereka. Situasi ini tidak berubah banyak bahkan setelah 1400 tahun. Saya telah menerima banyak kisah menyedihkan dari orang tua yang mengatakan bahwa anak mereka masuk Islam dan sekarang dikelilingi oleh muslim yang membujuk mereka agar jangan mengunjungi orang-tua mereka.

Pesan/Alasan sang Narsisis

Orang narsisis tahu bahwa mengiklankan diri mereka secara langsung akan terlihat sebagai hal yang menjijikkan dan akan ditolak. Oleh karena itu, dia menyajikan diri sebagai orang yang sederhana, sebagai orang yang hampir tidak menonjolkan diri, orang yang melayani Tuhan, kemanusiaan atau alasan, apapun kasusnya. Di belakang semua kedok ini terdapat sebuah tipu daya yang jelas. Orang narsisis ‘memberkati’ para pengikutnya dengan sebuah ALASAN/PESAN, yang begitu besarnya, begitu agung hingga mereka tidak bisa jadi apa-apa tanpa itu. Melalui muslihat dan manipulasi, pesan ini jadi begitu penting daripada nyawa orang-orang yang akan menjadi para pemercaya. Begitu dahsyatnya mereka dicuci otaknya hingga mereka rela mati dan tentu saja, rela membunuh untuk itu. Orang narsisis mendorong pengorbanan – semakin banyak, semakin baik. Lalu dia memunculkan dirinya sebagai poros dari pesan itu. Pesan-pesan ini berputar-putar di sekeliling dia. Adalah dia saja, yang bisa membuatnya terjadi dan yang akan memimpin para pengikutnya ke Tanah Perjanjian. Pesan kolosal ini tidak dapat hidup tanpa si narsisis. Dia, dengan demikian menjadi orang yang paling penting sedunia.

Begitulah caranya pemimpin aliran sesat yang narsisis memanipulasi para pengikutnya. Pesan itu hanya sebuah alat untuk tujuan akhir mereka. Bisa apa saja. Bagi Jim Jones, orang yang mengajak 911 orang melakukan bunuh diri masal di Guyana, ‘keadilan sosial’ adalah pesannya, dan dia adalah mesias bagi pesan itu.

Hitler memilih sosio-nasionalisme sebagai pesannya. Dia tidak secara terbuka memuji-muji dirinya sendiri, tapi malah memakai pesan arianisme dan superioritas bangsa Jerman. Dia, tentu saja, adalah seorang pengilham yang tidak tergantikan dan fuehrer bagi pesan itu.

Bagi Stalin pesannya adalah komunisme. Siapapun yang tidak setuju dengannya sama dengan menentang proletariat dan harus dibunuh.

Muhammad tidak meminta para pengikutnya untuk memuja dia. Malah dia mengklaim ‘hanya utusan saja.” Sebagai gantinya dia menuntut kepatuhan, dengan tangkasnya meminta para pengikutnya untuk taat pada “Allah dan UtusanNya.” Dalam sebuah ayat Quran, dia taruh perkataan berikut dalam mulut Allahnya:

“Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: "Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman" (Sura 8.1)

Karena Allah tidak perlu barang-barang curian dari sekelompok orang Arab, semua harta rampasan perang itu secara otomatis harus masuk kepada wakilnya, sang utusan. Karena tidak ada seorangpun yang bisa melihat atau mendengar Allah, semua kepatuhan adalah kepada Muhammad. Dialah yang harus ditakuti karena hanya dia satu-satunya perantara dari Tuhan yang paling ditakuti ini yang mana telah dia peringatkan hal ini pada orang-orangnya. Allah sangat perlu bagi Muhammad untuk mendominasi. Tanpa percaya pada Allah, maukah para pengikutnya yang dungu mengorbankan nyawa mereka, membunuh orang, termasuk keluarga mereka sendiri, menjarah orang, dan memberikan semuanya pada dia? Allah khayalannya ini adalah alat dominasi bagi Muhammad. Allah adalah pribadi lain dari Muhammad sendiri, sebuah alat yang enak. Ironisnya Muhammad berkhotbah tentang larangan mempersekutukan Allah, ketika, dalam kenyataannya, dia bersekutu dengan Allah dalam cara yang membuat mereka secara logika dan praktek tidak bisa dipisahkan.

Orang narsisis perlu sebuah alasan untuk mengekang pengikut-pengikut mereka. Orang Jerman tidak berperang bagi Hitler. Mereka melakukannya karena alasan yang Hitler jejalkan pada mereka.

Dr. Sam Vaknin menulis: “Orang narsisis memakai apa saja yang bisa mereka ambil dalam usaha mendapatkan suplai narsisistik mereka. Jika Tuhan, kepercayaan, gereja, iman, dan agama yang resmi dapat memberi mereka suplai narsisis ini, mereka akan menjadi taat. Mereka akan meninggalkan agama jika hal itu tidak memberi mereka suplai ini.” [9]

Islam adalah sebuah alat untuk mendominasi. Setelah Muhammad, orang-orang lain memakai alirannya untuk tujuan yang persis sama. Para Muslim menjadi boneka di tangan para pemimpin mereka yang menyebut-nyebut Islam.

Mirza Malkam Khan, (1831-1908) seorang Armenia yang masuk Islam dan bersama dengan Jamaleddin Afghani meluncurkan ide sebuah “Islamic Renaissance” (An-Nahda/Kebangunan kembali Islam), punya sebuah slogan sinis yang tak ada tandingannya: “Katakan pada para Muslim apa saja yang berasal dari Quran, dan mereka akan bersedia mati bagimu.”

Orang Narsisis ingin meninggalkan Warisan

Menjelang ajalnya, Muhammad meminta para pengikutnya agar jangan diam saja, dan memaksa mereka terus mendesak dan meneruskan jihad untuk menaklukkan. Genghis Khan memberikan perintah yang sama pada anaknya ketika ia menjelang kematiannya. Dia mengatakan bahwa dia ingin menaklukkan dunia, tapi karena dia tidak bisa melakukannya lagi, merekalah yang harus memenuhi mimpinya. Orang Mongol saat itu, seperti para muslim, adalah para peneror. Bagi orang narsisis, yang penting adalah menang. Mereka tidak punya hati nurani. Bagi mereka, nyawa manusia itu murah.

Pada tahun 1940, Hitler diumur 51 tahun, menyadari adanya tremor di tangan kirinya. Dia biasa menyembunyikannya dengan memasukkan tangan kiri ke saku bajunya, dengan memegang benda, atau dengan mengepalkan tangan kiri ke tangan kanannya. Ketika penyakit itu bertambah parah, dia menjauh dari khalayak ramai. Dia sadar kematiannya sudah dekat. Dia menjadi makin tegas, melancarkan serangan-serangannya dengan pengertian baru yang seakan diburu waktu, tahu bahwa dia berpacu dengan waktu. Orang narsisis selalu ingin meninggalkan warisan.

Salah sekali jika berpikir Islam sebagai sebuah agama. Aspek spiritual atau religius dari Islam diciptakan belakangan oleh filsuf-filsuf Muslim dan mistik-mistik yang memberi tafsir esoterik pada perkataan-perkataan yang dangkal dari Muhammad. Para pengikutnya membentuk agama sesuai dengan keinginan mereka, dan seiring berlalunya waktu, tafsir-tafsir itu mewarisi segel antik dan dengan demikian juga kredibilitas.

Jika Islam adalah sebuah agama, maka begitu juga dengan nazisme, komunisme, satanisme, Heaven’s Gate, People’s Temple, Branch Davidian, dan lain-lain. Jika kita memikirkan agama sebagai sebuah filosofi kehidupan untuk diajarkan, untuk mengeluarkan potensi manusia, untuk mengangkat jiwa, untuk merangsang secara spiritual, untuk menyatukan hati dan mencerahkan umat manusia, maka Islam pastinya gagal dalam ujian-ujian tersebut sepenuhnya, dan dengan demikian Islam adalah, memakai ukuran ini, tidak seharusnya dianggap sebagai sebuah agama, dan tidak bisa dianggap sebagai sebuah agama.

Orang Narsisis ingin jadi Tuhan

Bagi orang narsisis, yang paling penting adalah kekuasaan. Dia ingin dihormati, dikenal, dan tidak diabaikan. Orang narsisis adalah orang yang kesepian, tidak merasa aman dan merasa malu. Hasrat terbesar mereka adalah untuk memuaskan kebutuhan mereka akan rasa hormat dan perhatian yang mereka terima sebagai penyampai dari pesan-pesan yang mulia. Pesannya itu sendiri tidaklah penting. Pesan itu hanya alasan saja. Orang narsisis menciptakan Tuhan-tuhan khayalan dan pesan-pesan palsu yang menempatkan diri mereka sendiri sebagai wakil resmi dari pesan-pesan tersebut. Semakin mereka mengagungkan Tuhan palsu mereka, semakin besar kekuasaan yang mereka dapatkan bagi mereka.

Allah bagi Muhammad adalah sebuah alat yang nyaman untuk memanipulasi orang. Melalui dia, dia bisa mendapat wewenang tak terbatas terhadap para pengikutnya. Dia menjadi tuan atas nyawa mereka. Hanya ada satu Tuhan, maha kuasa, ditakuti, juga murah hati dan pengampun, dan dia, Muhammad, adalah satu-satunya yang menjadi penghubung antara Dia dan manusia. Ini membuat Muhammad menjadi wakil Allah. Meski kepatuhan seharusnya untuk Allah turun kepada dia, dalam kenyataannya, selalu Muhammad dan setiap tingkahnyalah yang berharap untuk dipuaskan oleh para pengikutnya. Dr. Vaknin menjelaskan:

Menjadi Tuhan adalah yang paling diinginkan oleh seorang Narsisis: maha kuasa, maha tahu, ada dimana-mana, dipuja, dibicarakan, dan membangkitkan rasa hormat. Menjadi Tuhan adalah mimpi basahnya orang narsisis, khayalan terhebatnya. Tapi Tuhan berguna dalam banyak hal juga.

Narsisis berubah-ubah, mengidealkan dan meremehkan figur otoritas.

Dalam fase idealisasi, dia berusaha menyamai mereka, dia mengagumi mereka, meniru mereka (sering secara menggelikan), dan membela mereka. Mereka tidak bisa salah atau boleh salah. Orang narsisis menganggap mereka lebih besar dari hidup itu sendiri, sempurna, lengkap dan brilian. Tapi ketika harapan-harapan sang narsisis yang tidak realistis dan kempes menghadapi kegagalan, dia mulai meremehkan bekas idolanya itu.

Sekarang mereka menjadi “manusia” (bagi sang narsisis ini adalah sebuah hal yang hina). Mereka makhluk kecil, rapuh, mudah salah, penakut, kejam, bodoh dan biasa-biasa saja. Sang narsisis menjalani siklus yang sama dalam hubungannya dengan Tuhan, figur otoritas tauladannya.

Tapi seiring, bahkan ketika kekecewaan dan keputus-asaan tentang penyembahan muncul, - sang narsisis terus berpura-pura cinta pada Tuhan dan masih mentaati-Nya. Sang narsisis mempertahankan penipuan ini karena posisinya sebagai wakil Tuhan membuat dia punya wewenang. Para pendeta, pemimpin jemaah, pengkhotbah, penginjil, aliran pemuja, politisi, kaum intelektual, semua memperoleh wewenang dari yang katanya ‘hubungan khusus mereka dengan Tuhan’.

Otoritas religius membuat sang narsisis menuruti keinginan sadisnya dan untuk menjalankan misogyny (kebenciannya terhadap wanita) secara terbuka dan bebas… Sang Narsisis, yang sumber berwenangnya adalah religius, mencari para budak yang patuh dan tidak banyak tanya yang mana kemudian dia jalankan keahlian tipu dan keinginannya itu pada mereka. Sang narsisis bahkan bisa mengubah sentimen religius murni dan tidak berbahaya menjadi sebuah ritual pemujaan dan hirarki yang berbahaya. Dia memangsa orang-orang yang mudah dibujuk. Para pengikutnya sekaligus jadi sanderanya.

Otoritas religius juga mengamankan ‘Suplai narsisistik’ sang narsisis. Para pengikutnya, anggota jemaahnya, para pemilihnya, para pendengarnya – semua diubah menjadi Sumber Suplai Narsisistik yang setia dan stabil. Mereka mematuhi perintah-perintahnya, memperhatikan tegurannya, mengikuti syahadatnya, mengagumi pribadinya, memuji sifat-sifatnya, memuaskan kebutuhannya (kadang bahkan kebutuhan seksualnya), memuja dan mengidolakannya.

Selain itu, menjadi bagian dari “Hal yang Lebih Besar” sangat memberi kepuasan secara narsisistikal. Menjadi partikel Tuhan, menjadi satu dengan keagungan-Nya, mengalami sendiri kekuasaan dan berkat-Nya langsung, hidup bersama Dia – semuanya adalah Sumber Suplai Narsisistik yang tak ada habisnya. Sang narsisis menjadi Tuhan dengan memperhatikan perintah-perintah-Nya, mengikuti Instruksi-Nya, mencintai-Nya, mematuhi-Nya, mengalah pada-Nya, menyatu dengan-Nya, berkomunikasi pada-Nya – atau bahkan dengan menantang-Nya (semakin besar musuh sang narsisis – semakin merasa lebih pentinglah sang narsisis).

Seperti juga hal lain dalam kehidupan sang narsisis, dia mengubah Tuhan menjadi semacam kebalikan dari si narsisis. Tuhan menjadi sumber suplainya yang dominan. Dia bentuk hubungan pribadi dengan entitas lebih kuasa dan lebih melimpah ini – untuk melimpahi dan menguasai yang lain. Dia menjadi Tuhan itu sendiri, dengan menjadi wakil-Nya. Dia mengidealkan Tuhan lalu meremehkan Dia, kemudian menganiaya-Nya. Ini adalah sebuah pola narsisistik yang klasik dan bahkan Tuhan sendiri tidak akan bisa lolos dari hal ini. [10]

Orang narsisis tidak secara langsung mempromosikan diri mereka sendiri. Mereka bersembunyi dibelakang lapisan kesederhanaan, sementara mereka mengangkat Tuhan mereka, ideologi, pesan atau agama, yang dalam kenyataannya adalah alter ego dia sendiri. Mereka mungkin menyebut mereka sendiri sebagai ‘cuma utusan’, sederhana, rendah hati, tanpa penonjolan diri, dari Tuhan yang Maha Kuasa, atau pesan yang sangat berpengaruh, tapi mereka membuat sangat jelas bahwa mereka sajalah yang tahu pesan-pesan-Nya dan sangat tidak toleran dan tanpa maaf bagi orang yang ingkar dan melawan.

Orang narsisis sangat kejam, tapi tidak bodoh. Mereka sangat sadar akan rasa sakit yang mereka sebabkan. Mereka menikmasi sensasi kuasa yang mereka dapatkan dengan menyakiti orang lain. Mereka menikmati jadi Tuhan – menentukan siapa yang diberi hadiah dan siapa yang dihukum – siapa yang hidup siapa yang mati. Narsisisme Patologis menjelaskan segala hal yang ada dalam diri Muhammad – kekejamannya, pengakuan maha hebatnya, kelakuan murah hatinya yang dilakukan utk membuat terkesan mereka yang takluk padanya dan dengan demikian membangun superioritas dia, keyakinan dirinya, juga pribadi karismatik dan keranjingannya.



Apa yang menyebabkan Narsisisme?

Pertanda dari seorang narsisis adalah berkembangnya penyakit superioritas sebagai respon akan perasaan rendah diri. Hal ini melibatkan pembesar-besaran prestasi seseorang dan merendahkan orang lain yang dianggap ancaman bagi sang narsisis.

Kesalahan asuh orang tua menjadi penyebab terbesar adanya penyakit narsisistik ini dalam seorang anak. Contohnya, orang-tua yang serba membolehkan yang memberi pujian berlebih-lebihan pada sang anak, terlalu menuruti keinginan dan memanjakan sang anak, gagal menerapkan disiplin, dan mengidealisasi si anak menjadi faktor-faktornya. Hasilnya, sang narsisis secara umum merasa tidak siap untuk masa dewasa, setelah dibesarkan dalam pandangan hidup yang tidak realistik. Sebaliknya, seorang anak yang tidak menerima dukungan dan dorongan yang cukup bisa juga mengidap penyakit narsisistik.

Kita tahu bahwa Muhammad ketika bayi diberikan dan dibesarkan oleh orang lain. Apakah ibunya tidak tertarik padanya? Kenapa dia tidak pernah berdoa di kubur ibunya bahkan sampai dia sudah berumur 60 tahun lebih? Apakah dia masih benci pada ibunya?

Halima tidak mau mengurus bayi Muhammad karena dia adalah anak yatim dari seorang janda miskin dan penghasilan dia kecil. Apa ini mempengaruhi cara dia atau keluarga memperlakukan Muhammad? Anak-anak bisa sangat kejam. Menjadi anak yatim di jaman itu adalah sebuah aib, seperti juga sekarang masih menjadi aib di Negara-negara Islam. Kondisi masa kecil Muhammad tidak kondusif untuk membentuk rasa menghargai diri sendiri yang sehat.

Jon Mardi Horowitz, penulis dari Stress Response Syndromes,menjelaskan: “Ketika kepuasan narsisistik yang jadi kebiasaan karena seringnya dipuji, diberikan perlakuan khusus dan mengagumi diri sendiri terancam, hasilnya mungkin adalah depresi, sedih tanpa alasan, gelisah, malu, merusak diri sendiri atau kemarahan yang diarahkan pada orang yang bisa jadi sasaran kesalahan atas situasi tersebut. Anak-anak bisa belajar untuk menghindari kondisi emosi menyakitkan ini dengan belajar memproses informasi narsisistik ini.” [11]

Muhammad, tentunya, punya masa kecil yang sulit. Dalam Sura 93 ayat 3-8, (dikutip pada awal bab satu buku ini) dia dengan halus mengingat masa yatimnya yang penuh kesepian dan meyakinkan dirinya bahwa Allah akan baik padanya dan tidak akan meninggalkan dia. Ini menunjukkan betapa ingatan akan masa kecil yang banyak itu menyakitkannya. Fakta bahwa Muhammad menciptakan dunia khayalan untuk lepas dari kenyataan, begitu hidup khayalan itu hingga menakuti orang tua angkatnya, adalah petunjuk lain bahwa masa kecilnya tidaklah menyenangkan sama sekali. Muhammad mungkin tidak ingat rincian apa yang terjadi pada tahun pertama kehidupannya, tapi jelas dia mendapat luka psikologis sepanjang hidupnya. Bagi dia, dunia khayalan yang dia ciptakan itu nyata. Menjadi pengungsian yang aman baginya, sebuah tempat menyenangkan untuk mengundurkan diri dan lepas dari kenyataan. Dalam dunia khayalannya, dia bisa dicintai, dihormati, dikagumi, berkuasa, penting dan bahkan ditakuti. Dia bisa menjadi apapun yang dia inginkan dan mengimbangi kekurang perhatian yang dia dapatkan dari dunia di luarnya.

Menurut Vaknin, “penyebab yang sebenarnya dari Narsisisme tidak sepenuhnya dimengerti tapi jelas dimulai dari awal masa kecil (sebelum umur 5 tahun). Hal itu dipercaya disebabkan oleh kegagalan yang berulang-ulang dan serius pada pihak Objek Primer sang anak (orang tua atau pengasuh). Orang Narsisis dewasa sering berasal dari rumah tangga dimana salah seorang atau kedua orang tuanya mengabaikan dia atau menganiaya sang anak… SEMUA anak (sehat atau tidak) ketika mereka tidak diijinkan untuk melakukan sesuatu oleh orang-tuanya kadang akan memasuki kondisi narsisistik dimana mereka melihat diri mereka sendiri dan bertindak seakan mereka begitu berkuasa/sangat kuat. Ini alamiah dan sehat karena hal ini membuat kepercayaan diri pada sang anak untuk berkaca dari penolakan orang tua. [12]

Anak-anak yang diabaikan menyerap sebuah perasaan kekurangan. Mereka jadi percaya bahwa mereka itu tidak pantas diperhatikan dan dicintai. Sebagai reaksi terhadap hal itu, mereka cenderung membela ego mereka dengan membanggakan diri secara berlebihan. Mereka melihat kelemahan diri mereka dan merasa bahwa jika orang lain melihat hal itu, mereka tidak akan dicintai, dikagumi dan dihormati. Jadi mereka berbohong dan menciptakan kisah-kisah fantastik, menyombongkan diri mereka sendiri, betapa penting diri mereka. Kekuatan khayal mereka sering berasal dari sumber diluar diri mereka. Bisa ayah mereka atau teman yang kuat. Narsisisme jenis ini pada anak-anak adalah normal, tapi jika mereka mempertahankan pemikiran ini hingga mereka dewasa, hal itu akan berkembang menjadi penyakit kepribadian narsistik. Pada Muhammad, sumber kekuatan luarnya tidak lain adalah Allah, yang paling kuat, paling ditakuti dan maha kuasa. Dengan menghubungkan dirinya dengan Allah dan menyajikan dirinya sebagai perantara tunggal, dia mendapatkan kuasa Allah itu sendiri.

Setelah kematian ibunya, ketika Muhammad berumur enam tahun, dia ada di bawah didikan dari kakeknya yang sudah tua, yang memanjakan dia. Dalam beberapa hadits ditunjukkan, Abdul Muttalib terlalu penurut dan selalu membolehkan cucu yatimnya itu. Muhammad kecil akan duduk pada tikar di sebelah sang kakek sementara paman-pamannya mengelilingi mereka.

Pengakuannya bahwa Abdul Muttalib berkata pada pamannya Abu Talib, “Biarkan dia karena dia punya nasib yang besar, dan akan menjadi pewaris sebuah kerajaan,” atau berkata pada perawatnya, “Berhati-hatilah jangan sampai dia jatuh ke tangan orang Yahudi atau Kristen, karena mereka mencari-cari dia dan bermaksud melukainya!”, jelas-jelas cuma isapan jempolnya belaka. Itu semua adalah kebohongan yang dia karang dan mungkin juga jadi dipercayainya. Ini adalah ciri khas khayalan seorang narsisis, yang berpikir bahwa diri mereka begitu pentingnya hingga mereka percaya orang lain memburu untuk melukainya karena cemburu. Meskipun demikian, jelas bahwa Abdul Muttalib membuat Muhammad merasa spesial. Dia manjakan dan cintai cucu yatimnya itu. Sang kakek memanjakannya karena kasihan. Tapi, Muhammad menafsirkan perhatian ekstra ini sebagai konfirmasi dari angan-angan maha hebatnya. Bayangan yang dia ciptakan mengenai dirinya sendiri dalam sebuah dunia fantasi di masa kecil dengan demikian diperparah oleh pemanjaan berlebihan dari kakeknya. Dia seakan lebih dipastikan lagi sebagai orang spesial, unik dan luar biasa.

Setelah kematian Abdul Muttalib, pamannya yang baik hati, Abu Talib, juga memperlakukannya berbeda dari yang lain. Statusnya sebagai yatim, tanpa orang tua atau saudara, mengundang rasa simpati. Baik kakek maupun pamannya terlalu memanjakan dan menurut pada dia. Mereka gagal menerapkan disiplin yang cukup padanya. Semua keluarbiasaan ini menyumbang pada perkembangan pribadi narsisistiknya. Pakar psikologi J. D. Levine dan Rona H. Weiss menulis:

Seperti kita ketahui, dari sudut pandang fisiologi, bahwa seorang anak perlu diberi makanan secukupnya, yang dia perlukan untuk melindungi dari temperatur yang ekstrim, dan bahwa atmosfir yang dia hirup harus berisi oksigen yang cukup, jika tubuhnya mau menjadi kuat dan ulet, jadi kita juga tahu, dari sudut pandang psikologi yang lebih dalam, bahwa dia memerlukan suasana yang empatik, khususnya, sebuah suasana yg menjawab (a) kebutuhan agar keberadaannya diakui dalam semangat kesenangan orang-tuanya dan (b) kebutuhan untuk bersatu ke dalam ketenangan yang meyakinkan dari orang dewasa yang lebih kuat, jika dia dirinya mau menjadi teguh dan ulet. [13]

Muhammad mendapat pengalaman diabaikan dan disia-siakan pada enam tahun pertama kehidupannya, dan pemanjaan yang berlebihan setelah itu. Keadaan dia ini dengan demikian membuatnya matang dan kondusif untuk menjadi seorang narsisis.

Muhammad tidak pernah membicarakan ibunya. Jika dia pernah membicarakannya, pastilah ada tercatat dalam hadits. Dia kunjungi makam ibunya setelah menaklukan Mekkah, tapi dia menolak untuk berdoa baginya. Apa tujuan dari kunjungannya itu? Mungkin ini adalah usaha untuk memulihkan nama baiknya, sebuah cara untuk membuktikan pada ibunya bahwa meski dia disia-siakan, dia telah berhasil. Di lain pihak dia ingat kakeknya, yang menghujaninya dengan cinta dan memberinya kelimpahan pujian bagi jiwa narsisisnya, dengan penuh sayang.

Para psikolog mengatakan pada kita bahwa lima tahun pertama kehidupan seorang anaklah yang membentuknya atau merusaknya. Kebutuhan emosional Muhammad di masa lima tahun pertama kehidupannya tidak dipenuhi. Dia membawa kenangan menyakitkan akan tahun-tahun kesepian karena diabaikan dan disia-siakan ke dalam masa dewasa dan masa tua. Dia tumbuh dengan kegelisahan dan punya rasa pengertian terhadap dirinya sendiri yang berfluktuasi, sebuah kelemahan yang dia coba sembunyikan dengan melebih-lebihkan kesombongan lewat pertumbuhan rasa punya hak, keagungan, kekurangan empati dan ilusi superioritas.

Muhammad memilih Allah sebagai pasangannya. Sekutu khayalannya ini maha kuasa dan maha kuat. Ini membuat dirinya kuat tanpa batas. Dialah satu-satunya yang punya akses langsung ke Allah dan dialah satu-satunya penguasa di bumi. Agar yakin tak seorang pun merampas posisinya, dia juga mengklaim sebagai nabi terakhir. Kekuasaannya, dengan demikian, menjadi mutlak dan kekal.

Pengaruh Khadijah terhadap Muhammad

Peran Khadijah dalam Islam belum sepenuhnya dihargai. Pengaruhnya pada Muhammad tidak dapat ditekankan secara berlebihan. Khadijah harusnya dianggap sebagai partnernya Muhammad dalam kelahiran Islam. Tanpa dia, mungkin, Islam tidak akan pernah ada.

Kita tahu bahwa Khadijah memuja suami mudanya. Tidak ada laporan bahwa Muhammad pernah bekerja setelah menikahi Khadijah. Setelah pernikahan, bisnis Khadijah kelihatannya menurun tajam. Ketika dia meninggal, keluarganya menjadi melarat.

Muhammad tidak mengurus anak-anaknya juga. Ditolak oleh dunia nyata, dia habiskan waktunya sendiri dalam gua-gua, mengundurkan diri ke dunia khayalan dan renungan. Kadang dia membawa makanan untuk persediaan berhari-hari, dan kembali hanya ketika makanan sudah habis. Lalu dia akan menuju ke kota, mengambil bekal lagi dan kembali ke gua.

Khadijah tinggal di rumah mengurus kesepuluh anaknya sendirian. Tapi dia tidak mengeluh. Dia tidak saja mengurus anak-anaknya dan rumah tapi juga suami mudanya, yang bertingkah-laku seperti anak kecil yang tidak bertanggung jawab. Tapi Khadijah senang berkorban. Kenapa?

Ini adalah pertanyaan yang penting! Jawabannya adalah bahwa Khadijah sendiri punya kelainan kepribadian. Dia punya penyakit yang di jaman kita sekarang disebut co-dependent (ketergantungan). Pengetahuan ini akan menolong kita untuk mengerti mengapa dia berdiri di samping suaminya dan mendorong dia melanjutkan karir kenabiannya.

The National Mental Health Association (NMHA) mendefinisikan co-dependency sebagai: “Kelakuan yang dipelajari yang bisa diturunkan dari satu generasi ke generasi lain. Hal ini adalah sebuah kondisi perangai dan emosi yang mempengaruhi kemampuan seorang individu untuk mendapat hubungan yang memuaskan kedua belah pihak dan sehat. Juga dikenal sebagai “relationship addiction” (ketagihan hubungan) karena orang dengan co-dependency sering membentuk atau mempertahankan hubungan yang satu pihak saja, yang secara emosional merusak dan/atau menghina. Penyakit ini pertama kali diidentifikasi sekitar 10 tahun lalu dari hasil bertahun-tahun mempelajari hubungan-hubungan antar manusia dalam keluarga alkoholik. Kelakuan Co-dependent dipelajari dengan mengamati dan meniru anggota keluarga lain yang menunjukkan kelakuan tipe ini.” [14]

Khadijah adalah seorang wanita yang menarik. Dia anak perempuan favorit dari ayahnya Khuwaylid. Malah Khuwaylid bergantung padanya, melebihi ketergantungan terhadap anak laki-lakinya. Khadijah adalah “anak sang ayah.” Dia telah menolak tawaran orang-orang kuat di Mekah. Tapi ketika dia melihat anak muda ini yang tak dimiliki siapapun, Muhammad yang butuh uang, dia jatuh cinta padanya dan mengirim pembantu untuk memintanya melamar dia.

Pada permukaan kelihatannya bahwa Muhammad punya pribadi yang memikat yang membuat wanita berkuasa terpukau. Ini, betapapun, adalah sebuah pengertian yang dangkal mengenai dinamika kompleks.

Tabari menulis: “Khadijah mengirim pesan pada Muhammad, mengundangnya untuk mengambil dia. Dia memanggil ayah untuk datang ke rumahnya, memberinya arak hingga mabuk, memberi parfum, memakaikan pakaian pesta padanya dan lalu memotong seekor sapi. Lalu dia undang Muhammad dan pamannya. Ketika mereka datang, ayahnya menikahkan Muhammad dengannya. Ketika dia sadar dari mabuknya, dia berkata “daging apa ini, parfum ini dan pakaian ini?” Dia menjawab, “kau telah menikahkanku pada Muhammad bin Abdullah”. “Aku tidak melakukan itu,” katanya. “Akankah kulakukan ini ketika orang-orang terhebat di Mekkah memintamu dan aku tidak setuju, kenapa aku berikan kau pada seorang gelandangan?” [15]

Pihak Muhammad menjawab dengan marah bahwa persekutuan ini telah diatur oleh anak perempuannya sendiri. Orang tua itu marah dan menarik pedang dan kerabat Muhammad juga menarik pedang mereka. Darah akan mengalir jika saja Khadijah tidak menyatakan cintanya pada Muhammad agar diketahui banyak orang dan mengaku telah mengatur semua ini. Khuwaylid lalu menenangkan diri, sampai akhirnya dia menyerah telah di fait accompli dan rekonsiliasi pun terjadi.

Khadijah adalah seorang wanita berhasil yang pesolek. Dia telah menolak lamaran dari banyak orang Quraish yang terkenal. Bagaimana orang menjelaskan seorang wanita yang kelihatan sukses dan berpikiran sehat mendadak jatuh cinta pada anak muda miskin yang 15 tahun lebih muda? Kelakuan aneh ini mengungkapkan adanya kelainan pribadi dalam diri Khadijah.

Bukti-bukti menandakan bahwa ayahnya Khadijah adalah seorang pemabuk. Khadijah mestinya tahu kelemahan ayahnya ini hingga dia merancang rencana yang begitu berani. Orang yang ketagihan alkohol cenderung lepas kontrol dan mabuk. Orang yang bukan pecandu alkohol minum secukupnya dan tahu kapan harus berhenti. Ketika Khuwaylid mabuk, pestanya belum dimulai dan para tamu belum lagi datang. Hal ini memberitahukan kita bahwa dia bukanlah peminum musiman saja tapi benar-benar peminum berat. Sekarang, kenapa hal ini jadi masalah? Karena ini adalah petunjuk lain untuk mendukung spekulasi bahwa Khadijah seorang yang mempunyai kecenderungan co-dependent. Anak seorang alkoholik sering mengembangkan co-dependency.

Ayahnya Khadijah terlalu melindungi anak perempuannya dan punya harapan-harapan yang tinggi baginya. Dari reaksinya akan pernikahan anaknya yang berumur 40 tahun dengan seorang yang biasa-biasa saja dan dari perkataannya “orang-orang terhebat di Mekkah memintamu dan aku tidak setuju,” jelas bahwa Khadijah adalah mutiara di matanya. Khuwaylid punya anak-anak yang lain juga, termasuk beberapa anak lelaki, tapi terlihat jelas bahwa anak perempuannya inilah yang menjadi kebanggaan dan kebahagiaannya. Anak ini satu-satunya yang berhasil.

Anak-anak yang dipuji dan ditempatkan di tempat tinggi oleh orang tua yang memujinya tumbuh dalam bayang-bayang mereka. Mereka sering mengembangkan ‘codependency personality disorder’. Mereka menjadi terobsesi oleh ayah mereka (atau ibu mereka) dan melihat fungsi mereka untuk membuat orang tua mereka terlihat hebat di mata orang lain. Mereka diharapkan jadi semacam ‘wunderkind’ (orang sukses).

Di bawah tuntutan yang terus menerus meminta kemampuan lebih baik, sang anak menjadi tidak mampu mengembangkan pribadi mandirinya. Dia mencari pemenuhan untuk memuaskan kebutuhannya dari orang tua narsisis dan perfeksionis. Dia tidak merasa dicintai APA ADANYA, tapi dicintai karena dilihat BAGAIMANA prestasinya. Orang tua yang alkoholik mengeluarkan semua muatan emosinya pada sang anak, khususnya yang punya potensi. Dia mengharap anak itu untuk cemerlang dalam segala hal dan menggantikan kekurangan dan kegagalan dia sendiri.

Co-dependent tidak dapat menemukan kepuasan dan kebahagiaan dari hubungan emosional yang normal dan sehat yang biasa terjadi diantara orang-orang sederajat. Hanya dalam kapasitas pemberi kesenangan dan menjadi penyenanglah orang codependent menemukan kebahagiaan mereka. Pasangan yang “cocok dan tepat” bagi orang codependent adalah seorang narsisis yang sangat butuh pemuasan.

Khadijah menolak para pelamarnya yang lebih dewasa dan sukses, jatuh cinta pada anak muda miskin yang sangat butuh baik uang maupun emosional. Codependent keliru mengartikan rasa cinta dan rasa kasihan. Mereka punya kecenderungan untuk ‘mencintai’ orang yang seharusnya mereka kasihani dan bisa mereka selamatkan.

Vaknin memakai istilah “self effacing” (tidak menonjolkan diri sendiri) atau “inverted narcissism” (narsisisme terbalik), untuk istilah co-dependency. Inilah apa yang dia katakan tentang hubungan codependent-narsisis: “Orang narsisis invert dikondisikan dan diprogram dari awal utk menjadi teman sempurna bagi sang narsisis – untuk memberi makan Ego mereka, untuk secara murni menjadi kepanjangan tangan mereka, utk mencari pujian dan pengelu-eluan dan jika hal itu menghasilkan pujian dan pemujaan yang lebih besar kepada sang narsisist.” [16]

Hal diatas menjelaskan kenapa seorang wanita sukses dan cantik seperti Khadijah tertarik pada seorang narsisis dan butuh uang seperti Muhammad. Meski orang ‘narsisis invert’ cenderung sukses dalam bisnisnya, hubungan mereka sering tidak sehat. Vaknin lebih lanjut menjelaskan: “dalam sebuah hubungan, narsisis invert berusaha utk menciptakan kembali hubungan orangtua-anak. Sang narsisis invert berkembang dengan meniru/bercermin pada ‘kehebatan khayal’ sang narsisis dan ketika melakukannya sang narsisis invert itu sendiri mendapatkan suplai bagi ego narsisistiknya SENDIRI (ketergantungan sang narsisis pada sang invert akan suplai narsisistik sekundernya). Sang invert mesti punya bentuk hubungan sedemikian dengan sang narsisis demi merasa lengkap dan terpenuhi. Sang invert akan sudi bertindak sejauh yang dibutuhkan untuk meyakinkan bahwa sang narsisis itu merasa bahagia, merasa disayangi, merasa dipuja dengan cukup, karena dia pikir hal itu sudah menjadi hak sang narsisis. Sang invert memuliakan sang narsisis, menempatkannya di tempat tinggi, memikul semua pengorbanan bagi sang narsisis dengan ketenangan hati dan tahan penghinaan sang narsisis. [17]

Perkawinan Muhammad dan Khadijah kelihatannya cocok sekali. Muhammad adalah seorang narsisis yang haus untuk dipuji terus menerus, diperhatikan dan dikagumi. Dia seorang miskin, yatim dan secara emosional membutuhkan banyak hal. Dia seorang dewasa tapi jiwanya masih seperti anak-anak yang butuh perhatian. Dia membutuhkan seseorang yang merawatnya dan menafkahinya, seseorang untuk diperalat dan dimanfaatkan, seperti bagaimana anak kecil memperalat dan memanfaatkan ibunya.

Kedewasaan emosional seorang narsisis berhenti pada masa anak-anak. Kebutuhan pada masa kanak-kanaknya tidak pernah terpuaskan. Dia terus menerus mencoba memuaskan kebutuhan kanak-kanaknya tersebut. Semua bayi adalah narsisis dan itu diperlukan bagi tahap pertumbuhan mereka. Tapi jika kebutuhan narsisis mereka tidak dipuaskan ketika masa anak-anak, kedewasaan emosi mereka akan berhenti pada tahap ini. Mereka mencari perhatian yang mereka tidak dapatkan ketika kecil dalam hubungan dengan pasangan dan dengan yang lainnya, termasuk dengan anak-anak mereka.

Hasrat Muhammad akan cinta diungkapkan olehnya dalam banyak kejadian. Ibn Sa’d mengutip perkataannya bahwa keluarga-keluarga Quraish semuanya punya hubungan padaku dan meski jika mereka tidak mencintaiku karena pesan yang aku bawa pada mereka, mereka seharusnya mencintaiku karena kekerabatanku dengan mereka. [18] Dalam Quran Muhammad berkata: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali cinta dari keluarga terdekat.” [19] Perkataan ini jelas merupakan jeritan putus asa dari seseorang yang butuh cinta dan perhatian.

Khadijah, di lain pihak, adalah seorang narsisis invert yang memerlukan objek untuk diperhatikan, seseorang untuk membuat khayalan-khayalannya sendiri sebagai seorang pemberi kesenangan. Orang co-dependent bukan saja rela diperalat, malah dia menikmati hal itu.

Vaknin menulis: “Narsisis invert hidup dan menggantungkan diri dari narsisis utama dan inilah suplai narsisistiknya. Jadi dua buah tipe narsisis ini dapat, pada pokoknya, menjadi saling mendukung, sistem yang simbiosis. Namun dalam kenyataannya, baik sang narsisis maupun sang invert perlu sadar akan dinamika hubungan mereka jika ingin hubungan mereka sukses dan awet.” [20]

Pakar psikologi Dr. Florence W. Kaslow, menjelaskan simbiosis ini dengan mengatakan bahwa kedua pihak masing-masing punya kelainan kepribadian (Personality Disorder/PD) – tapi keduanya berada pada kedua ujung berlawanan dari spektrum ini hingga bisa saling mengisi. “Mereka nampak memiliki ‘ketertarikan maut’ (fatal attraction) satu sama lain dimana pola kepribadian mereka saling bertentangan tapi saling mengisi – itu sebabnya, jika mereka sampai bercerai, mereka akan tertarik pada pasangan yang mirip mantan pasangan mereka.” [21]

Hubungan simbiosis antara Sang Narsisis Muhammad dan Sang Narsisis Invert Khadijah memang bekerja sempurna. Muhammad tidak lagi harus bekerja setelah menikahi Khadijah yang kaya raya. Dia habiskan waktunya menggelandang di gua-gua dan tempat sepi sambil menikmati fantasinya yang subur, dunia yang menyenangkan dan baik padanya, dimana dia menjadi seorang yang paling disayang, paling dipuja, paling dihormati dan paling ditakuti. Khadijah jadi begitu sibuk dengan si suami yang narsisis ini dan memenuhi semua kebutuhan-kebutuhannya hingga dia mengabaikan urusan dagangnya. Bisnisnya kemudian jadi menurun dan kekayaannya menyusut drastis. Dia mestinya sudah berusia sekitar 50 tahunan ketika melahirkan anaknya yang paling muda. Ia tinggal di rumah sementara sang suami kebanyakan tidak pernah di rumah, menyendiri di gua-guanya, baik gua sebenarnya maupun gua mentalnya.

Menurut Vaknin, “Sang invert ini mematikan keberadaan dirinya, penuh pengorbanan, bahkan berpura-pura manis dalam hubungan-hubungan dengan orang lain dan akan menghindari bantuan dari orang lain itu dengan segala cara. Dia hanya bisa berinteraksi dengan orang lain jika dia bisa dilihat sebagai orang yang memberi, mendukung dan menghabiskan usaha-usaha yang tak biasa untuk membantu.” [22]

Dia juga menjelaskan co-dependent sebagai “orang yang menggantungkan diri pada orang lain untuk memberi kepuasan emosional dan hasil dari Ego atau fungsi sehari-hari lainnya.” Dia bilang “mereka butuh dukungan emosional, penuh tuntutan dan patuh. Mereka takut diacuhkan, sangat bergantung dan menunjukkan kelakuan tidak dewasa dalam usaha-usahanya untuk mempertahankan “hubungan” dengan pasangan yang dia jadikan tempat bergantung tsb.” [23]

Melody Beattie, penulis “Codependent No More” (Tidak Lagi Codependent) menjelaskah bahwa orang codependent secara tak sadar memilih pasangan yang bermasalah dengan maksud agar punya tujuan, merasa diperlukan dan merasa dipuaskan.

Orang waras manapun akan mengartikan pengalaman aneh Muhammad sebagai sakit jiwa atau “kerasukan setan,” seperti yang biasa dikatakan pada jaman itu. Bahkan Muhammad sendiri berpikir dia telah menjadi seorang Kahin (penyihir) atau kerasukan setan. Seperti yang kita baca dalam Qur’an, orang-orang yang memakai akal di Mekah pikir Muhammad telah jadi majnoon, yang arti harafiahnya adalah kerasukan jin dan diartikan sebagai gila. Tapi pikiran demikian tidak kuat ditanggung Khadijah yang mengejar pemuasan dan kebahagiaan dengan cara memuaskan kebutuhan-kebutuhan sang suami. Dia harus bergantung pada sang Narsisis miliknya apapun akibatnya. Sebagai seorang Codependent (Narsisis Inverted), Khadijah merasa harus maju menolong, memberi saran dan menyelamatkan sumber utama suplai narsisistiknya.

Sang narsisis sering menuntut pengorbanan dari orang-orang di sekelilingnya dan mengharapkan mereka untuk menjadi ‘codependent’ bagi dia. Mereka juga hidup diatas kode-kode moral yang ada. Mereka terlalu tinggi untuk taat pada moralitas atau aturan apapun.

John de Ruiter adalah orang yang menyatakan diri Mesias dari Alberta, Canada. Para pengikutnya memuja dia seperti Tuhan. “Satu hari kami duduk di dapur merokok,” kata Joyce, istrinya, yang sekarang cerai, selama 18 tahun, dalam sebuah wawancara. “Dia membicarakan kematian saya. Ia mengakui bahwa saya telah melalui banyak kematian, yang katanya itu bagus. Saya harus melepaskan 95% dari hidup yang harus saya lepaskan. Tapi katanya saya tidak membiarkan diri saya lepas sepenuhnya. Dia mengatakan bahwa ‘kematian akhir’ saya akan terjadi jika dia mengambil dua orang istri lagi.” Joyce mengatakan dia kira John hanya bercanda. Ternyata tidak. Ia mengangkat masalah ini kedua kalinya, dan meminta Joyce apakah ia merasa tiga orang istri bisa hidup dalam satu rumah.” [24]

Untungnya Joyce belum sampai pada tahap co-dependent berat sehingga ia tidak sudi menerima penghinaan ini, dan meninggalkan suami narsisisnya. Seorang codependent asli akan melakukan apapun untuk menyenangkan pasangan narsisisnya. Hubungan antara codependent dan narsisisnya adalah hubungan Sadomasochisme (kecenderungan praktek psikologi/seksual yang dicirikan dengan gabungan kesadisan dan kepuasan karena siksaan).

Sialnya bagi umat manusia, Khadijah adalah seorang Co-dependent Sejati, yang sudi mengorbankan apapun bagi sang narsisis tercinta. Dialah yang mendorong Muhammad untuk mengejar ambisi kenabiannya dan memacunya ke arah itu. Ketika Muhammad tidak lagi mengalami ‘ayan’ dan tidak lagi melihat ‘para malaikat’, dia kecewa. Ibn Ishaq menulis: “Setelah itu, Jibril tidak datang padanya selama beberapa waktu dan Khadijah berkata, “kupikir Tuhan mestinya benci padamu.” [25] Hal ini menunjukkan betapa berhasratnya dia agar sang narsisis tercinta menjadi seorang nabi.

Kenapa Muhammad tidak mengambil istri lain selama Khadijah masih hidup? Karena, dia hidup dari uangnya dan di rumahnya. Lagipula, mayoritas orang Mekkah mengejeknya. Dia disebut orang Gila. Tak seorangpun mau menikah dengannya meski misalnya dia punya uang sendiri dan Khadijah tidak jadi masalah. Di Mekkah, para pengikutnya hanya segelintir budak dengan hanya sedikit wanita diantara mereka – tak seorangpun memenuhi hasratnya untuk dinikahi. Kalau saja Khadijah masih hidup dan menyaksikan peningkatan kekuasaan suaminya, kemungkinan besar dia akan menelan penghinaan dimadu oleh wanita yang jauh lebih muda dan cantik.

Setelah kematian Khadijah, Muhammad tidak pernah menemukan co-dependent lain untuk mengurusi kebutuhan emosionalnya seperti yang pernah dilakukan Khadijah. Malahan, dia cari pemenuhan kepuasan tersebut dengan menjadi seorang playboy seksual. Hanya sebulan setelah kematian istrinya, Muhammad meyakinkan teman dan pengikut setianya, Abu Bakr, untuk menunangkannya dengan anak perempuannya yang berumur 6 tahun, Aisha. Abu Bakr terkejut. Dia mencoba menolaknya dengan halus, dengan berkata “tapi kita ini masih saudara.” Muhammad meyakinkan dia mereka hanya saudara dalam iman dan bahwa pernikahannya dengan anak kecil itu tidaklah haram. [26]

Dia lebih lanjut mengatakan padanya bahwa Aisha telah ditunjukkan padanya dua kali dalam mimpi; dimana dia melihat seorang malaikat membawa Aisha kecil yang dibungkus kain. “Aku bilang (pada diriku sendiri), ‘Jika ini dari Allah, maka ini harus terjadi.’” [27] Sekarang Abu Bakr tidak punya pilihan lain kecuali meninggalkan Muhammad, orang yang telah dia beri banyak pengorbanan, mencela dia, menyebut dia pembohong, kembali ke orang-orangnya sendiri dan mengakui pada mereka bahwa dia selama ini telah bodoh, atau, melakukan apapun yang Muhammad minta. Ini sering jadi pilihan yang sulit bagi para pemeluk aliran pemujaan (cult). Mereka terjebak dan setelah mengorbankan begitu banyak untuk mengikuti guru mereka; balik kembali jadi pilihan yang lebih menyakitkan dibanding tunduk akan keinginan dan tuntutan pemimpin mereka. Abu Bakr memohon pada Muhammad untuk menunggu tiga tahun lagi sebelum melaksanakan pernikahan (yakni meniduri si bocah). Muhammad setuju, tapi sementara menunggu itu, dia menikahi Sauda dulu beberapa hari kemudian.

Muhammad menciptakan sebuah harem yang terdiri dari banyak wanita. Dia mencoba menggantikan hilangnya ‘ibu penyenang’nya dengan setumpuk wanita muda. Dia terus menambah koleksi istri dan selirnya tapi tak satupun memenuhi kebutuhan kekanakannya seperti yang dilakukan oleh Khadijah. Dia butuh seorang ibu untuk mengurus ‘jiwa kekanak-kanakannya, sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh ‘istri-istri remaja’ bagi seorang lelaki yang sebenarnya patut jadi kakek mereka.

Keyakinan Muhammad atas Tindakannya

Dari awal masa mudanya, Muhammad menghadiri pasar malam yang diadakan secara berkala di Okaz, dimana orang-orang, dari segala tempat bertemu untuk berdagang dan bersuka ria. Disana, para pengkhotbah Kristen membacakan kisah-kisah nabi dari kitab suci mereka untuk menangkap para hadirin. Muhammad terkagum-kagum oleh kisah-kisah tersebut. Menjadi orang yang dicintai dan dihargai adalah satu-satunya pemikiran yang memenuhi benaknya. “Betapa hebat rasanya menjadi seorang nabi, menjadi orang yang dicintai dan ditakuti setiap orang,” itu yang dia pikirkan sambil mendengarkan kisah-kisah tersebut. Sekarang, istrinya meyakinkan dia bahwa dia telah menjadi seorang nabi dan bahwa fantasinya telah menjadi kenyataan. Sepertinya Tuhan pada akhirnya memperhatikan dia dengan murah hati, telah memilih dia diantara semua orang dan mengangkat dia menyampaikan pesan-pesannya dan mengundang orang-orang untuk tunduk.

Pikiran-pikiran yang ada dalam benak Muhammad semuanya mengenai hal yang besar-besar. Malah ide besar dan keyakinannya yang teguh inilah yang membangkitkan para pengikutnya untuk berusaha mendapatkan perhatiannya, untuk membunuh, menjarah dan membunuh, meski itu ayah mereka sendiri, demi Muhammad. Berkat ide-ide besar tentang superioritas inilah, dia selalu merasa berhak untuk mendapat perlakuan spesial.

Muhammad adalah orang yang selalu berhasrat untuk memanipulasi dan mengeksploitasi. Dia bangun kerajaannya tanpa pernah turun sendiri melakukan pertempuran secara langsung. Dengan menjanjikan hadiah di dunia lain dan sebuah surga penuh dengan pesta seks tak berkesudahan bagi mereka yang percaya padanya, dia mampu membuat mereka gigih bertempur dalam namanya, menghabiskan kekayaan mereka demi dia, mengorbankan nyawa mereka, merampok untuk membuat dia kaya dan melesatkannya ke puncak kekuasaan.

Orang Narsisis adalah ahli penipuan. Mereka sendiri, sebenarnya, adalah korban pertama dari penipuan itu juga. Mereka secara tidak sadar menyangkal gambaran diri mereka yang miskin dan tidak toleran dengan menggelembungkan ego mereka tentang hal-hal besar. Mereka mengubah diri mereka menjadi sebuah gambar yang berkilauan akan hal-hal hebat dikelilingi oleh dinding-dinding penyangkalan. Tujuan dari penipuan diri ini adalah agar tidak mempan terhadap kritik luar dan lautan keraguan yang berputar-putar dalam diri mereka. Orang narsisis adalah pembohong alami, mereka benar-benar percaya akan kebohongan yang mereka buat sendiri dan sangat sangat tidak suka bila ditentang.

Vaknin menyatakan, “Orang narsisis selalu berada dalam usaha untuk mencapai kesenangan dan drama yang dimaksudkan untuk mengurangi kebosanan dan kesedihan yang meresap masuk. Tentu saja, usaha itu sendiri dan tujuannya harus memenuhi pandangan-pandangan besar yang orang itu punya tentang dirinya sendiri (pandangan yang sebenarnya palsu). Mereka harus dibuat setaraf dengan pandangannya mengenai hak dia dan keunikannya. [28]

Hal ini menjelaskan peperangan terus menerus yang dilakukan Muhammad. Drama, aliran adrenalin dan kesenangan adalah suplai-suplai yang dibutuhkan jiwa narsisistiknya. Betapapun, si narsisis itu sendirilah yang pertama percaya akan omong kosong yg dia ucapkan.

Dr. Vaknin menjelaskan: “Pegangan sang narsisis akan kenyataan adalah lemah (orang narsisis kadang gagal dalam test kenyataan). Tak dapat disangkal, sang narsisis sering seperti percaya pada perkataan mereka sendiri. Mereka tidak sadar akan sifat patologis dan sumber dari ‘khayalan diri’ mereka dan dg demikian secara teknis mereka delusional/menganggap khayalan sebagai kenyataan. (meski mereka jarang menderita halusinasi, kesulitan berbicara atau kelakuan yang tak menentu atau tidak normal). Dalam kalimat yang lebih tepatnya, orang narsisis kelihatan seperti orang sakit jiwa.” [29]

Vaknin, tapi berkata bahwa orang narsisis, meski ahli dalam penipuan diri atau bahkan adalah seorang penipu yang berbahaya, mereka ‘biasanya sadar sepenuhnya akan perbedaan antara benar dan salah, kenyataan dan karangan, hal ciptaan dan yang telah ada, benar dan salah. Orang narsisis secara sadar memilih untuk mengadopsi satu versi kejadian, sebuah cerita yang bisa membuat dia lebih besar, keberadaan sebuah dongeng, sebuah kehidupan ‘yang tak ada’ dari permainan pikiran ‘bagaimana-jika’ (what-if). Dia secara emosional menanam saham dalam mitos pribadinya sendiri. Orang narsisis merasa lebih baik dalam fiksi dibanding kenyataan – tapi dia tidak pernah kehilangan pemikiran akan fakta bahwa itu semua hanya fiksi saja. Orang narsisis punya kontrol penuh akan kemampuannya, sadar akan pilihannya dan orientasi tujuannya. Tingkah lakunya diniatkan dan terarah. Dia adalah seorang manipulator dan khayalannya ada untuk melayani tipu muslihatnya. Karena itu ia punya kemampuan seperti bunglon utk berganti samaran, berganti tingkah laku, dan pendirian secara seketika… Orang narsisis “berusaha untuk mengkondisikan orang-orang terdekat dan yang mencintainya untuk secara positif membangun “dirinya yang palsu’ yang dikhayalkannya.” [30] Dalam kasus Muhammad, peran itu dimainkan oleh Khadijah.

Hal ini agak sulit untuk dimengerti. Di satu pihak, Vaknin mengatakan bahwa orang narsisis tidak pernah kehilangan kenyataan bahwa semua itu hanyalah fiksi, dan dilain pihak dia mengatakan bahwa pegangan orang narsisis pada kenyataan adalah lemah dan sering mereka percaya akan omong kosong mereka sendiri. Meski ini menimbulkan dilemma logika bagi orang normal, tapi tidak demikian bagi orang narsisis yang berbohong dan lalu meyakinkan dirinya sendiri akan bohong itu seakan hal itu benar dan akan mengubah ceritanya kapan saja ia suka.

Kita cenderung percaya bahwa kalau tidak orang itu gila atau ia seorang pembohong dan bahwa keduanya sama-sama berjalan sendiri-sendiri. Ini tidak benar. Sering para kriminal berdalih gila untuk lolos dari hukuman dan masyarakat, termasuk juga para profesional kejiwaan, percaya pada dalih ini. Kebodohan ini telah mencapai tingkat kemustahilan. James Pacenza, 58 tahun, yang dipecat karena menghabiskan waktunya melakukan chat porno di internet, menuntut perusahaan yang memecatnya IBM, dengan kesalahan pemecatan dengan mengaku bahwa dia ketagihan chat online tersebut dan IBM harusnya bersimpati dan merawatnya bukan memecat. Dia dihadiahi kompensasi 5 juta dollar. [31]

Yang sebenarnya adalah bahwa orang narsisis sepenuhnya sadar akan tindakan-tindakan mereka. Pembunuh berantai di New York, David Berkowitz, yang menyebut dirinya ”Son of Sam,” lolos hukuman mati karena kejahatannya begitu tak masuk akal hingga tiap orang berpikir dia tidak bertanggung-jawab atas tindakannya karena gila. Sebenarnya dia sepenuhnya sadar yang dia lakukan itu salah. Itu sebabnya dia mencoba dengan keras untuk mengelabui polisi bahkan mengejek mereka. Betapapun, dia adalah seorang narsisis dan butuh perhatian lebih. Jadi dia tinggalkan petunjuk-petunjuk agar ditemukan. Kegembiraan karena menjadi tenar dari pemberitaan kasus tersebut lebih menarik bagi dia dibanding kebebasannya. Dia tidak bisa untuk tidak menikmati semua ketenaran itu. Apa yang Berkowitz lakukan konsisten dengan penyakit Narsisistik. Ketika dia tertangkap dan dipenjara, dia putuskan untuk menjadi Kristen yang dilahirkan kembali. Kenapa tidak dia lakukan sebelumnya? Apa dia mendapat bedah jiwa di penjara? Tidak! Dia hanya memutuskan untuk mengubah taktik agar mendapat perhatian yang begitu dia dambakan lagi. Di penjara, satu-satunya jalan untuk itu adalah dengan menjadi orang suci. Orang narsisis seperti bunglon. Dia dengan teliti mengawasi orang lain untuk melihat hal apa yang bisa mendatangkan perhatian lebih banyak lalu bertindak sesuai dengan itu.

Orang dengan penyakit jiwa sadar akan tindakan-tindakan mereka. Mereka tahu bedanya salah dan benar. Yang diinginkan psikopat narsisis hanyalah perhatian. Bagaimana cara mendapatkannya tidaklah penting. Jika mereka bisa mendapatkannya dengan menjadi pembunuh berantai, mereka akan menjadi itu dan jika untuk itu harus menjadi orang yang religius, itulah yang akan mereka lakukan.

Secara luasnya, kita bisa bandingkan pembunuh berantai dengan seorang perokok. Keduanya tahu apa yang mereka lakukan itu salah. Tapi, dorongan untuk itu lebih kuat dari kekuatan mereka dan mereka menyerah pada hasrat tersebut. Seorang perokok membunuh diri mereka sendiri dengan pelahan, satu rokok demi satu rokok, dan pembunuh berantai membunuh orang lain. Kenapa perokok tidak bisa berhenti padahal tahu tembakau itu bisa membunuhnya? Ini karena dia ketagihan nikotin. Sama juga, seorang psikopat narsisis tidak bisa berhenti karena mereka ketagihan ‘hentakan adrenalin’ dan kesenangan menjadi Tuhan. Mereka tahu apa yang mereka lakukan itu salah karena mereka bersembunyi dan memainkan polisi. Mereka meninggalkan petunjuk mengenai diri mereka sampai mereka tertangkap karena dorongan untuk mendapat perhatian begitu kuatnya hingga mereka rela mengambil risiko kehilangan kebebasan dan nyawanya untuk itu.

Bukti lain psikopat tahu apa yang mereka lakukan itu salah adalah mereka tidak mau menjadi korban perbuatan mereka sendiri. Muhammad merampok dusun-dusun dan setelah membantai penduduk tak bersenjata, dia menjarah harta milik mereka. Tapi, dia siksa sampai mati mereka yang membunuh seorang gembala dan mencuri ontanya. Dia perkosa wanita tangkapan dalam perampokan-perampokannya, meski mereka ada yang telah menikah, tapi dia tidak bisa toleran jika ada yang melirik istrinya dan memerintahkan para istrinya untuk menutupi wajah mereka. Bisakah kita katakan dia tidak sadar apa yang dilakukannya itu tidak benar? Tentu saja tidak! Dia larang membunuh dan mencuri, tapi dia benarkan pembunuhan dan perampokannya sendiri. Sebagai seorang narsisis, dia percaya dirinya lebih superior dari orang lain, berhak mendapat hak khusus dan bebas untuk melakukan apapun yang didiktekan olehnya. Muhammad adalah seorang gila sekaligus pembohong. Ini hanya mungkin jika dia seorang narsisis yang psikopat.

Jika Muhammad seorang pembohong, kenapa dia ingin dikenal sebagai Amin (dipercaya)

Amin adalah gelar bagi mereka yang menjual dan membeli barang atas nama orang lain. Seseorang disebut wali sekolah atau wali kota karena profesinya dan bukan karena dia orang jujur. Gelar “Amin” adalah label bagi semua profesi. Ini contohnya: Amin El-Makataba (Wali Perpustakaan), Amin El-Shortaa (Wali Polisi Trustee) Majlass El-Omnaa (jamaknya dari Amin) (penasehat dari para wali).

Malahan, Abul Aas, suaminya Zeinab dan menantunya Muhammad juga dikenal sebagai Amin karena bisnisnya. Dia tidak menerima Islam sampai dipaksa untuk menerimanya, karena Muhammad memerintahkan Zeinab untuk meninggalkannya jika dia tidak mau.

Muhammad bertindak sebagai wali dari Khadijah sekali, ketika dia membawa barang dagangannya ke Damaskus dan menjual dalam namanya. Klaim bahwa orang Mekkah menyebut Muhammad sebagai Amin karena mereka lihat dia jujur adalah salah. Kalau saja klaim ini benar, mereka tidak akan menolak dan mengejeknya ketika dia bilang telah menerima pesan Tuhan. Mereka yang kenal Muhammad dengan baik menyebutnya pembohong dan orang gila.

Lebih jauh tentang Memecah Belah dan Menjajah

Seperti dinyatakan dalam bab sebelumnya, Muhammad memutuskan ikatan para pengikut dia dengan keluarganya demi mengamankan dominasi mutlak atas mereka. Dia perintahkan para pengikut orang Mekkah, yang pindah ke Medina, agar jangan menghubungi kerabat mereka di kampung halaman. Meski diperingatkan, beberapa diantara mereka tetap melakukan hubungan dengan kerabat mereka, ini mungkin karena mereka butuh uang untuk hidup. Agar ini dapat dihentikan, dia mendiktekan ayat berikut dari Allahnya. [32]

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barang siapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus. [33]

Kita lihat desakan untuk terasing dari keluarga juga ada dalam ayat berikut:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang lalim. (Sura 9.23)

Kenapa Muhammad begitu berkeras ingin mengisolasi para pengikutnya? Vaknin menjelaskan: “orang narsisis adalah guru di tengah-tengah lingkaran aliran pemujaan (cult). Seperti guru-guru lain, dia menuntut kepatuhan total dari pengikutnya: istrinya, anaknya, anggota keluarga lain, teman-teman dan sahabat. Dia merasa berhak untuk dipuji dan diperlakukan secara khusus oleh para pengikutnya. Dia menghukum mereka yang menyimpang dan domba-domba yang tersesat. Dia memaksakan disiplin, ketaatan pada ajarannya, dan tujuan-tujuan umumnya. Jika dalam kenyataan dia kurang berhasil – semakin keraslah penguasaannya dan semakin luaslah pencucian otaknya.” [34]

Dalam hal ini, Muhammad tidak bisa berhasil sepanjang para pengikutnya masih tinggal di Mekkah dan mereka yang mampu, ketika keadaan tambah keras, juga kembali ke keluarga mereka. Berdasarkan kebutuhan untuk mengisolasi para pengikutnya, pemimpin cult sering mengurung mereka dalam sebuah kamp dimana mempermudah dia untuk mencuci otak mereka dan untuk memaksakan kontrol total atas mereka. Pertamanya Muhammad mengirim para pengikut yang pertama ke Abyssinia, tapi kemudian, ketika dia membuat pakta dengan orang-orang Arab di Yathrib, dia memilih kota itu sebagai markasnya. Dia bahkan mengubah nama Yathrib dan memanggilnya Medina (yang merupakan kependekan dari Medinatul Nabi, Kota sang nabi).

Vaknin menyatakan: “Para anggota – sukarela – dari aliran pemujaan/cult sang narsisis menempati tempat khayal dari bangunan khayal sang narsisis. Dia paksakan pada mereka kegilaan yang serupa, penuh dengan khayalan penyiksaan, dengan “musuh”, cerita-cerita mitos, dan skenario kiamat jika dia dicemoohkan. [35]

Lihat betapa akuratnya penggambaran tentang Muhammad dan para Muslim yang sampai hari ini masih punya khayalan penyiksaan dan melihat musuh dimana-mana. Mereka percaya akan cerita-cerita mitos seperti Malaikat Jibril membawa wahyu pada Muhammad dan kisah-kisah dongeng lain seperti Jin, Mi’raj (kenaikan Muhammad ke surga), Hari Kiamat, dan lain-lain.

Menurut Vaknin, “Pendirian yang ditanam dalam-dalam oleh orang narsisis, bahwa dia telah dianiaya oleh orang-orang yang lebih rendah harkatnya, para pencela, atau orang jahat yang kuat dan berkuasa, berfungsi melayani dua tujuan psikodinamis. Yaitu menegakkan keagungan sang narsisis dan menolak kerukunan.” [36]

Vaknin menulis: “Orang narsisis mengklaim diri sebagai orang yang sempurna, superior, berbakat, pandai, maha kuasa dan maha tahu. Dia sering berbohong dan mengarang-ngarang utk mendukung pengakuannya yang tak berdasar. Dalam cult ini, dia mengharapkan kekaguman, pujian, hormat dan perhatian terus menerus yang sepadan dengan kisah-kisah dan pengakuan-pengakuannya yang aneh. Dia menafsirkan kembali kenyataan untuk disesuaikan dengan khayalannya. Pemikirannya dogmatis, kaku dan bersifat mengindoktrinasi. Dia tidak menyambut pikiran-pikiran bebas, pluralisme, atau kebebasan berbicara dan tidak membolehkan kritik dan ketidak setujuan. Dia menuntut – dan sering mendapatkannya – kepercayaan sepenuhnya dan pemindahan kekuasaan kedalam tangannya semua keputusan. Dia paksakan kepada para pengikutnya agar memusuhi kritikan, pihak berwenang, institusi, musuh-musuh pribadinya atau media – jika mereka mencoba membuka kedok tindakan-tindakannya dan menguak kebenaran. Dia memonitor dari dekat dan menyensor informasi dari luar, memberikan pada para pengikutnya hanya data dan analisa yang sudah dipilihnya .” [37]

Dengan menguraikan karakteristik sang narsisis, Vaknin, secara tidak sengaja dan dengan akurasi yang mengherankan telah menjelaskan benak Muhammad dan cara pikir muslim. Para Muslim pada umumnya juga adalah orang-orang narsisis karena mereka berusaha meniru nabinya.

Perbandingan antara Islam dan Cult dari sang Narsisis

Berikut ini adalah penjelasan mengenai cult (aliran pemujaan) dari seorang narsisis. Pertama mari kita lihat apa yang Vaknin katakan tentang ini dan kemudian saya akan mengutip episode-episode dari kehidupan Muhammad dan membiarkan para pembaca untuk memutuskan apa semua itu bersesuaian atau tidak.

Cult Narsisis adalah berupa “da’iyah” (karakteristik dari sebuah ajaran yang diberitakan kepada orang lain) dan “imperialistis” (kebijakan utk mengembangkan kekuatan dan pengaruh satu negara melalui kolonisasi dan kekuatan militer. Dia selalu mencari-cari tenaga baru – teman-teman istrinya, teman-teman anaknya, tetangganya, teman sepekerjaan, dan lain-lain. Dia langsung berusaha ‘merubah’ mereka ke dalam ‘iman’nya – untuk meyakinkan mereka betapa indah dan mengagumkannya dia. Dengan kata lain, dia mencoba mengubah mereka menjadi sumber penyuplai Narsisistiknya.

Sering, kelakuannya dalam “misi perekrutan” berbeda dengan kelakuannya di dalam alirannya sendiri. Dalam fase pertama pembujukan pengagum baru dan menarik masuk orang-orang yang berpotensi – sang narsisis selalu penuh perhatian, sayang, empati, fleksibel, tidak menonjolkan diri dan sangat penolong. Tapi di rumah, diantara para ‘veteran’, dia menjadi tirani, penuntut, cuek, berpendirian keras, agresif dan mengeksploitir.

Sebagai pemimpin jemaahnya, sang narsisis merasa berhak atas fasilitas-fasilitas spesial dan manfaat-manfaat dengan tidak mengikuti aturan orang. Dia mengharapkan untuk selalu dinanti-nanti, bisa memakai uang siapa saja dan memakai harta siapa saja dengan bebasnya dan bebas dari aturan-aturan yang dia sendiri tetapkan (jika pelanggaran itu mendatangkan kenikmatan atau keuntungan).

Dalam kasus-kasus yang ekstrim, sang narsisis merasa ada di atas hukum, hukum apapun. Keagungan dan pendirian yang takabur ini berujung pada tindakan kriminal, hubungan incest atau poligami, dan selalu bergesekan dengan pihak berwenang.

Karena itu sang narsisis mudah panik dan kadang bereaksi keras untuk ‘lari’ dari cultnya. Ada banyak hal yang ingin disembunyikan oleh sang Narsisis. Terlebih lagi, si narsisis harus menstabilkan perasaan harga dirinya yang berubah-ubah dengan mengambil suplai narsisistik dari korban-korbannya. Jadi pengabaian menjadi ancaman yang berbahaya bagi kepribadian narsisisnya yang tidak seimbang.

Ditambah lagi dengan rasa paranoid si narsisis dan kecenderungan schizoidnya (gila), kurangnya kesadaran-diri yang introspektif dan sense-of-humor yang tidak ada, serta risiko mendendam kepada anggota cultnya sudah jelas.

Sang narsisis melihat musuh dan persekongkolan dimana-mana. Dia sering membentuk dirinya sendiri menjadi ‘pahlawan yang jadi korban (martir)’ dari kekuatan yang gelap dan mengagumkan. Dalam setiap penyimpangan prinsipnya dia melihat kedengkian dan usaha-usaha subversif yang tak menyenangkan baginya. Oleh karena itu dia cenderung mengurangi kekuasaan para pengikutnya dengan segala cara. Orang-orang narsisis itu berbahaya. [38]

Sekarang mari kita lihat apa ada kesamaan antara penjelasan ini dengan apa yang kita ketahui tentang Muhammad dan cultnya.

Islam juga berupa ‘daiyah’ dan imperialistis. Tujuan utama dari Muhammad adalah untuk menaklukkan dan mendominasi. Dia coba memaksa tiap orang untuk masuk ke dalam cultnya, dimulai dari keluarga dan kerabatnya. Dia minta Abu Talib, paman dan pelindungnya untuk masuk Islam menjelang ajalnya. Ketika orang tua itu menolak, Muhammad keluar sambil bergumam, “Aku ingin berdoa baginya tapi Allah melarangku untuk melakukannya.” Betapapun, dia berhasil mengubah anak-anaknya Abu Talib, termasuk Ali, istrinya dan beberapa teman-temannya.

Pertamanya, ketika Muhammad masih lemah dan hanya punya pengikut sedikit, dia sopan, penuh perhatian, pengasih, empatik, fleksibel, penolong dan bahkan tidak menonjolkan diri. Terdapat perbedaan sangat kontras antara ayat-ayat Quran yang ditulis pada periode ini dan yang ditulis di Medina ketika dia menjadi berkuasa dan kuat dan tidak perlu lagi memakai kedok untuk membujuk orang menjadi pengikutnya. Setelah dia menjadi berkuasa, dia menjadi penuntut, tirani, keras kepala, agresif dan mengeksploitir. Lalu dia merampok dusun-dusun dan kota-kota dan setelah membunuh para lelaki yang mampu bertempur dan menjarah mereka, dia tuntut orang-orang yang masih hidup untuk tunduk padanya atau mati.

Berikut ini adalah contoh-contoh jenis ayat yang Muhammad tulis di Mekkah.

1. Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik. (Sura 73:10)

2. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku. (Sura 109:6)

3. Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu,. (Sura 20:130)

4. ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia. (Sura 2:83)

5. Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan kamu sekali-kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. (Sura 50:45)

6. Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh. (Sura 7:199)

7. maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik. (Sura 15:85)

8. Katakanlah kepada orang-orang yang beriman hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tiada takut akan hari-hari Allah karena Dia akan membalas sesuatu kaum terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (Sura 45:14)

9. Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Sura 2:62)

10. Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik. (Sura 29:45)

Sekarang mari kita bandingkan tulisan itu dengan tulisan yang dibuat di Medina ketika Muhammad sudah menjadi berkuasa.

1. Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu. (Sura 9:123)

2. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. (Sura 8:12)

3. Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Sura 3:85)

4. bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka. (Sura 9:5)

5. Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu. (Sura 2:191)

6. Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. (Sura 9:193)

7. Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman. (Sura 9:14)

8. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan daripada kamu (lantaran mereka tobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.. (Sura 9:66)

9. Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. (Sura 9:28)

10. Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. (Sura 9:29)

Ini saja sudah cukup untuk dijadikan bukti bahwa Muhammad berubah secara drastis setelah dia berkuasa. Pengkhotbah yang baik, perhatian, penuh sayang dan empatik berubah menjadi seorang Lalim yang penuntut, tirani, kejam dan keras kepala.

Tepat setelah Perang Badar kekejaman dan sifat ingin balas dendam Muhammad kepada lawannya mulai pertama kali muncul dengan sendirinya. Muir menceritakan:

Para tawanan dibawa kehadapannya. Ketika dia memeriksa satu persatu, matanya jatuh dengan nyalang pada Nadir, anak dari Harith (saudara sepupu Muhammad sendiri yang menulis puisi dan sangat kritis terhadapnya). “Ada maut dalam tatapannya,” bisik Nadir, gemetar, pada orang disampingnya. “Tidak begitu,” jawab yang lain, “itu hanya imajinasimu saja.”

Tawanan sial itu punya pikiran sebaliknya, dan memohon pada Musab (teman dia dulu yang sekarang telah masuk Islam) untuk menjadi perantara baginya. Musab mengingatkan dia bahwa dia telah menyangkal iman dan menganiaya orang Muslim. “Ah!” kata Nadir, “kalau saja orang Quraish menangkapmu, mereka tidak akan pernah memberi engkau hukuman mati !” “Meski begitu,” Musab menjawab, “Aku tidak seperti itu; Islam telah memutuskan semua ikatan kekeluargaan.” Musab, yang menangkapnya, dan tahu bahwa tawanan ini bisa memberinya uang tebusan yang banyak, merasa rejeki akan lepas dari tangannya, berteriak, “tawanan ini milikku”! Pada saat itu, perintah untuk “Potong Kepalanya!” diucapkan oleh Muhammad, yang mengawasi semua ini. “Dan Oh Tuhan!” tambahnya, “Apa kau dengan harta jarahanmu memberi mangsa yang lebih baik dari ini pada Musab?” Nadir tanpa ampun dipancung oleh Ali.

Dua hari kemudian, sekitar setengah jalan ke Medina, Oqba, tawanan lain, dikeluarkan untuk dipancung. Dia meminta untuk bicara dan menuntut kenapa dia diperlakukan lebih parah daripada tawanan lain. “Karena permusuhanmu pada Allah dan Rasul-Nya,” jawab Muhammad. “Dan anak perempuanku yang masih kecil!” tangis Oqba, “siapa yang akan mengurusnya?” – “Api Neraka!” teriak sang penakluk tanpa hati itu; dan seketika itu juga si korban dijatuhkan ke tanah. “celakalah kau!” lanjut Muhammad, “dan penganiaya! Tidak percaya Allah dan rasul-Nya dan Kitab-Nya! Kupanjatkan syukur pada Allah yang telah menyiksamu dan membuat mataku nyaman dengan itu.” [39]

Terdapat kisah cinta yang mengharukan dalam cerita di atas yang bahkan lebih menunjukkan kekejaman dari Muhammad. Setelah beberapa tawanan yang tertangkap dalam Perang Badar dipancung karena mereka telah menghina Muhammad beberapa tahun sebelumnya, ketika dia masih di Mekkah, sisanya ditawan untuk dimintai tebusan pada keluarganya. Diantara mereka terdapat Abul Aas, suami dari anak perempuan Muhammad, Zeinab. Keluarga para tawanan mendapatkan apa yang dituntut sang bandit agar orang yang mereka cintai selamat dari kematian. Zeinab mengirim kalung emas yang dia dapatkan dari ibunya Khadijah saat menikah untuk menebus suaminya. Muhammad, yang mengenali kalung tersebut karena pernah dipakai istrinya Khadijah, tergerak hatinya dan setuju untuk melepaskan Abul Aas tanpa tebusan yang diminta asalkan Zeinab meninggalkan dia (suaminya) dan bergabung dengannya (Muhammad) di Medina. Orang ini tidak mampu melakukan sesuatu kebaikan tanpa menuntut sesuatu sebagai balasannya. Bahkan kebaikannya didesain untuk membuat mereka yang menerima kebaikan itu terkesan dan kemudian jadi pindah ke pihak dia. Abul Aas tidak tahan berpisah dari istrinya dan agar bisa bersamanya dia harus masuk Islam dan bergabung bersamanya di Medina, itupun hanya sebentar karena tidak lama kemudian istrinya meninggal.

Para Muslim menampilkan Islam sebagai sebuah agama damai dan toleran terhadap orang luar dan akan memasang muka tersenyum pada orang yang berpotensi untuk direkrut. Mereka jadi sangat penolong, rendah hati dan sangat menarik pada orang yang ingin mereka tarik dan di hadapan media. Diantara mereka sendiri, mereka bertingkah laku sangat berbeda. Mereka jadi tiran dan penuntut. Sekali kamu masuk Islam dan masa bulan madunya selesai, para Muslim akan melepas muka senyum mereka dan menjadi sangat agresif dan kejam. Mereka mengharapkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan ‘anggota baru’ itu disudahi, dan setelah masuknya mereka ke Islam, semua kemungkinan untuk balik kembali akan ditiadakan. Ini konsisten dengan aturan yang diajarkan oleh Muhammad sendiri melalui perbuatan-perbuatannya, aturan yang telah dituliskan dalam hukum-hukum Islam.

Muhammmad merasa berhak mendapat keuntungan dan perlakuan spesial yang tidak diberlakukan pada yang lain, termasuk para pengikutnya. Dia melakukan hal-hal yang tidak saja bertentangan dengan prinsip-prinsip etika universal, bahkan pada masyarakat dijamannya sendiri, tapi tindakannya juga bertentangan dengan aturan-aturan yang sudah ditetapkan. Dia pada dasarnya melakukan apa saja hal-hal yang dia inginkan dan sukai dan ketika hal itu membuat para pengikutnya terkejut, dia keluarkan ayat dari Allah khayalannya untuk membenarkan segala tindakannya itu dan membuat terdiam mereka yang mengkritik. Dengan ayat dari Allah ada dalam kantungnya, siapapun yang berani berbisik menentangnya sama saja dengan menentang Allah dan, tentu saja, nasib mereka yang mempertanyakan Allah dan Rasulnya adalah mati. Semua kata-katanya adalah faslul-khitab (akhir dari diskusi). Contohnya banyak, ini salah satunya:

Quran membatasi empat istri bagi muslim. Tapi, Muhammad pikir dia tidak terikat oleh aturan itu dan dengan demikian dia buat Allahnya menurunkan ayat-ayat 33:49-50 yang mengatakan padanya dia adalah sebuah pengecualian dan boleh punya sebanyak mungkin wanita, sebagai istri, selir atau budak, sebanyak dia mau. Lalu dia tambahkan “ini hanya khusus bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. ……supaya tidak menjadi kesulitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Kesulitan apa? Kesulitan mengontrol birahinya, menjadi manusia normal yang santun, setia pada satu istri! Apa kita harus percaya pada orang yang sulit mengontrol insting kebinatangannya padahal katanya dia adalah “makhluk ciptaan yang terbaik?” Bukankah tindakan berbicara jauh lebih kencang daripada perkataan? Di satu pihak, dia hidup seperti binatang buas, dan di lain pihak dia berbicara tentang dirinya sendiri dengan begitu mulia, menaruh kata-kata pujian di mulut Allahnya untuk dia. Ingat ketika masih di Mekkah, hidup dari harta istrinya, Muhammad tidak berani membawa wanita lain ke rumah. Semua kelakuan birahinya dimulai ketika dia berkuasa. Apa kita harus percaya bahwa ketika dia masih muda dan kuat dia tidak punya kesulitan ini dan hanya tidur dengan wanita yang lebih tua tapi kesulitannya muncul di 10 tahun terakhir kehidupannya ketika dia sudah tua dan ditimpa segala macam penyakit? Atau kita harus artikan ini sebagai pertanda lain dari orang yang beranjak tua dan bertingkah liar dengan kebebasan yang dia temukan, seperti anak kecil yang dibiarkan bebas di toko permen, tidak mampu membatasi dirinya sendiri?

Satu hari Muhammad mengunjungi istrinya Hafsa, anak dari Omar dan ketika melihat pembantu istrinya, Mariyah, dia birahi terhadapnya. Mariyah adalah perempuan muda Coptic yang sangat cantik yang dikirim sebagai hadiah dari Pejabat di Mesir kepada Muhammad. Dia suruh Hafsa pergi dengan alasan dipanggil ayahnya. Segera setelah istrinya pergi, dia gagahi Mariyah diranjangnya Hafsa. Tahu ayahnya ternyata tidak memanggil, Hafsa kembali dan menemukan apa yang terjadi serta sadar kenapa Muhammad menipunya. Dia marah dan mulai berteriak-teriak (Ah, wanita akan selalu wanita!) Untuk menenangkannya, Muhammad bersumpah untuk melarang Mariyah dipakai olehnya. (Dari sinilah nama Surat Tahrim (Larangan) dalam Quran didapatkan). Tapi, dia masih birahi terhadap budak cantik itu. Bagaimana caranya membatalkan sumpah? Sudah tentu gampang saja kalau anda punya Allah di kantong. Pencipta Jagat Raya ini lalu menurunkan Surat Tahrim dan bilang tidak apa-apa melanggar sumpah dan melakukan seks dengan budak cantik itu karena dia adalah “harta milik tangan kanannya.” Malah Allah Maha Kuasa, yang sekarang jadi mucikari bagi nabi favoritnya ini, bahkan marah pada Muhammad dan menegur dia karena menghalangi kenikmatan jasmani bagi dirinya dan karena telah bersumpah untuk berlaku santun hanya demi menyenangkan istrinya.

Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Sura 66.1-2)

Ibn Sa’d menulis: “Abu Bakar menceritakan bahwa sang Rasul (PBUH) telah melakukan hubungan seks dengan Mariyah dirumahnya Hafsa. Ketika rasul keluar rumah, Hafsa duduk di pintu depan (di belakang pintu yang terkunci). Dia berkata pada rasul, O Rasul Allah, kau lakukan ini di rumahku dan ketika giliranku? Rasul berkata, kontrol dirimu dan biarkan aku pergi karena aku telah mengharamkannya untukku. Hafsa berkata, aku tidak terima, kecuali kau bersumpah untuk itu bagiku. Rasul berkata, Demi Allah aku tidak akan menyentuhnya (Mariyah) lagi.” [40]

Seperti biasa, para muslim membenarkan Muhammad akan pelanggaran sumpahnya ini. Tidak jadi masalah apapun yang dilakukan Muhammad, para muslim akan selalu membenarkan tindakan-tindakannya. Mereka telah menyerahkan kecerdasan mereka padanya dan berhenti berpikir secara rasional. Ibn Sa’d melanjutkan: “Qasim ibn Muhammad bilang bahwa sumpah yang melarang Mariyah untuknya sendiri itu cacat – jadi tidak menjadi suatu pelanggaran (hormat). [41]

Pertanyaannya adalah jika sumpahnya cacat, kenapa dia bersumpah, dan jika sah, kenapa dia langgar? Terdapat banyak sekali contoh dari pelanggaran janji dan sumpah Muhammad. Disini, dia telah bersumpah dalam nama Allahnya dan itupun tidak jadi halangan baginya. Allahnya hanya isapan jempol khayalannya dan dia tidak bodoh dengan membiarkan imajinasinya menghentikan dia untuk mendapat seks dari wanita secantik Mariyah. Keseluruhan ide penciptaan Tuhan ini adalah untuk menyetujui apapun yang dia inginkan tanpa halangan. Seorang Tuhan yang menempatkan batasan-batasan padanya akan menghalangi keseluruhan tujuan dari kepura-puraannya menjadi nabi.

Qur’an milik saya berisi tafsir berikut, berdampingan dengan Surat Tahrim:

Juga dilaporkan bahwa nabi telah membagi hari-harinya diantara istri-istrinya. Dan ketika tiba giliran Hafsa, disuruhnya Hafsa pergi ke rumah ayahnya Omar Khattab, dengan alasan ayahnya memanggilnya. Ketika Hafsa pergi, nabi memanggil budak wanita Mariyah, orang Koptik yang (belakangan) melahirkan anaknya Ibrahim dan Mariyah adalah hadiah dari Najashi, lalu melakukan hubungan seks dengannya. Ketika Hafsa kembali, dia dapatkan pintu terkunci dari dalam. Dia duduk di depan pintu itu sampai sang nabi selesai dengan ‘bisnis’nya dan keluar rumah dengan keringat bercucuran di wajahnya. Ketika Hafsa melihat dia dalam kondisi demikian dia menegurnya dan berkata kau tidak menghargai kehormatanku, kau kirim aku keluar rumah dengan alasan agar kau bisa meniduri budak wanita itu. Dan pada hari giliranku ini kau berhubungan seks dengan orang lain. Lalu nabi berkata, diamlah meski dia itu budakku dan oleh karenanya halal bagiku, untuk menyenangkanmu, Aku, saat ini, membuatnya jadi haram bagiku. Tapi Hafsa tidak menerima ini dan meminta nabi bersumpah demi Allah, nabi melakukannya. Ketika nabi keluar rumah dia ketuk dinding yang memisahkan kamarnya dengan Aisha dan menceritakan semuanya. [42]

Bagi orang Muslim sumpah tidak ada artinya. Mereka menjanjikan sesuatu dan melanggarnya jika mereka mau. Bukhari melaporkan sebuah hadits dimana Muhammad berkata: “Demi Allah, dan jika Allah menghendaki, jika aku mengambil sumpah dan belakangan kudapatkan sesuatu yang lebih baik dari itu, maka aku lakukan yang lebih baik itu dan kuabaikan sumpahku.”.[43] Dan dia sarankan para pengikutnya untuk melakukan hal sama: “Jika kau pernah mengambil sumpah untuk melakukan sesuatu dan belakangan kau dapatkan sesuatu yang lebih baik, maka kau harus mengabaikan sumpahmu dan melakukan hal baik itu.”[44]

Orang narsisis percaya mereka berhak untuk apapun yang mereka inginkan dan janji-janji, sumpah-sumpah dan kewajiban-kewajiban tidaklah mengikat mereka.

Satu hari Muhammad menemui anak angkat/adopsinya Zaid dan disana dia hanya bisa menemui istrinya Zainab, Muhammad melihat tubuh Zainab lewat baju rumahnya yang tersingkap. Dia terangsang oleh keindahan dan kecantikan Zainab dan tidak mampu menahan birahinya. Ketika Zaid menyadari hal ini, dia merasa berkewajiban untuk menceraikan istrinya agar Muhammad bisa memilikinya. Hal yang menarik adalah bahwa beberapa tahun sebelumnya, ketika Muhammad mengaku naik ke surga, dia bilang disana dia bertemu seorang wanita. Dia bertanya-tanya tentang wanita itu, kata mereka itu adalah Zainab, yang lalu jadi istrinya Zaid. Lalu dia ceritakan kisah, yang menyalahi waktu, ini pada Zaid yang lalu menikahinya karena dia pikir pernikahannya itu sudah diatur di surga dan harus dia lakukan. Tapi sekarang, ketika Muhammad melihat tubuh setengah telanjang Zainab, dia lupa semua kisah-kisah surganya, tentang perkawinan Zaid dan Zainab di surga. Tentu saja, tak seorangpun tahu selain dia bahwa seluruh kisah Mi’raj (kenaikan ke surga) itu hanya karangannya belaka.

Pernikahannya pada Zainab, menantunya sendiri, mengagetkan orang bahkan para pengikutnya juga. Untuk mendiamkan mereka, lagi-lagi sang Allah keluar dari kantongnya dengan ayat yang mengatakan Muhammad bukanlah ayah siapapun tapi utusan Allah dan Nabi Penutup (Q.33:40). Dia klaim bahwa pernikahannya dengan Zainab telah diatur Tuhan untuk menunjukkan pada orang-orang bahwa adopsi anak itu hal yang buruk dan harus ditiadakan. Seperti yang anda lihat, hanya karena dia tidak bisa mengontrol birahinya, dia membuat Allah palsunya mengatakan pada orang banyak bahwa adopsi itu salah, menghilangkan harapan tak terhitung anak-anak yatim untuk mendapatkan kesempatan kedua bagi hidupnya. Tidakkah ini saja mendiskualifikasikannya sebagai utusan Tuhan? Bagaimana bisa Tuhan Maha Kuasa terhina oleh adopsi, yang mungkin menjadi salah satu tindakan paling manusiawi dan mulia?

Ada kisah menarik yang berhubungan dengan topik ini. Setelah Muhammad meniadakan adat kebiasaan adopsi, Abu Hudayfa dan istrinya Sahla, yang telah mengadopsi seorang anak bernama Salim, mendatangi Muhammad untuk meminta nasihat. “Rasul Allah, Salim (budak yang dibebaskan oleh Abu Hudhaifa) tinggal bersama di rumah kami,” kata Sahla. “Dia telah mencapai puber sebagai seorang laki-laki dan telah tahu perihal seks seperti layaknya lelaki dewasa.” Sebagai jawabannya, Muhammad mengarang solusi yang ‘mengherankan’. “Susui dia,” katanya. “Bagaimana bisa kususui dia sedang dia sudah dewasa?” Tanya Sahla terkejut. Muhammad tersenyum dan berkata: “Aku tahu dia sudah jadi lelaki muda.” Malah Salim sudah cukup umur untuk ikut dalam peperangan di Badar. Dalam hadits lain, ada yang menceritakan bahwa setelah pernyataannya yang salah itu, Muhammad tertawa terbahak-bahak. [45]

Menurut Muhammad, dengan menyusui telah ditetapkan hubungan satu tingkat antara anak-ibu, meskipun bila seorang wanita menyusui seorang anak yang bukan anak biologisnya. Dr. Izzat Atiya dari Universitas Al-Azhar Mesir, salah satu institusi Sunni Islam yang paling terkenal, yang terilhami oleh hadits ini, menawarkan cara lain untuk mengatasi pemisahan ruangan untuk yang berbeda jenis kelamin di tempat kerja. Dia mengeluarkan sebuah fatwa (aturan religius yang harus diikuti) yang mengijinkan para wanita untuk menyusui teman kerjanya yang lelaki “langsung dari payudaranya” sedikitnya lima kali untuk menjadikan adanya ikatan keluarga dan dengan demikian mereka diijinkan untuk berdua dalam satu ruangan di tempat kerja. “Menyusui seorang dewasa bisa mengakhiri masalah pertemuan/rapat dalam tempat kerja dan tidak melarang pernikahan.” Aturnya. “Seorang wanita di tempat kerja bisa melepas kerudungnya atau memperlihatkan rambutnya di depan seseorang yang telah dia susui.”

Meski sebagian muslim tidak punya masalah dengan fatwa ini, karena mereka diberitahu bahwa ini berdasarkan Hadis yang Sahih, tetap saja fatwa ini menimbulkan kemarahan di seluruh tanah Mesir dan dunia Arab, dan Dr. Atiya dipaksa untuk menarik fatwanya kembali..[46]

Ada sebercik harapan dalam hal ini. Episode ini menunjukkan bahwa ada batas dimana Muslim rela untuk dibodohi dan lebih dari itu mereka tidak mau menerima. Disanalah bergantung keyakinan saya, bahwa sekali saja kebenaran Islam ditelanjangi, sejumlah besar orang muslim akan melihat sinar dan meninggalkan keyakinan mereka.

Muhammad mengenalkan kembali tradisi kaum pagan, yaitu puasa di bulan Ramadhan. Tapi, dia dapat kesulitan untuk tidak mendapat makanan dan air, dari subuh sampai magrib, jadi dia makan kapan saja dia mau. Ibn Sa’d menulis: “Rasul Allah suka berkata ‘Kami para nabi perlu melakukan sarapan pagi kami lebih lambat dari orang lain dan secepatnya mengakhiri puasa di sore hari.’”[47]

Ini baru sedikit saja dari banyak contoh betapa Muhammad berbuat semaunya dan membuat Allahnya setuju apa yang dia lakukan. Aisha yang cerdas dan masih muda melihat hal ini dan secara sarkastik, atau lugu berkata “kurasa Allahmu cepat sekali dalam hal memenuhi keinginan-keinginan dan hasrat-hasratmu.”[48]

Muhammad tidak pernah mempertaruhkan nyawanya dalam semua perang yang dia lakukan. Dia lebih sering berdiri di belakang pasukan dengan memakai dua lapis baju besi,[49] satu baju melapis baju lain. Baju besi dobel ini membuatnya begitu berat hingga gerakannya terbatas dan dia perlu dibantu untuk berdiri atau berjalan. Dengan begini dia akan berteriak ke arah depan dan dengan kerasnya menyemangati anak buahnya agar berani dan jangan takut mati, menjanjikan mereka perawan-perawan berdada busung dan makanan surga di dunia lainnya. Kadang dia menggenggam pasir dan melemparkannya ke arah musuh sambil mengutuk mereka.

Untuk mendanai ekspedisi militernya, sang nabi Allah mendesak para pengikutnya untuk menyumbang dari harta mereka. Dia dorong mereka untuk melayaninya dan menanti-nantinya. Dia dorong pemujaan mereka dan dengan sangarnya mengerutkan dahi pada mereka yang tidak setuju dengannya. Suku Quraish punya seorang negosiator (perunding) bernama Orwa, yang mengunjungi Muhammad di Hudaibiyyah. Dia mengatakan bahwa dia pernah melihat sang Khusraos, sang Kaisar dan sang Najashi, tapi belum pernah dia melihat, sampai saat ini, pelayanan dan perhatian yang begitu hebat, pada raja manapun. Dia berkata pada orang-orang Quraish bahwa para pengikut Muhammad “berlari untuk menadahi air bekas wudhunya, berlomba menangkap ludahnya, atau menangkap rambutnya agar jangan jatuh menyentuh tanah.”[50] Jangan menganggap bahwa ini cerita yang dibesar-besarkan di kemudian hari, karena sejarawan Sir William Muir percaya itu. Muhammad, sama seperti pemimpin aliran cult lain, yang menciptakan sebuah pribadi cult di sekitar dirinya. Kita bisa melihat pemujaan pribadi seperti ini dalam aliran cult modern sekarangpun. Inilah caranya sang narsisis ingin diperlakukan.

Muhammad berpikir dirinya ada diatas hukum. Dia melanggar kode-kode etika dan moral kapanpun dia suka, dan dia buat Allahnya mengeluarkan ayat untuk mengkonfirmasi bahwa apa yang dia lakukan itu benar.

Orang-orang Arab adalah orang gurun pasir yang sederhana, tapi mereka punya harga diri dan bangga akan sikap ksatria mereka. Dalam setahun ada beberapa bulan dimana mereka tidak boleh berperang. Bulan-bulan Ini dikenal sebagai bulan suci, dimana orang melakukan perjalanan dengan aman untuk ziarah. Di salah satu bulan suci ini, Muhammad mengirim sebuah ekspedisi ke Nakhlah, sebuah tempat yang dikenal akan pohon-pohon palemnya, untuk mengepung dan menyergap sebuah karavan yang membawa kismis, mentega, arak dan barang-barang lain dari Taif ke Mekah. Bertempur dan membunuh di bulan suci adalah sebuah pelanggaran terhadap hal yang dianggap keramat. Dia mengirim delapan orang ke arah Nakhlah tanpa memberitahu mereka tentang misinya. Dia memberi surat yang disegel kepada pemimpin ekspedisi dan memberi instruksi untuk membukanya setelah mencapai tujuan. Ketika mereka buka surat itu, mereka sadar Muhammad meminta mereka untuk merampok sebuah karavan di bulan suci. Dua orang dari mereka, kehilangan (menghilangkan) onta dan pura-pura mencarinya agar tidak ambil bagian dalam perampokan itu. Enam orang lainnya, berdiskusi dan akhirnya meyakinkan diri mereka sendiri bahwa perintah sang nabi harus dipatuhi meskipun bertentangan dengan nurani mereka dan kelihatannya tidak bermoral dan tidak etis. Utk menyiapkan sergapan, mereka mencukur gundul rambut mereka dan pura-pura bersiap untuk melakukan ziarah, dan ketika para penjaga karavan menurunkan penjagaan, karena mereka lihat yang datang adalah para peziarah, mereka menyergapnya, membunuh satu orang dan menawan dua orang sebagai sandera. Orang keempat lolos. Ini adalah kucuran darah pertama yang dilakukan dalam nama Islam. Pertumpahan darah pertama dalam sejarah Islam adalah darah seorang non muslim oleh muslim. Muslim yang memulai permusuhan-permusuhan. Mereka yang menganiaya orang yang tidak setujuan dengan mereka, bukan sebaliknya. Pembunuhan ini menimbulkan kegemparan di seluruh suku Quraish yang sadar bahwa lawan mereka, untuk mendapatkan kekuasaan, tidak akan menghormati hukum apapun.

Tak terhitung banyaknya kasus dimana Muhammad melanggar hokum-hukum daerah/tanah tersebut dan mengabaikan kode etik, kesopanan dan moralitas. Mengepung karavan dagang atau merampok dusun-dusun dan menyita harta mereka adalah sebuah pencurian dan ini bertentangan dengan hukum dalam masyarakat mana saja. Muhammad menyergap kelompok-kelompok tak bersenjata ketika mereka tidak sadar akan diserang (tidak siap), membunuh sebanyak mungkin laki-laki tak bersenjata, memperbudak para wanita dan anak-anak, dan membuat Allahnya menyetujui semua yang dia lakukan. Dia juga mengijinkan untuk melakukan seks dengan wanita tawanan perang, meski wanita itu telah/masih menikah. (Sura 4.24)

Dari incest hingga poligami, dari perkosaan hingga pedofilia, dari pembunuhan sampai pembantaian masal, Nabi Allah telah/pernah melakukan semuanya dan mendorong para pengikutnya untuk melakukan hal yang sama. Dia menghina pihak berwenang, dan begitu juga para pengikutnya.

Kata “Islam” artinya adalah “kepatuhan”. Quran bilang: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan.” (Q 33:36) Yang benar adalah bahkan orang-orang yang tidak percaya juga tidak punya pilihan. Mereka harus tunduk/patuh atau dibunuh. Muhammad menafsirkan ketidakpercayaan sebagai pengkhianatan. Bagi orang narsisis, orang yang tidak percaya tidak bisa ditoleransi. Mereka jadi panik dan merasa terancam. Ingatan menyakitkan ketika diabaikan waktu kecil bangkit menggoyang pribadi tidak seimbangnya. Mereka merasa sangat sakit dan mencari pembalasan dendam untuk itu.

Muhammad memandang mereka yang tidak menjadi pendukung dan pengikutnya sebagai musuh. Dia sangat paranoid dan melihat persekongkolan dimana-mana. Dia bentuk dirinya sebagai ‘pahlawan yg jadi korban’ dari kekuatan musuh yang jahat. “Musuh-musuh” ini, tentunya, tidak ada dimanapun kecuali hanya didalam khayalannya saja.

Satu faktor utama yang membuat sukses Muhammad adalah dia punya mata-mata dimana-mana yang bertindak sebagai pengumpannya dan yang membawa berita dari tempat yang akan dia serang. Begitu paranoidnya dia hingga dia mendorong para pengikutnya untuk jadi mata-mata satu terhadap lainnya, diantara mereka sendiri. Orang-orang Muslim masih melakukan ini sampai sekarang.

Seperti nabi mereka, para Muslim berpikir merekalah yang jadi korban dan dengan begitu, tindakan-tindakan terorisme mereka sepenuhnya dibenarkan. Mereka pikir kekuatan jahat asing sedang bekerja untuk menghancurkan Islam dan ada persekongkolan dunia melawan para muslim yang dipimpin oleh orang Yahudi. Mereka yakin orang Yahudi yang mengontrol dunia, khususnya Amerika, yang melakukan kehendak Yahudi dan melakukan perang melawan para Muslim demi organisasi Yahudi yang misterius dan kuat.

Para Muslim waspada akan perkataan dan tindakan mereka sendiri satu sama lain; tiap Muslim memata-matai Muslim lain untuk melihat apakah hukum-hukum Islam telah dengan benar diperhatikan. Suasana teror terciptakan di semua Negara Islam, dimana hampir tak seorangpun berani mempertanyakan hal-hal remeh sekalipun tentang ajaran-ajaran dan prinsip-prinsip Islam. Ayahmu sendiri, anak atau saudaramu bisa melaporkan ketidakpatuhanmu, yang tentu saja, akan menyebabkan kematian yang pasti bagimu.

Narsisis patologik benar-benar percaya mereka itu spesial dan dengan demikian berhak diperlakukan dengan baik oleh orang lain. Muhammad menemukan cara yang sempurna untuk tidak perlu berterima kasih pada mereka yang melakukan kehendaknya. Tidak perlu mengungkapkan rasa terimakasih, cukup dengan mengatakan pada mereka bahwa mereka harus bersyukur karena telah diberi keistimewaan untuk melayani Allah.

Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ria kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. (Sura 2.263)

Muhammad mencoba menggantikan hasrat cintanya dengan kekuasaan. Dia rindu akan cinta karena dia tidak cukup mendapatkannya dari pemberi kesenangan utamanya. Masa kecil tanpa kasih sayang adalah akar utama dari Narsisisme, kelaliman dan kelakuan psikopat. Kakek dan pamannya yang terlalu memanjakan serta kegagalan mereka untuk menetapkan batasan-batasan, telah lebih jauh mengembangkan sifat narsisistiknya. Muhammad menangis dengan pedih di kuburan ibunya. Airmata itu bukan untuk ibunya, tapi untuk dirinya sendiri. Orang narsisis tidak punya perasaan bagi orang lain. Mereka hanya sadar, bahkan terlalu menyadari, perasaan mereka sendiri, kesakitan mereka sendiri dan emosi mereka sendiri.



[1] Bahasa dalam kriteria diatas didasarkan atau dirangkum dari:

American Psychiatric Association. (1994). Diagnostic and statistical manual of mental disorders, fourth edition (DSM IV). Washington, DC: American Psychiatric Association.

Sam Vaknin. (1999). Malignant Self Love - Narcissism Revisited, first edition. Prague and Skopje: Narcissus Publication. ("Malignant Self Love - Narcissism Revisited" http://www.geocities.com/vaksam/faq1.html )

[2] Tabaqat V. 1 p. 2

[3] http://www.muhammadanreality.com/creationofmuhammadanreality.htm

[4] Tabaqat V. 1, p. 364

[5] Mark 10:18

[6] healthyplace.com/Communities/Personality_Disorders/Site/Transcripts/narcissism.htm

[7] Penyalah-gunaan situasi itu tersamarkan, tidak kentara, perlakuan tidak wajar yang kadang tidak terperhatikan oleh korbannya sendiri, hingga keadaan sudah terlambat. Penyalahgunaan situasi menembus dan meresap kedalam segala hal – tapi sulit utk dikenali dan ditunjuk. Perlakuan ini berlaku mendua, mempengaruhi kondisi dan tersebar. Karenanya ia punya efek yang busuk dan merusak. Sejauh ini, perlakuan ini adalah yang paling berbahaya dalam hal penganiayaan yang ada. Ini adalah akibat dari ketakutan – takut kekerasan, takut akan hal yg tidak diketahui, takut akan hal-hal yang tidak bisa diperkirakan, yang tak terduga dan sewenang-wenang. Ini dilakukan dengan melakukan petunjuk-petunjuk samar, dengan menyesatkan, dengan bohong yang terus menerus – dan tidak perlu, dengan meragukan dan penghinaan yang gigih, dan dengan mengilhami suasana yang penuh kesuraman dan malapetaka ("gaslighting").

[8] http://samvak.tripod.com/journal79.html

[9] healthyplace.com/Communities/Personality_Disorders/Site/Transcripts/narcissism.htm

[10] http://samvak.tripod.com/journal45.html

[11] Jon Mardi Horowitz – “Stress Response Syndromes: PTSD, Grief, and Adjustment Disorders”, Third Edition

[12] www.faqfarm.com/Q/Can_you_be_responsible_for_your_spouse's_narcissism

[13] J. D. Levine and Rona H. Weiss. The Dynamics and Treatment of Alcoholism. Jason Aronson, 1994

[14] http://www.nmha.org/infoctr/factsheets/43.cfm

[15] Persian Tabari v. 3 p.832

[16] http://samvak.tripod.com/faq66.html

[17] http://www.toddlertime.com/sam/66.htm

[18] “Aku tidak meminta pada kamu hadiah apapun utk itu kecuali cinta dari kerabat terdekatku” Tabaqat vol.1 page.3

[19] Qur’an Sura 42: verse 23

[20] http://samvak.tripod.com/faq66.html

[21] Dikutip dari Mixing oil and water karya Bridget Murray hal 52 www.apa.org/monitor/mar04/mixing.html

[22] www.toddlertime.com/sam/66.htm

[23] www.healthyplace.com/communities/Personality_Disorders/narcissism/faq66.html

[24] www.rickross.com/reference/ruiter/ruiter3.html

[25] Sira Ibn Ishaq, hal. 108

[26] Sahih Bukhari 7.62.18 Diceritakan 'Ursa: Nabi meminta Abu Bakr untuk menikahi Aisha. Abu Bakr berkata “Tapi aku saudaramu.” Nabi berkata, “Kau saudara hanya dalam agama Allah dan Kitabnya, tapi dia (Aisha) berhak bagiku utk dinikahi.”

[27] Sahih Bukhari, Volume 9, Book 87, Number 140

[28] Dr. Sam Vaknin Narcissism FAQ #57

[29] http://samvak.tripod.com/journal91.html

[30] ibid.

[31] http://news.bbc.co.uk/2/hi/americas/6682827.stm

[32] Qur’an bisa sangat membosankan, dan itu sebab utama kenapa sedikit saja muslim yang membacanya. Betapapun membosankannya, dalam bab ini saya akan mengutip beberapa ayat Quran sebagai bukti dukungan atas penggambaran saya akan Muhammad.

[33] Qur’an, sura 60, Verse 1

[34] http://samvak.tripod.com/journal79.html

[35] ibid.

[36] www.suite101.com/article.cfm/6514/95897

[37] http://samvak.tripod.com/journal79.html

[38] The Cult of Narcissist http://samvak.tripod.com/journal79.html

[39] Sir William Muir: The Life of Mohamet, Vol. 3 Ch. XII Page 115-116

[40] Ibn Sa’d, Tabaqat Vol 8: p 195

[41] Ibid

[42] Diterbitkan oleh Entesharat-e Elmiyyeh Eslami Tehran 1377 lunar H. Tafseer dan terjemahan kedalam bahasa Farsi oleh Mohammad Kazem Mo’refi

[43] Sahih Bukhari Vol.7 Book 67, No.424

[44] Sahih Bukhari Vol.9 Book 89, No.260

[45] Sahih Muslim 8.3424, 3425, 3426, 3427, 3428

[46] http://news.bbc.co.uk/2/hi/middle_east/6681511.stm

[47] Tabaqat, Volume 1, page 369

[48] Sahih al-Bukhari, Volume 6, Book 60, Number 311)

[49] Flexible armor of interlinked rings.

[50] Sirat Ibn Ishaq, p.823.

1 komentar:

  1. Dia adalah bapak buku komik yg pertama kali di dunia yg berasal dari arab..!!!buku yg penuh dgn cerita cerita konyol dimana allah akan menghadiahkan para bidadari bidari cantik 72/ laki laki untuk bercinta..!!! Dan banyak lg cerita cerita konyol yg tidak logika yg tertulis di buku ciptaannya itu yg sampai hari ini diyakini para pengikut pengikutnya adalah wahyu dari atas sono..!!!

    BalasHapus