Sabtu, 12 Maret 2011

Bab 3: Pengalaman Bawah Sadar Muhammad

Teknologi baru dalam mempelajari cara kerja otak manusia semakin mempermudah pengertian akan pengalaman mistik Muhammad yang diakuinya sendiri secara gamblang. Untuk menghindari orang menuduhnya membual, ia menunjuk Allah untuk menggambarkan apa yang dilihatnya.

Dari ia berada di ufuk yang tertinggi.

Dia datang mendekat dengan bergerak turun ke bawah.

Lalu Dia menurunkan kepada hamba-Nya apa yang patut diturunkan.

Hati tidak mengada-ada tentang apa yang telah dilihatnya.

Adakah kamu meragukan apa yang dia telah lihat ?

Dia telah melihat di suatu turunan yang lain.

Di penghujungan kesudahan.

Dimana lokasi Syurga yang abadi ditempatkan.

Mata mata tidak berpaling, dan tidak juga menjadi buta.

(Q.53:6-1 http://www.submission.org/indonesia/quran/sura-53.html

Dalam ayat lain ia secara tegas menyatakan tentang pengalaman visualnya:

Dia melihatnya di ufuk yang tinggi. (Sura 81:23)

Sebuah hadis melaporkan sang nabi bercerita tentang pengalamannya:

Saat saya sedang berjalan saya mendengar suara dari langit. Saya melihat ke atas dan lihatlah! Saya melihat malaikat yg sama yang mendatangi saya di Goa Hira', duduk disebuah kursi antara langit dan bumi. Saya begitu takut olehnya sampai saya jatuh ketanah. Dan saya pergi ke isteri saya dan mengatakan, 'Selimuti saya dengan jubah! Selimuti saya dengan jubah!' Mereka menyelimuti saya dan lalu Allâh mewahyukan: [1]

Saat seseorang bertanya,"Bagaimana wahyu ilahi datang kepadamu ?"



Muhammad menjawab,

"Kadang seperti bunyi lonceng, bentuk wahyu ini yang paling sulit dari semuanya dan lalu keadaan ini lewat sampai saya mengerti apa yang diwahyukan. Kadang malaikat datang dalam bentuk lelaki dan berbicara kepada saya dan saya mengerti apapun yang dikatakannya." 'Aisha menambahkan: Sesungguhnya saya melihat Nabi sedang mendapatkan wahyu pada sebuah hari yang sangat dingin dan melihat keringat deras dari keningnya (saat wahyu selesai). [2]

Ibn Sa'd mengatakan, “Pada saat turunnya inspirasi, kecemasan melanda Nabi, dan raut wajahnya nampak gundah gelisah.”[3] Ia melanjutkan, “Ketika wahyu diturunkan pada Nabi, selama beberapa jam ia biasanya menjadi mengantuk seperti orang tertidur.[4] Bukhari mengatakan: “Wahyu ilahi kepada Rasulallah dimulai dalam bentuk mimpi-mimpi dalam bentuk sinar terang.” [5]

Sebuah hadis yang dicatat Muslim menulis: “A'isha, istri Rasulullah melaporkan: (Bentuk) pertama yang memulai wahyu kepada Rasulullah adalah gambaran dalam mimpi. Dan ia tidak melihat gambaran apapun kecuali wahyu yang datang seperti sinar cerah fajar.”[6]

Tabari melaporkan: “Nabi mengatakan, ‘Saya berdiri, namun jatuh pada lutut saya; dan merangkak pergi, bahu saya gemetaran.”[7]

Bukhari juga mencatat sebuah hadis panjang yang menggambarkan seluruh episode tentang bagaimana Muhammad menerima wahyu-wahyunya.

Diriwayatkan oleh 'Aisha:

Permulaan Wahyu Ilahi kepada Rasulullah adalah dalam bentuk mimpi dalam tidurnya. Ia tidak pernah bermimpi tetapi (wahyu) itu datang seperti terang sinar pagi hari. Ia biasanya menyingkirkan diri ke (goa) Hira’ dimana ia memuja (Allâh saja) berulang-ulang selama berhari-hari dan bermalam-malam. Dalam perjalanannya, ia biasanya membawa makanan dan lalu kembali kepada (isterinya) Khadijah untuk menjemput makanan untuk melanjutkan periode berikut (di goa Hira), sampai Kebenaran tiba-tiba turun padanya saat ia berada dalam goa Hira. Malaikat datang padanya di dalam wahyu tersebut dan memintanya (Muhammad yang buta huruf) untuk membaca. Nabi menjawab, "Saya tidak dapat membaca. Malaikat memegang saya (dengan keras) dan menekan saya begitu keras sampai saya tidak tahan lagi. Ia kemudian melepaskan saya dan sekali lagi meminta saya agar membaca dan saya menjawab, "Saya tidak bisa membaca," dan dengan itu ia kembali memegang saya dan menekan saya untuk kedua kalinya sampai saya tidak tahan lagi. Ia kemudian membebaskan saya dan kembali meminta agar saya membaca, "Saya tidak tahu bagaimana membaca (atau, apa yang harus saya baca?)." Saat itu ia memegang saya untuk ketiga kalinya dan menekan saya dan membebaskan saya dan mengatakan, "Bacalah: Dalam Nama Allah yang Menciptakan (semua yang ada). Ia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu yang Maha Mulia ... " (Q.96:1-5)

Lalu Rasulullah kembali dengan wahyu itu, otot-otot lehernya bergetar-getar dengan keras sampai ia menemui Khadijah dan mengatakan, "Selimuti saya! Selimuti saya!" Mereka menyelimutinya sampai seluruh ketakutannya padam dan lalu ia mengatakan, "O Khadijah, ada apa dengan saya ?" Lalu ia menceritakan semua yang terjadi dan mengatakan, 'Saya khawatir bahwa sesuatu akan terjadi pada saya.’ Khadijah mengatakan, 'Tidak mungkin! Namun berbahagialah, karena Allâh tidak akan pernah mempermalukanmu karena kau membina hubungan baik dengan sanak saudaramu, berbicara kebenaran, membantu fakir miskin dan melarat, melayani tamu-tamumu dengan murah hati dan membantu mereka yang memerlukan, yang dilanda bencana."

Khadijah lalu membawanya kepada (saudara sepupunya) Waraqa bin Naufal bin Asad bin 'Abdul 'Uzza bin Qusai. Waraqa adalah putera paman dari garis ayah, yi, kakak ayahnya, yang selama masa Pra-Islam menjadi seorang Kristen, ahli menulis abjad Arab dan menulis Injil dalam bahasa Arab sesuai dengan kehendak Allah. Ia adalah seorang tua yang telah kehilangan daya penglihatannya. Khadijah mengatakan kepadanya, "Ya saudaraku ! Dengarkanlah cerita keponakanmu." Waraqa mengatakan, "Ya keponakan! Apa yg kau lihat?" Nabi menggambarkan apa yang ia lihat.

Waraqa mengatakan, "Ini adalah Namus yang sama (yi., Jibril, malaikat yang menyimpan rahasia-rahasia) yang dikirim Allâh kepada Musa. Seandainya saya masih muda dan bisa hidup pada jaman ketika rakyatmu …. Waraqa menjawab ya dan mengatakan: "Belum pernah seseorang datang dengan sesuatu yang mirip dengan apa yg kau bawa namun disambut dengan permusuhan. Kalau saya masih hidup pada hari kau ….. maka saya akan mendukungmu sepenuhnya.”

Namun beberapa hari kemudian Waraqa wafat dan Wahyu Illahi juga berhenti selama beberapa waktu dan nabi menjadi begitu sedih dan seperti kami dengar ia berkali-kali ingin melemparkan dirinya dari puncak gunung dan setiap kali ia pergi ke puncak sebuah gunung untuk melemparkan dirinya ke bawah, Jibril nampak di depannya dan mengatakan, "Ya Muhammad! Kau memang rasulullah yang sebenarnya" dan hatinya kemudian terhening dan ia tenang kembali dan kembali pulang. Dan setiap kali periode datangnya wahyu menjadi panjang, ia akan melakukan yang sama, tetapi saat ia mencapai puncak sebuah gunung, Jibril nampak padanya dan mengatakan apa yang dikatakan sebelumnya.

(Ibn 'Abbas tentang arti: 'Ialah yg memisahkan sinar matahari (dari kegelapan)' (6.96) bahwa Al-Asbah berarti sinar matahari selama siang hari dan sinar bulan pada saat malam hari). [8]

Cerita Waraqa, saudara sepupu Khadijah, mengakui Muhammad sebagai rasulullah, yang didasarkan pada studinya atas kitab-kitab suci yang sudah ada, tentu omong kosong. Inilah bentuk cerita-cerita Muhamad yang dikarang Muhammad untuk menguatkan klaimnya. Tidak ada apapun dalam kitab-kitab suci Yahudi atau Kristen yang menunjuk pada Muhammad. Waraqa mati dan Muhammad merasa bebas untuk menyusun kebohongan, seolah-olah cerita-cerita itu datang dari Waraqa, seperti juga klaim bohongnya bahwa kakeknya mengatakan padanya bahwa masa depannya gemilang. Tidak heran kalau Khadijah, sebagai co-dependent Muhammad, menegaskan kebohongan-kebohongan itu. Seorang co-dependent sering meng-kolaborasi kebohongan-kebohongan pasangannya yang narcissist (narsisis).

Ada klaim yang serupa yang dibuat Muhammad tentang saat ia pergi ke Busra untuk urusan dagang Khadijah. Ia mengatakan bahwa pada saat karavan-karavan masuk dari pinggir Busra, ia duduk berteduh di bawah sebuah pohon dan kemudian seorang biarawan Nestorian melihatnya.

“Siapa lelaki dibawah pohon itu ?” tanya biarawan kepada Maysarah, lelaki remaja, pembantu Khadijah yang menemani Muhammad dalam ekspedisi dagangnya ini. “Lelaki Quraish,” jawab Maysarah.” “Tiada lain daripada seorang nabi yang duduk dibawah pohon itu,” kata sang biarawan. Menurut cerita yang disusun Muhammad ini, sang biarawan mengetahui status Muhammad dari dua awan kecil yang memberinya keteduhan dari panas matahari. “Apakah ada … warna kemerah-merahan disekitar matanya yang tidak pernah hilang ?" tanya sang biarawan. Ketika remaja itu menjawab ya, ia mengatakan, “Ia pastilah nabi terakhir; selamat kepada siapapun yang percaya padanya.”

Di tempat lain ia mengaku bahwa tahi lalat diantara kedua bahunya adalah tanda kenabiannya. Saya belum pernah menemui kitab suci yang menegaskan bahwa tahi lalat diantara kedua bahu dan kemerahan di sekitar mata adalah tanda-tanda seorang nabi. Kemerahan kronis di sekitar mata adalah sebuah kondisi medis yang dinamakan blepharitis yang diakibatkan oleh radang/kebengkakan pada pelupuk mata. Satu jenis blepharitis, seperti meibomian gland dysfunction (MGD) bisa mengakibatkan kelainan kulit pada pasien yang dikenal sebagai rosacea dan seborrheic dermatitis. Rosacea juga ditandai dengan wajah yang kemerah-merahan. Ali, putera Abu Talib, menggambarkan wajah Muhammad sebagai putih-kemerahan.[9]

Muhammad menemukan penonton yang mudah percaya apa saja dan ia merasa bebas untuk mengatakan apapun pada mereka, karena ia tahu bahwa mereka akan percaya, bahkan gejala-gejala berbagai penyakitnya dinyatakan sebagai tanda-tanda kenabian. Tidak ada sebutan apapun tentang Maysarah diantara para pengikut paling dini. Kalau memang cerita ini benar, maka seharusnya Maysarah adalah orang yang pertama yang menjadi pengikut Muhammad.

Dalam hadis diatas kami melihat peran penting Khadijah dalam Islam. Saat Muhammad mengalami halusinasi anehnya ini, ia menyangka bahwa ia kesurupan. Khadijahlah yang meyakinkannya bahwa ia dipilih untuk menjadi nabi Tuhan dan mendukungnya untuk terus menggali ketidakwarasannya itu.

Ada halusinasi Muhammad yang visual, ada yang didapat dari mimpi dan ada juga yg didapatkan lewat pendengaran.

Ibn Ishaq menulis: “bahwa nabi, pada saat Allâh menurunkan rahmatnya kepadanya sebagai nabi, akan pergi membawa pengalamannya ini dalam perjalanan jauhnya, sampai ia tiba di Mekah dan bukit-bukit tanpa satu rumahpun atau batu ataupun pohon yg dilewatinya, namun ia mendengar ‘Damai besertamu, ya Rasulullâh.’ Dan nabi menengok kekanan dan kekiri dan melihat kebelakang, dan ia tidak melihat apapun kecuali pohon-pohon dan batu-batu.” [10]

Muhammad juga memiliki sejumlah halusinasi lain.

Diriwayatkan Abu Huraira: “Nabi menawarkan solat dan mengatakan, “Setan datang di depan saya dan mencoba menggangu solat tetapi Allâh memberi saya kekuatan dan saya mencekiknya. Saya berpikir untuk mengikatnya pada salah satu pilar mesjid sampai kau bangun di pagi hari dan melihatnya. Lalu saya mendengar pernyataan Nabi Solomon, 'Ya Tuhan! Berikan saya kerajaan yang tidak akan dimiliki oleh siapapun setelah saya.' Lalu Allâh mengusirnya (Setan) dengan kepala tunduk (dihina).”[11]

Diriwayatkan Aisha:

Penyihiran terjadi pada Rasululah sehingga ia menyangka bahwa ia telah senggama dengan istri-istrinya padahal tidak (Sufyan mengatakan: Itu penyihiran paling sulit mengingat dampaknya). Lalu satu hari ia mengatakan, "Ya 'Aisha tahukah kau bahwa Allâh memerintahkan saya tentang hal yang saya tanyakan padanya ? Dua lelaki datang kepada saya dan salah seorang duduk dekat kepala saya dan satunya lagi duduk dekat kaki saya. Yang di dekat kepala saya bertanya kepada rekannya. Apa yang terjadi pada orang ini ? Yang di belakang menjawab bahwa ia berada dalam pengaruh sihir. Yang pertama bertanya, Siapa yang menyihirnya?' Yang lainnya menjawab, Labid bin Al-A'sam, lelaki dari Bani Zuraiq, sekutu Yahudi dan seorang munafik.' Ditanya kemudian, ‘Apa bahan-bahan yang digunakannya ?' Dijawabnya, 'Sebuah sisir dan rambutnya yang menyangkut padanya.' Yang pertama kemudian bertanya, 'Dimanakah (benda itu)?' Yang lainnya menjawab. 'Dalam kulit sari pohon kurma jantan yang disimpan di bawah sebuah batu dalam sumur Dharwan.' Jadi, nabi pergi ke sumur itu dan mengeluarkan barang-barang itu dan mengatakan ‘Inilah sumur yang ditunjukkan pada saya (dalam mimpi). Airnya mirip sari daun-daun Henna dan pohon-pohon kurmanya nampak seperti kepala-kepala setan.’ Nabi menambahkan, ‘Kemudian benda itu dicabut'. Saya mengatakan (kpd nabi) ‘Mengapa anda tidak merawat diri anda dengan Nashra?’ Katanya, ‘Allâh sudah menyembuhkan saya; saya tidak suka membiarkan setan tersebar diantara orang-orang saya.’[12]

Dalam hadis lain ditulis : “Wahyu datang kepada rasulullah dan ia diselimuti dengan selembar kain dan Ya'la mengatakan: Bisakah saya melihat datangnya wahyu kepada rasulullah. Ia (Omar) mengatakan: Apakah kau akan senang melihat Rasulullah menerima wahyu. 'Omar mengangkat sudut jubah nabi dan saya melihat padanya dan ia (nabi) terdengar sedang mengorok. Ia (narator) mengatakan: Saya menyangka itu suara onta.” [13]

Lagi-lagi hadis : “Ketika Jibril menurunkan Wahyu Ilahi kepada Rasulullah, ia menggerak-gerakkan lidah dan bibirnya, keadaan itu sangat menyiksanya dan gerakan itu menunjukkan bahwa wahyu sedang diturunkan..”[14]

Jadi inilah daftar dampak fisik dan psikologis turunnya wahyu terhadap jiwa dan raga Muhamad berdasarkan pada hadis.

1. Halusinasi melihat malaikat, sinar terang atau mendengar suara-suara

2. Kejang-kejang tubuh dan sakit perut yang sangat menyiksa

3. Tiba-tiba dirasuki perasaan gelisah dan ketakutan

4. Gerakan otot-otot leher

5. Gerakan bibir dan lidah yang tidak dapat dikontrol

6. Berkeringat pada hari-hari yang sangat dingin

7. Wajah kemerah-merahan

8. Raut wajah yang gundah gelisah

9. Gerakan jantung yang sangat cepat

10. Mengorok seperti onta

11. Mengantuk

12. Keinginan untuk bunuh diri

Semua ini adalah gejala-gejala penyakit temporal lobe epilepsy [TLE].

Satu lagi karakteristik TLE adalah bahwa TLE terjadi tiba-tiba tanpa peringatan terlebih dahulu kepada pasien. Ini sesuai dengan pengalaman mistik Muhammad.

Bukhari melaporkan: “Rasulullah bercerita tentang periode tidak datangnya wahyu … ‘Suatu hari saat saya berjalan, tiba-tiba saya mendengar suara dari langit. Saya melihat keatas dan saya heran melihat malaikat yang sama yang mengunjungi saya di goa Hira’…"[15]

Angan-angan untuk Bunuh Diri

Para narator mengatakan bahwa Muhammad sering mencoba bunuh diri, namun selalu dihentikan oleh Jibril. Ia tadinya menyangka bahwa ia telah menjadi seorang penyair atau seorang juru nujum:

“Saya tidak pernah membenci seseorang seperti saya membenci seorang penyair atau seorang kahin. Saya tidak sudi memandang keduanya. Saya tidak akan pernah bercerita kepada suku Quraish manapun tentang wahyu-wahyu saya. Saya akan menaiki sebuah gunung dan melemparkan diri saya dan mati. Itu akan melegakan saya. Saya pergi untuk melakukannya namun di tengah jalan saya mendengar suara dari langit yang mengatakan ‘Ya Muhammad! Kau adalah rasulullah dan saya Jibril.’ Saya berhenti dan melihatnya. Ia mengalihkan perhatian saya dari apa yang ingin saya lakukan. Saya berdiri di tempat dengan tertegun. Saya mencoba memalingkan mata saya darinya, tetapi ke bagian langit manapun mata saya mengarah, saya melihatnya seperti sebelumnya.”[16]

Apa yang dilihat Muhammad berada dalam kepalanya sendiri, mengikuti kemanapun matanya bergerak. Gambar pada sampul buku saya ini menunjukkan Jibril menampakkan diri di berbagai tempat pada saat yang sama. Namun, ini bukan cara Muhammad menjelaskan apa yang dilihatnya. Apa yang dilihatnya bisa digambarkan sebagai halusinasi visual. Ini terjadi pada berbagai kondisi non-psychiatric termasuk cerebral lesions, sensory deprivation, the administration of psychedelics & migraine.

Ada halusinasi yang bersifat sederhana, yaitu pasien melihat sinar, warna atau bentuk-bentuk geometris. Halusinasi semacam ini sering timbul dalam occipital lobe epilepsy. Delusi dan halusinasi yg complex, seperti yang dialami Muhammad terjadi pada serangan temporal lobe dan kelainan neurologis lain seperti Parkinson’s disease & Creutzfeldt–Jakob disease. Halusinasi-halusinasi ini biasanya gambaran sangat jelas dari binatang, manusia atau sosok-sosok mitologis seperti malaikat, jin[17] dan mahluk luar angkasa (extraterrestrials). Mereka bisa datang lewat pendengaran, perasaan di mulut dan bahkan dalam mimpi (auditori, gustatori, olfactori dan bahkan halusinasi-halusinasi somatosensori).

Halusinasi-halusinasi somatosensori dan kinestetik biasanya diasosiasikan dengan kejang-kejang temporal lobe. Ini menjelaskan pengalaman Muhammad di goa Hira’ saat ia merasakan bahwa Jibril menggenggamnya dengan sebegitu kuat sampai ia kesakitan di perut bagian bawah (abdomen) sampai ia menyangka ia akan mati.

Periset sains, Scott Atran, menjelaskan, “Aktifitas alterasi yang tiba-tiba dalam hippocampus dan amygdala dapat mempengaruhi persepsi auditori, vestibular, gustatori, tactile, olfaktori dan mengakibatkan halusinasi-halusinasi yang meliputi suara-suara atau musik, perasaan terhanyut atau suspensi fisik perasaan mengecap obat penawar, rasa terbakar atau belaian, aroma surga atau bau busuk neraka. Sebagai contoh, oleh karena bagian tengah dari amygdala menerima fiber/serabut dari sistem olfactori, stimulasi langsung dari bagian amygdala itu akan membanjiri kejadian-kejadian di sekeliling dengan bau-bauan yang kuat. Dalam ritual-ritual religious, rempah dupa dan bau-bauan harum menstimulir amygdala sehingga wangi-wangian dapat digunakan untuk memfokuskan perhatian dan interpretasi akan kejadian-kejadian yang ada di sekeliling. Pada temporal-lobe epilepsy, penghentian arus listrik yang tiba-tiba pada area itu memasukkan aspek-aspek lain dari pengalaman epilepsi dengan pancaran/aura bau-bauan.”[18]

Muhammad menggambarkan Jibril sebagai memiliki 600 sayap. Inipun sulit dibayangkan. Buraq, kuda yg ditumpanginya pada malam ia terbang ke Yerusalem dan ke surga, memiliki kepala manusia dan sayap burung rajawali. Kecuali orang bersedia percaya dalam absurditas ini, jelaslah bahwa Muhamad sedang berhalusinasi.

Sejarawan dan akademisi Muslim dari Mesir, Haykal, menggambarkan surga-surga yang didatanginya. Surga pertama terbuat dari perak murni dan bintang-bintang bergelantungan dari atapnya dengan rantai emas.” [Ini menunjukkan bahwa Muhammad tidak memiliki pengertian apapun tentang sifat bintang. Ia menyangka bintang-bintang sebagai sesuatu yang mirip lampu-lampu pohon natal yang bergelantungan dari atap langit. Ini memang konsisten dengan teori kosmologi Ptolemy yang dipercaya luas pada jaman itu.]. Pada setiap bintang ada malaikat yang berjaga-jaga untuk menghindari gendruwo naik ke dalam tempat-tempat suci dan menghindari hantu-hantu dari diam-diam mendengarkan rahasia-rahasia surgawi. [Absurditas ini juga dinyatakan dalam Qur’an, bahwa jin berdiri diatas sesama bahu mereka untuk mendengarkan diskusi “Majelis Mulia, sampai mereka ditembak jatuh oleh bintang-bintanng yang ditembakkan pada mereka seperti peluru misil. Di jaman dulu orang menyangka bahwa meteorit adalah bintang-bintang yang berjatuhan (shooting stars.[19]]

Disana, Muhammad menyalami Adam. Dan dalam keenam surga lainnya. ia berjumpa dengan Nuh, Harun, Musa, Abraham, Daud, Salomo, Idris (Henokh), Yahya (Yohanes Pembaptis) dan Yesus. Ia melihat malaikat kematian, Azrail, yang tubuhnya begitu besar sampai-sampai kedua matanya berjarak 70.000 hari perjalanan berbaris. [Sekitar 10 kali lebih besar dari jarak antara Bulan dan Bumi] Ia memiliki 100.000 batalyon dan melewatkan waktunya dengan menulis dalam sebuah buku raksasa nama-nama mereka yang mati atau dilahirkan. Ia melihat malaikat air mata yang menangis bagi dosa-dosa dunia; Malaikat Pembalas dengan wajah yang besar yang tertutup oleh bisul-bisul yang menguasai api dan duduk dalam singgasana berapi; dan satu lagi malaikat raksasa yang tubuhnya terdiri dari setengah salju dan setengah api yang dikelilingi oleh koor surga yang terus menerus menangis: `Ya Tuhan, Kau menyatukan api dan salju, menyatukan semua abdi-abdimu untuk tunduk pada hukum-hukum-Mu. Dalam surga ketujuh dimana jiwa-jiwa orang-orang baik tinggal ada malaikat yang lebih besar dari seluruh dunia dengan 70.000 kepala; setiap kepala memiliki 70.000 mulut dan setiap mulut memiliki 70.000 lidah dan setiap lidah berbicara dalam 70.000 bahasa dan tidak habis-habisnya menyanyikan pujian kepada Sang Maha Kuasa.’[20]

Muhammad memang memiliki daya khayal yang luar biasa. Namun pemikirannya jelas rancu. Makhluk-makhluk diatas itu bahkan sulit dibayangkan, apalagi eksis.

l Muhamad melihat malaikat yang ukurannya lebih besar dari bumi ini, yang sebenarnya sebuah oxymoron.

l Malaikat ini memiliki 70.000 kepala; setiap kepala memiliki 70.000 wajah. (Total wajah yg dimilikinya adalah : 4.900.000.000)

l Setiap wajah memiliki 70.000 mulut (Total mulut : 343.000.000.000.000)

l Setiap mulut memiliki 70.000 lidah (Total lidah 24.010.000.000.000.000.000)

l Setiap lidah mampu bercakap dalam 70.000 bahasa (Total bahasa yang mampu digunakannya : 1,680,700,000,000,000,000,000,000)

Mengapa Allâh merasa perlu menciptakan mahluk monster seperti itu hanya agar mahluk itu bisa memuja-mujanya tanpa akhir dalam berbagai bahasa pula? Mahluk macam itu hanya bisa dibayangkan oleh orang yang sedang menderita halusinasi akut. Bayangkan seseorang mengisi rumahnya dengan ratusan komputer dan alat perekam dan memprogram mereka agar alat-alat itu memuja sang pemilik, setiap waktu dalam segala macam bahasa. Bukankah itu gila? Allâh adalah perwujudan ego Muhammad dan segala yang ia inginkan. Psikologi Allâh merefleksikan psikologi Muhammad. Sebagai seorang narsisis, ia memiliki kehausan besar agar dipuja, begitu pula tuhannya yang tidak lain hanyalah perwujudan dirinya.

Muhammad adalah orang yang suka menyendiri. Ia menikahi seorang wanita penting, tapi ia sendiri bukan orang penting dan bahkan diejek oleh sukunya sendiri. Halusinasinya, yang ditafsirkan oleh isterinya sebagai tanda kenabian, adalah suplai narsistiknya yang paling besar. Saat halusinasinya berhenti, ia menjadi depresi.

Vaknin mengatakan: “Depresi adalah komponen besar dalam sifat emosional sang narsisis. Namun ini sebagian besar adalah karena absennya suplai narsisistik tersebut. Ini sebagian besar ada hubungannya dengan nostalgia akan saat lebih bahagia, penuh pemujaan dan perhatian dan tepukan tangan … Depresi adalah sebuah bentuk agresi. Dalam bentuk lain, agresi ini ditujukan kepada sang penderita depresi ketimbang kepada lingkungannya. Agresi yang direpresi dan dimutasi ini adalah karakter baik narsisisme maupun depresi. …

Namun, sang narsisis, walaupun depresi, tidak pernah melupakan narsisisme-nya: grandiositasnya, perasaan bahwa segala-galanya merupakan hak miliknya, kesombongannya dan kekurangan rasa empati.”[21]

Ini tidak hanya menjelaskan sebab-musabab depresi Muhammad dan pemikirannya untuk bunuh diri namun juga mengapa ia tidak pernah menuntaskan bunuh diri tersebut. Narsisis jarang bunuh diri. Betapa anehnya bahwa dalam setiap kali Muhammad mencoba untuk bunuh diri, Jibril datang menyelamatkannya, dan proses itu diulanginya kembali. Narsisis biasanya tidak pernah menuntaskan bunuh diri mereka, Mereka hanya mengungkapkannya guna mencari simpati.

“Bagaimana mungkin seorang narsisis yang menganggap diri sebagai seorang yang besar, sebagai orang yang teramat penting, sebagai pusat alam semesta, lalu bunuh diri ? Agatha Christie menulis dalam Dead Man's Mirror: “Ia jauh lebih mungkin akan menghancurkan orang lain – seseorang yang berani mengusiknya.... Tindakan macam itu bisa dianggap penting – malah suci! Namun menghancurkan diri sendiri? Penghancuran seorang diri macam itu?”

Berbeda dengan pasien bipolar yang memerlukan perawatan medis untuk mengobati depresi mereka, seorang narsisis hanyalah memerlukan “satu dosis suplai narsistik untuk mengangkat perasaannya dari depresi menjadi manic euphoria yang sangat tinggi”, kata Vaknin.[22]

Temporal Lobe Epilepsy

Kejang-kejang tubuh yg diasosiasikan dengan TLE terdiri dari simple partial seizures atau kejang-kejang sebagian tubuh tanpa kehilangan kesadaran (dgn atau tanpa aura/peringatan) dan complex partial seizures (yaitu dengan kehilangan kesadaran). Sang penderita kehilangan kesadaran selama sebuah complex partial seizure karena kejang-kejangnya melibatkan kedua cuping temporal, yang mengakibatkan gangguan ingatan.[23]

Kejang-kejang Muhammad mencakup kedua macam tipe diatas. Kadang ia jatuh dan kehilangan kesadaran, dan kadang tidak.

Menurut sebuah hadis, selama konstruksi Ka’bah, sebelum ia menerima pemberitahuan akan diangkat sebagai nabi, Muhammad jatuh ke tanah tanpa sadar dengan kedua matanya mengarah pada langit. Pada saat itu ia kehilangan kesadaran. Ini jelas tanda kejang-kejang epilepsi.

Menurut situs emedicine.com, “90% pasien dengan abnormalitas temporal interictal epileptiform pada EEG mereka pernah mengalami kejang-kejang.” Kami tahu bahwa sejak masa kecilnya, Muhamad mengalami kejang-kejang. Ia melihat dua lelaki dalam jubah putih membuka dadanya dan mencuci jantungnya dgn salju putih. Ahli bedah syaraf Amerika dan pionir ahli bedah otak, Harvey Cushing, melaporkan tentang seorang anak lelaki dengan sebuah cystic glioma dalam cuping temporal bagian kanan mengalami halusinasi kuat tentang seseorang dalam tiga dimensi dengan jubah putih.

Neurologis Irlandia-AS, Robert Foster Kennedy (1884-1952) adalah salah seorang yang pertama yang mengidentifikasikan halusinasi kuat yang bersifat audio-visual (bisa didengar dan dilihat) yang terjadi diluar tubuh penderita, sebagai berasal dari cuping temporal.[24]

Tentang masa mudanya, Muhammad mengatakan:

Saya berada diantara anak-anak lelaki Quraish, mengangkat batu-batu seperti yang digunakan anak-anak untuk bermain. Kami semua membuka baju kami, masing-masing membuka lapisan atas (selembar kain) dan dililitkan disekeliling leher sambil mengangkat batu-batu ini. Saya berbolak-balik bersama mereka ketika sebuah sosok yang tidak nampak menampar saya sampai sakit sambil mengatakan, ‘Kenakan bajumu’. Jadi saya mengenakannya dan memulai mengangkat batu-batu itu dileher saya, berbeda dari teman-teman saya.”[25]

Nampaknya sosok-sosok dalam halusinasi Muhammad sekasar dan se-agresif Muhammad.

Gejala-gejala Kejang-kejang CupingTemporal

Kejang-kejang yang diakibatkan dari dalam temporal lobe bisa didahului oleh sebuah aura (peringatan), dalam bentuk sensasi abnormal, epigastric sensations (perasaan aneh dalam perut), halusinasi atau ilusi (entah lewat indera mata, hidung atau rasa di mulut ), sensasi déjà vu (perasaan sangat bahagia dan puas), membayangkan peristiwa atau perasaan di masa lalu atau emosi tiba-tiba dan intens yang tidak ada hubungannya dengan keadaan saat itu. Semua gejala ini hadir saat Muhammad mengalami kejang-kejang.

Pengalaman epilepsi ini bisa partial/sebagian, dimana sang penderita tidak kehilangan kesadaran, atau partial complex, yang mengakibatkan kehilangan atau kekurangan kesadaran.

Gejala-gejala lain termasuk gerakan kepala yang abnormal dan bola mata yang terangkat keatas (putih semua, bagian hitamnya tidak kelihatan). Kejang-kejang tipe inilah yang terjadi pada Muhammad saat dibangunnya Ka’bah.

Gerakan kontraksi otot yang berulang dan ritmik yang mempengaruhi satu bagian tubuh, satu lengan, bagian dari wajah atau bagian terisolasi lainnya juga merupakan gejala-gejala TLE. Gejala-gejala lain termasuk sakit perut bagian bawah (abdominal pain), perasaan mual (nausea), keringat deras, wajah kemerah-merahan, detak jantung yang cepat dan perubahan dalam visi, ucapan, pemikiran, kesadaran dan kepribadian. Jelas, halusinasi lewat panca-indera (visual, audio, sentuhan badan dsb.) adalah gejala-gejala utama.[26]

Epilepsy.dk mendefinisikan, “Simple partial seizures dengan gejala-gejala mental, yaitu si penderita bisa mengingat apa yang dialaminya tadi, dari jaman dulu dikenal sebagai ‘aura’. Kejang-kejang itu sering disusul dengan gerakan tubuh yang terhentak-hentak (convulsion). Mereka sering bagaikan mimpi … Ia berpikir ia sudah gila.”[27]

Muhammad memang merasa bahwa ia sudah gila. Khadijahlah yang meyakinkannya bahwa ia tidak gila.

Situs itu juga menulis: “Sejak lama diperdebatkan apakah penderita epilepsy memiliki kepribadian khas yang berbeda dari orang lain. Disimpulkan bahwa penderita dengan temporal lobe epilepsy lebih tidak stabil secara emosional, dengan kecenderungan untuk agresif. Ada yang menjadi egois (self-centered), mereka begitu sensitif sampai mendekati paranoia, dan setiap pernyataan bisa membuatnya tersinggung. Mereka terlalu menganalisa hal-hal secara mendalam (mengarah kepada perasaan dendam), dan sangat tertarik khususnya pada hal-hal seperti agama, hal-hal mistik, filosofis dan isu-isu moralitas.”[28]

Dijelaskan pula bahwa penderita TLE cenderung untuk depresi, berpikir untuk bunuh diri dan halusinasi. Penderita merasa bahwa ia sedang ditindas. Namun demikian, hubungan emosionalnya dengan orang-orang lain lebih baik daripada penderita schizophrenia. Berbeda dengan schizophrenia, TLE sering sembuh dengan sendirinya. Ini kemungkinan terjadi pada Muhammad, karena semakin beranjak dalam umur kejang-kejangnya semakin jarang terjadi. Namun demikian, ini tidak menghentikannya untuk terus “menerima wahyu” untuk melengkapi Qur’annya sesuai dengan keperluan keadaan.

Diantara ayat-ayat Mekah yang dini dan ayat-ayat Medinah yang belakangan, ada perbedaan dalam nada, bahasa dan struktur bahasa. Surat-surat yang ditulis selama karir Muhammad yang dini bersifat poetis. Mereka berbunyi seperti sajak, pendek dan menarik perhatian. Mereka penuh dengan permohonan agar pengikut soleh, rajin berzakat, menafkahi anak yatim, membebaskan budak, sabar, berbaik hati dan penuh kasih dan cukup banyak peringatan dan janji-janji neraka bagi mereka yang tidak mengindahkan peringatannya.

Surat 91, “Al Shams/Matahari”, adalah surat khas yang menggambarkan periode ini. Surat itu membicarakan sebuah mitos yang sudah dikenal luas oleh bangsa Arab, bahwa Allâh telah mengirimkan onta betina untuk memperingatkan rakyat Tsamud, yang karena kecerobohan mereka memotong sebuah binatang yang sebenarnya seorang nabi betina.

Demi matahari dan cahayanya di pagi hari dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaan-nya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas, ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, lalu Rasul Allah (Saleh) berkata kepada mereka: ("Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya". Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah), dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu.

Surat 113, “AL Falaq/Subuh”, adalah contoh lain tentang surat yang ditulis dalam periode Mekah ini.

Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Biasanya tukang-tukan sihir dalam melakukan sihirnya membikin buhul-buhul dari tali lalu membacakan jampi-jampi dengan menghembus-hembuskan nafasnya ke buhul tersebut. Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki".

Saat masih di Mekah, ambisi Muhammad hanya terbatas pada kota itu dan sekitarnya. Ia menulis:

Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Qur'an dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya.[29]

Ibu segala Kota, Ummul Qura, adalah Mekah. Dalam ayat-ayat lain[30] ia mengatakan bahwa ia datang khusus bagi mereka yang belum menerima wahyu dari Tuhan. Menurut ayat-ayat ini, pesannya tidak ditujukan bagi Yahudi dan Kristen. Namun dengan lajunya waktu dan ambisinya, akhirnya ia menuntut agar kesemuanya tunduk padanya atau mati.

Bahasa dalam surat-surat belakangan bersifat legalistik. Sama dengan bahasa seorang tiran yang menetapkan hukum dan peraturan bagi pengikutnya dan mendorong mereka untuk merebut wilayah baru.

Seperti dikatakan A. S. Tritton, “Kalimat-kalimatnya panjang dan sulit dicerna sehingga sang pendengar harus mengendar secara hati-hati atau ia akan kehilangan iramanya; bahasanya bersifat prosa dengan kata-kata yang berirama dalam intervalnya. Topiknya adalah peraturan, komentar atas kejadian, pernyataan kebijakan, peringatan kepada mereka yang tidak se-iya sekata dengan sang nabi, khususnya Yahudi, dan rujukan kepada cekcok rumah tangga. Daya khayalnya disini mulai melemah dan anak-anak kalimat menunjukkan kemiskinan ide-ide dengan disana sini berisi letupan entusiasme dari ayat-ayat Mekah.”[31]

Juga penting dicatat bahwa halusinasi Muhammad tidak terbatas pada malaikat Jibril. Ia juga mengaku melihat Jin dan bahkan Setan. Saat sedang solat dalam mesjid, ia mulai menggerak-gerakkan lengannya seakan bergelut dengan seseorang yang tidak kelihatan. Ia kemudian mengatakan, “Setan datang di depan saya dan mencoba mengganggu doa saya, namun Allâh memberi saya kekuatan dan saya mencekiknya. Saya berpikir untuk mengikatnya kepada tiang mesjid sehingga kau bisa melihatnya saat kau bangun di pagi hari. Lalu saya ingat pernyataan Nabi Sulaiman, 'Tuhanku! Berikan kepada saya sebuah kerajaan yang tidak dimiliki siapapun setelah saya.' Lalu Allâh membuatnya (Setan) kembali dengan kepala tunduk (terhina).”[32]

Dalam berbagai ahadis, Muhamad meriwayatkan pertemuan-pertemuannya dengan Jin. Ada cerita yang mengatakan ia bermalam di kota mereka dan membuat mereka masuk Islam. Ada paling sedikit 30 rujukan kepada Jin dalam Qur’an.

Gejala Lain TLE

Penderita TLE memiliki lima tendensi ini (diantara dan bukan selama kejang-kejang):.

1. Hypergraphia: sebuah fenomena obsesi yang diwujudkan dalam menulis atau mencatat dalam buku harian secara ekstensif. Walau mengaku buta huruf, Muhammad menyusun Qur’an, meminta orang lain untuk menulis untuknya.

2. Hyperreligiosity: kepercayaan religius yang tidak hanya intens/mendalam, namun juga bisa diasosiasikan dengan teori-teori teologis atau kosmologis yang tidak lazim. Penderita menganggap diri mendapatkan wahyu ilahi. Muhammad jelas menyibukkan diri dengan filosofi dan hal-hal mistik, yang membawanya menciptakan sebuah agama baru.

3. Menempel: Dari cerita-cerita tentang kedekatan Muhammad pada pamannya, ketika ia masih kecil, bisa disimpulkan bahwa Muhammad secara emosional sangat memerlukan orang dekat dan sangat marah saat ditolak atau dicampakkan.

4. Niat seksual yang berubah-ubah: Obsesi Muhammad kepada wanita menunjukkan bahwa minatnya kepada seks meningkat walau, seperti yang akan kita saksikan nanti, kemampuannya itu kemungkinan berkurang atau hilang sepenuhnya.

5. Agresif: emosi intens ini sering labil, sehingga suatu saat penderita bisa menunjukkan kehangatan, dan pada saat lain, kemarahan dan iritasi berujung pada amukan dan kelakuan agresif. Muhammad kadang bersifat ramah, khususnya kepada sahabat-sahabatnya, namun sangat tidak sabar dan sering jengkel pada mereka yang ia anggap menolak tuntutan-tuntutannya. Bukhari mengatakan: “Jika Nabi tidak suka sesuatu, tanda ketidaksukaan itu akan nampak pada wajahnya.”[33]

Perjalanan Malam ke Surga

Ada berbagai versi tentang cerita Mi’raj Muhammad, pelancongan malam harinya ke surga. Ibn Ishaq menyusun tradisi-tradisi yang berasal dari sahabat-sahabatnya, khususnya istrinya, ‘Aisha. Menurut riwayat, Muhammad melaporkan:

“Ketika saya tidur dalam hijr, Jibril datang dan membangunkan saya dengan kakinya. Saya bangun namun tidak melihat apa-apa dan merebah kembali. Untuk kedua kalinya ia datang dan membangunkan saya dengan kakinya. Saya tidak melihat apa-apa dan merebah kembali. Ia datang kepada saya untuk ketiga kalinya dan membangunkan saya dgn kakinya. Saya bangun dan ia memegang tangan saya dan saya berdiri disebelahnya. Ia membawa saya keluar pintu mesjid, dan disitulah ada seekor hewan putih, setengah bagal, setengah keledai, dengan sayap-sayap disisinya yang mempercepat gerakkan kakinya …. Ia menaikkan saya padanya. Lalu ia pergi keluar dengan saya, dan terus dekat dengan saya. Ketika saya mencoba menaikinya, ia [hewan itu] malu-malu. Jibril meletakkan tangannya pada bulu tengkuknya dan mengatakan, Apakah kau tidak malu, wahai Buraq, untuk bertingkah seperti ini? Demi Allâh, tidak ada yang lebih terhormat bagi Allâh daripada Muhamad menaikimu. Hewan itu begitu malu sampai ia berkeringat dan berdiri sehingga saya bisa menaikinya.”

Sang periwayat kemudian mengatakan: “Nabi dan Jibril berangkat sampai mereka tiba di kuil Yerusalem. Di sana ia berjumpa dengan nabi-nabi seperti Ibraham, Musa dan Yesus. Sang nabi berlaku sebagai imam utama mereka dalam memimpin doa. Lalu ia dibawakan dua ember, yang satu berisi anggur dan yang lainnya berisi susu. Sang nabi mengambil susu itu dan meminumnya, menolak anggur tersebut. Jibril mengatakan, ‘Kau telah diarahkan dengan benar kepada hukum alami, agama asli yang benar dan begitu pula pengikutmu, Muhammad. Anggur diharamkan bagimu.’ Lalu sang nabi kembali ke Mekah dan di pagi hari ia mengatakan kepada Quraish apa yang terjadi. Kebanyakan dari mereka mengatakan, ‘Demi Allâh, ini jelas sebuah absurditas ! Sebuah karavan saja memerlukan waktu satu bulan untuk mencapai Siria dan satu bulan untuk kembali. Bagaimana Muhammad bisa melakukan perjalanan pulang-pergi dalam satu malam?’”

Ibn Sa’d mengatakan; “Setelah mendengar cerita ini banyak orang yang berdoa dan bergabung dengan Islam menjadi pembelot dan meninggalkan Islam.” Dan kemudian ayat Qur’an berikutlah kabarnya diturunkan sebagai tanggapan: “Kami membuat visi yang Kami tunjukkan hanya untuk menguji manusia.”[34]

Para periwayat Muslim sampai jungkir- balik membumbui cerita ini agar nampak kredibel. Mereka menambahkan bahwa setelah orang menuntut bukti darinya, Muhammad menjawab bahwa ia dan kuda buraqnya telah melewati karavan si ini dan si itu di sebuah lembah dan bahwa sang buraq mengagetkan mereka sampai salah satu onta mereka meloncat kaget dan melarikan diri. Lalu Muhammad dikutip mengatakan demikian;

“Dan saya menunjuk kepada mereka dimana (karavan) itu berada, saat saya dalam perjalanan ke Siria. Saya meneruskan perjalanan sampai di Dajanan, sebuah gunung didekat Tihama, sekitar 25 mil dari Mekah. Saya melewati karavan Banu ini dan itu. Saya menemukan mereka tertidur. Mereka memiliki ember air yg ditutupi dengan alas penutup. Saya melepaskan penutup itu dan meminum airnya, dan meletakkan kembali alas penutup tersebut. Yang ingin dibuktikannya adalah bahwa karavan mereka itu pada saat ini sedang turun dari al-Baida’ di Celah al-Tan’im, yang dipimpin oleh onta berwarna keabu-abuan yang dibebani dengan dua kantong, salah satunya berwarna hitam dan satunya lagi berwarna warni.’ Baida adalah sebuah lembah didekat Mekah, disisi Medinah. Tan’im berada di tanah tinggi didekat Mekah. Orang-orang itu bergegas mencapai Celah itu dan onta pertama yang mereka temukan adalah sesuai dengan yang digambarkan (nabi). Mereka menanyakan lelaki-lelaki itu tentang ember air itu dan mereka mengatakan bahwa ember itu tadinya penuh air, dan mereka menutupinya dengan sebuah alas namun ketika mereka bangun, ember itu, walau tertutup ternyata kosong isinya. Mereka bertanya orang lain yang juga berada di Mekah dan mereka mengatakan bahwa memang benar mereka dikagetkan dan seekor onta berlari kaget. Mereka mendengar seseorang memanggil mereka, yang menunjuk pada arah larinya sang onta sehingga mereka bisa menangkapnya kembali.”

Tradisi-tradisi ini ditulis lebih dari seratus tahun setelah kematian Muhammad. Tidak ada cara membuktikan otentisitas klaim-klaim tersebut setelah lewatnya jangka waktu yang cukup panjang. Namun apa yang umumnya dilewatkan Muslim umum adalah bahwa pada saat Muhammad mengaku telah mengunjungi sebuah kuil di Yerusalem, kuil itu sebenarnya belum dibangun. Enam abad sebelum penerbangan misterius al-Buraq itu, rakyat Romawi telah menghancurkannya. Pada tahun 70 Masehi tidak satupun batu yang berdiri. Menurut Injil, Kuil Salomo dibangun sekitar abad 10 SM. The Dome of the Rock dibangun di atas fondasi Kuil Yupiter Romawi pada tahun 691M. Mesjid Al-Aqsa dibangun di atas sebuah basilica Romawi di sebelah selatan the Temple Mount oleh bangsa Umayyad di tahun 710M. Ironis bahwa Muhammad bisa menggambarkan karavan suku ini dan itu dengan persis, namun tidak mampu melihat bahwa kuil tempat ia solat itu, sebenarnya belum eksis.

Sebuah hadis lain mengatakan bahwa untuk menguji kebenaran pernyataan Muhammad, Abu Bakar memintanya agar Muhammad menggambarkan Yerusalem dan ketika ia melakukannya, Abu Bakar mengatakan ‘Itu benar. Saya bersaksi bahwa kau adalah rasul Allâh’. Tidak jelas apakah Abu Bakar memang pernah mengunjungi Yerusalem. Ini bukan kota penting bagi bangsa Arab untuk dikunjungi. Namun demikian, sangat mengherankan bahwa Abu Bakar tidak sedikitpun menggambarkan kuil itu. Ini tidak lain hanyalah cerita-cerita yang disusun Muslim untuk memberikan kredibilitas kepada cerita yang paling aneh yang pernah dinarasikan nabi mereka.

Ada versi lain mengenai cerita ini yang kemungkinan lebih bisa dipercaya karena ini juga diratifikasi dalam Qur’an. Dalam versi ini Muhammad mengatakan:

Setelah menuntaskan urusan saya di Yerusalem, sebuah anak tangga yang paling indah yang pernah saya lihat dibawa kepada saya. Itu tangga yang dipandangi orang yang hampir mati saat kematian menjemputnya. Rekan saya menaikinya, sampai kami tiba di salah satu gerbang surga yg disebut dengan Gerbang Para Penjaga. Malaikat bernama Isma’il bertanggung jawab atasnya dan ia membawahi 12.000 malaikat, yang masing-masing membawahi 12.000 malaikat.’

Ketika Jibril membawa saya masuk, Isma’il bertanya siapa saya dan ketika ia mengatakan bahwa saya Muhamad, ia bertanya apakah saya diberikan sebuah misi, atau dipanggil, dan setelah diyakinkan, ia mengucapkan selamat jalan.

Semua malaikat yang menemui saya ketika saya memasuki suga paling bawah tersenyum dan mengucapkan selamat jalan, kecuali salah satu dari mereka yang tidak senyum atau menunjukkan ekspresi gembira seperti yang lainnya.

Dan ketika saya tanya alasannya kepada Jibril, ia mengatakan bahwa kalau ia memang pernah tersenyum kepada orang lain sebelumnya atau tersenyum kepada seseorang sesudahnya, ia akan tersenyum pada saya. Ia tidak tersenyum karena ia Malik, Penjaga Pintu Neraka. … Surah 81:21 ‘Tidakkah engkau akan memerintahkannya untuk menunjukkan neraka padaku? Dan ia berkata, Tentu saja! O Malik, tunjukkanlah neraka pada Muhammad.” Maka ia menyingkapkan penutupnya, dan nyala api memuncak tinggi ke udara, sampai-sampai pikirku itu akan membakar semuanya. Maka aku meminta pada Gabriel untuk memerintahkannya agar mengembalikannya pada tempatnya, dan ia melakukannya.

Saya hanya bisa membandingkan dampak penarikan diri mereka seperti jatuhnya baying-bayang sampai, ketika api mundur ke tempat asal mereka, Malik menutupi mereka.

Ketika saya memasuki surga paling bawah, saya melihat seseorang duduk disana, dengan jiwa-jiwa orang yang melewatinya. Kepada seseorang ia berbicara dengan baik dan … mengatakan ‘Jiwa bagus dari raga yang bagus.’ Tentang orang lain ia akan mengatakan ‘Wah’ dan cemberut, mengatakan: ‘Jiwa setan dari raga setan.’

Dalam menjawab pertanyaan saya, Jibril mengatakan bahwa ini ayah kami, Adam, sedang memeriksa jiwa-jiwa keturunannya. Jiwa orang beriman meningkatkan kegembiraannya, sementara jiwa seorang kafir meningkatkan kejijikannya. ‘Lalu saya melihat orang-orang dengan bibir seperti onta. Dalam tangan-tangan mereka terdapat kepingan-kepingan api, seperti batu, yang mereka gunakan untuk dimasukkan dalam mulut mereka dan kemudian keluar dari bokong mereka. Saya diberitabu bahwa mereka inilah yang berdosa karena memakan harta anak yatim piatu. Lalu saya melihat orang-orang seperti keluarga Firaun, dengan perut yang belum pernah saya lihat, dan melewati mereka adalah onta-onta yang gila karena kehausan ketika mereka dibuang ke neraka, menginjak mereka karena mereka tidak dapat mengelak. Mereka adalah para lintah darat.[35]

Lalu saya melihat wanita-wanita digantung dari buah dada mereka. Mereka melahirkan anak-anak haram jadah bukan dari suami-suami mereka.[36]

Lalu saya dibawa ke surga kedua, dan disitu ada dua saudara sepupu dari garis ibu, Isa, putera Mariam dan Yohanes, putera Zakariah. Lalu saya ke surga ketiga dan disitu ada seseoarng yang wajahnya seperti bulan purnama. Itu saudara saya, Yusuf, putera Yakub. Lalu ke surga keempat, disana ada seorang bernama Idris. ‘Dan kami …. Telah meninggikannya hingga ke tempat tinggi.’ Surah 19:58 ????? Lalu ke surga kelima dan disana ada lelaki dgn rambut putih dan jenggot panjang, belum pernah saya melihat lelaki yang lebih rupawan darinya.

Ia adalah yang paling dikasihi rakyatnya, Harun, putera ‘Imran. Lalu ke surga keenam, dan disana ada lelaki berwarna kulit gelap dengan hidung berbentuk kait, seperti kaum Shanu’a. Ini saudara saya, Musa, putera ‘Imran. Lalu ke surga ketujuh, dan disana ada seseorang duduk di singgasana pada gerbang rumah mewah abadi, Surga. Setiap hari, 70.000 malaikat masuk dan tidak kembali sebelum hari kiamat. Belum pernah saya melihat orang lebih mirip dengan saya. Ini ayah saya, Ibraham. Lalu ia membawa saya ke surga, dan disitu saya melihat gadis dengan bibir merah gelap dan bertanya siapa memilikinya, karena ia sangat membuat saya suka padanya, dan ia mengatakan ‘Zayd b. Haritha.’ Rasul memberitahu Zayd berita baik ini tentangnya (gadis itu).[37]

Satu tradisi mengatakan, Ketika Jibril mengantar Muhammad ke setiap tingkatan surga dan meminta ijin masuk, ia harus memberitahu para penjaga siapa yang ia bawa dan apakah tamunya itu menerima sebuah misi atau telah dipanggil, dan para penjaga gerbang akan menjawab ‘Allâh memberikannya kehidupan, kakak dan sahabat !’ dan membiarkan mereka lewat sampai mereka mencapai langit ketujuh dan disana Muhammad bertemu dengan Allâh. Disana ditetapkan kewajiban lima puluh kali solat per hari bagi pengikutnya. Saat ia kembali, ia bertemu Musa dan inilah yang terjadi:

Pada saat saya kembali, saya berjumpa dengan Musa dan sungguh ia temanmu yang paling baik ! Ia bertanya berapa solat yang diwajibkan pada saya dan ketika saya mengatakan lima puluh, ia mengatakan, ‘Doa adalah sesuatu yang memberatkan dan pengikutmu adalah orang-orang lemah, jadi kembalilah kepada Tuhanmu dan minta pada-Nya untuk mengurangi jumlah solatnya bagi dirimu dan komunitasmu.’ Saya melakukannya dan Ia mewajibkan sepuluh solat. Sekali lagi saya berpapasan dengan Musa dan ia sekali lagi mengatakan hal yang sama, dan begitulah seterusnya sampai malam solat bagi seluruh hari dan malam. Musa kembali memberikan saya nasehat yang sama. Saya menjawab bahwa saya sudah kembali kepada Tuhan saya dan bertanya pada-Nya untuk mengurangi jumlahnya sampai saya malu dan saya tidak akan melakukannya lagi. Barang siapa yang melakukan doa dalam iman, imannya akan dihadiahi dengan limapuluh solat.

Ada Muslim yg mengatakan bahwa peristiwa ini tidak terjadi dalam dunia fisik melainkan sebuah pengalaman spiritual. Namun, itupun tidak benar mengingat pernyataan Muhammad yang mendetil tentang karavan Banu ini-itu yang ditemuinya dalam perjalanannya dan semua detil tentang seekor onta yg meloncat kaget atau meminum air dari sebuah ember milik karavan itu. Bukti paling besar bahwa pengalaman ini sebenarnya sebuah pengalaman fisik adalah karena ini tercatat dalam Qur’an sendiri, yang mengatakan bahwa asensi ini dimaksudkan untuk menguji iman pengikut.

Orang memang percaya absurditas apa saja, selama absurditas itu diberi cap “spiritual”, tetapi kalau sesuatu dikatakan terjadi dalam dunia nyata, Muslim bertendensi untuk lebih skeptis.

Muhammad Menyatakan Kebenaran

Penulis Rusia, Feodor Dostoevsky, bahkan percaya bahwa Muhammad menyatakan kebenaran. Ia percaya bahwa pengalaman Muhammad ini benar, paling tidak menurut dirinya sendiri. Dostoevsky sendiri menderita temporal lobe epilepsy. Ia mengatakan, lewat salah satu tokoh dalam bukunya, ketika ia mengalami kejang-kejang, pintu-pintu Surga akan terbuka dan ia bisa melihat barisan malaikat meniupkan trompet emas. Lalu kedua gerbang emas akan terbuka dan ia bisa melihat tangga emas yang mengantar langsung kepada singgasana Tuhan.[38]

Newsweek, tertanggal 7 Mei, 2001, dalam sebuah artikel berjudul Religion and the Brain (Religi dan Otak), menjelaskan fenomena ini:

Saat gambaran sebuah salib atau sebuah Taurat berlapis emas, memecut kekaguman religius, ini disebabkan karena bagian otak yang mengatur penglihatan--yg menafsirkan apa yang dilihat mata dan menghubungkan gambaran itu dengan emosi dan memori--telah belajar untuk menghubungkan gambaran tersebut dengan perasaan tersebut. Visi-visi yang timbul selama doa atau ritual agama juga dihasilkan dari dalam area tersebut: stimulasi elektris dari temporal lobe (yang tersimpan dipinggir kepala dan menyimpan sirkuit-sirkuit yang bertanggung jawab atas bahasa, pemikiran konseptual dan asosiasi) menghasilkan visi.

Epilepsi Temporal-Lobe —letupan abnormal aktivitas elektrik di kawasan-kawasan ini— membawanya ke hal yang lebih ekstrim. Walau studi meragukan koneksi antara epilepsy dengan religiositas, ada yang merasa bahwa kondisi ini mencetuskan visi dan suara-suara jelas semacam tipe yang dialami Joan of Arc.

Walau epilepsy temporal-lobe jarang terjadi, periset menganggap bahwa letupan-letupan aktivitas elektrik yang terpusat yang disebut dengan “temporal-lobe transients” bisa menghasilkan pengalaman mistik. Untuk menguji teori ini, Michael Persinger dari Laurentian University di Canada menempatkan sebuah helm yang dipadati dengan electromagnet dan dipasang pada kepala sukarelawan. Helm itu menciptakan aliran magnetik yang lemah, tidak lebih dari yang dihasilkan layar computer.

Menurut Persinger, letupan-letupan aktivitas elektrik dalam temporal lobe, menghasilkan sensasi yang oleh sukarelawan digambarkan sebagai supernatural atau spiritual: sebuah pengalaman luar badan, perasaan kehadiran ilahi. Ia percaya bahwa pengalaman religius diakibatkan oleh badai elektrik dalam temporal lobes, dan bahwa badai-badai itu bisa dicetuskan karena keresahan, krisis pribadi, kekurangan oxygen, kadar gula rendah dan badan letih—saat-saat dimana orang biasanya menemukan “Tuhan.”[39]

Asal Usul Pengalaman Mistik Muhammad!

Mungkinkah perangsangan temporal lobe membangunkan pengalaman mistik seperti merasakan kehadiran “mahluk halus”, mendengar suara, melihat cahaya atau bahkan hantu ?

Michael Persinger setuju. Ia mampu mendemonstrasikan bahwa sensasi yang digambarkan sebagai “pengalaman religius” tidak lain adalah dampak sampingan dari kegiatan otak kita yang sangat aktif itu. Dalam kata-kata sederhana:

Kalau bagian otak sebelah kanan-bagian yang mengatur emosi kita- ... dan lalu bagian kiri-bagian bahasa- diperintahkan untuk mempertanyakan fenomena tidak eksis ini, otak kita menghasilkan perasaan adanya “mahluk halus.” [40]

Ken Hollings menulis :

“Persinger… berpendapat bahwa pengalaman religius diciptakan dalam otak. Studi akhir-akhir ini menunjukkan bahwa kesadaran mengenai diri kita sendiri dihasilkan oleh temporal lobe kiri, yang berlokasi dalam bagian otak yang mengatur logika dan ketepatan, yang mencoba mempertahankan batasan antara kesadaran individual dan dunia luar. Tutuplah lobe itu dan kau akan merasakan bahwa kau telah menyatu dengan Alam Semesta – bentuk utama pengalaman religius.

Rangsang temporal lobe bagian kanan, bagian otak kita yang lebih kreatif dan emosional, maka timbullah perasaan kesadaran diri, yang biasanya dirasakan sebagai fenomena 'terpisah'.” [41]

Persinger menempatkan helm sepeda motor dengan sumbu-sumbu (solenoid) yang menyalurkan aliran elektromagnetik lunak di sekitar kepala bagian otak seorang sukarelawan. Mereka duduk dengan mata tertutup kain dalam sebuah kamar kosong yg mendapat julukan “ruang surga dan neraka.” Dengan memindah-mindahkan aliran listrik itu, 80% dari sukarelawan yang mengambil bagian dalam eksperimen ini merasakan “kehadiran” mahluk halus dalam kamar tersebut, kadang menyentuh atau bahkan meraih mereka. Ada yang mengatakan bahwa mereka mencium wangi surga atau bau neraka. Mereka mendengar suara, melihat lorong-lorong gelap, cahaya dan pengalaman religius mendalam.

Ed Conroy, melaporkan eksperimen Michael Persinger ini dan menulis: “Kepribadian orang-orang normal yang menunjukkan meningkatnya aktivitas temporal lobe … menunjukkan meningkatnya kreatifitas, suggestibilitas, kapasitas ingatan dan proses intuisi. Sebagian besar mengalami fantasi hebat atau subyektif yang memupuk adaptabilitas mereka. Banyak dari mereka cenderung pada aktivitas fisik dan mental yang disusul dengan depresi ringan. Orang-orang ini lebih sering memiliki mengalami perasaan ‘ada hantu dan bahkan melihatnya’; kepercayaan-kepercayaan eksotik lebih dirasakan ketimbang konsep-konsep religi tradisional.” [42]

Persinger menemukan bahwa masing-masing sukarelawan memberikan nama yang tidak asing kepada 'hantu' mereka. Orang-orang beragama merasakan kehadiran tokoh-tokoh suci agama mereka seperti Elia, Yesus, Bunda Maria, Muhammad, dan sebagainya. Mereka yang cenderung memiliki interpretasi ala Freud - menamakan fenomena yang hadir sebagai kakeknya misalnya, sementara sukarelawan yang agnostik, yang terkagum-kagum tentang cerita-cerita piring terbang dari angkasa luar (UFO), menceritakan sesuatu yang lebih mirip cerita penculikan oleh mahluk dari planet lain.

Metode ini juga digunakan untuk merangsang pengalaman hampir mati (near-death experience) atau NDE. Hollings menulis :

“Thn 1933 di Montreal, ahli bedah syaraf, Wilder Penfield menemukan bahwa saat ia menstimulasi sel-sel saraf tertentu dalam temporal lobe dengan aliran listrik, pasien akan merasakan kembali ‘pengalaman-pengalaman sebelumnya’ secara mendetil dan meyakinkan.

Dalam bukunya yang kontroversial tahun 1976, The Origin of Consciousness in the Breakdown of the Bicameral Mind, psikologis Princeton, Julian Jaynes mengatakan bahwa perasaan yang biasanya digambarkan sebagai

'pengalaman religius' hanyalah efek sampingan dari interaktivitas giat antara bagian kiri dan kanan otak kami. Nenek moyang kami, katanya, tidak ... dapat menjelaskan perasaan tersebut kecuali menyebutnya sebagai suara-suara dan visi dari dewa-dewa di atas.” [43]

Apa yang sebenarnya terjadi dalam saat kesadaran spiritual yang intens?

Hollings mengatakan, “Aktivitas dalam bagian amygdale otak, yang memantau lingkungan untuk menghindari ancaman dan mengukur ketakutan, ditekan (dampened). Sirkuit-sirkuit Parietal lobe yang memberikan kita orientasi, hilang secara pelan-pelan, sementara sirkuit-sirkuit dalam frontal dan temporal lobe, yang menandai waktu dan mengakibatkan kesadaran diri, menjadi terputus. Menggunakan brain-imaging data dari Budhis-budhis Tibet selama meditasi atau biarawati Fransiskan saat berdoa, Dr. Andrew Newberg dari University of Pennsylvania mengamati bahwa segenggam syaraf/neuron dlm superior parietal lobe, dihampir atas dan belakang otak kami, telah berhenti (shut down). Kawasan ini membantu memproses informasi tentang orientasi dan waktu.” [44]

Persinger menunjukkan bahwa pengalaman “spiritual” dan “supernatural” adalah hasil dari kurangnya komunikasi dan koordinasi antara temporal lobe kiri dan kanan. Pengalaman adanya hantu dalam kamar, perasaan bahwa sukma kita terpisah dari badan, melihat bagian-bagian tubuh kita terpotong-potong secara aneh dan bahkan perasaan religius semuanya diciptakan dalam otak. Persinger menyebut pengalaman-pengalaman ini sebagai ‘temporal lobe transients’, atau peningkatan dan ketidakstabilan dalam pola-pola penembakan neuron dalam temporal lobe.

Bagaimana pengalaman ini menghasilkan perasaan religius ?

"Kesadaran akan diri kita" (our sense of self), kata Persinger “pada fungsi otak normal, dipertahankan oleh cortex temporal sebelah kiri dan kanan. Begitu kedua cortex ini tidak terkoordinasi, seperti saat kejang-kejang atau pengalaman 'mistik,' maka otak sebelah kiri menafsirkan aktivitas yang tidak terkoordinasi itu sebagai ‘pribadi lain’, atau 'kehadiran mahluk lain’, seakan ada mahluk halus (yang bisa ditafsirkan sebagai malaikat, jin, hantu atau mahluk angkasa luar), atau meninggalkan tubuh mereka (seperti dalam pengalaman near-death experiences), atau bahkan ‘Tuhan’.

Saat amygdala (bagian kanan otak berhubungan dengan emosi) terlibat dalam pengalaman mistik ini, factor-faktor emosional sangat meningkatkan pengalaman itu, yang kalau dihubungkan dengan tema-tema spiritual, bisa menjadi sebuah kekuatan yang sangat intens bagi perasaan religius." [45]

Stimulasi Otak menciptakan Orang yang tidak Nampak

Pakar sains Swiss menemukan bahwa stimulasi elekytonik/listrik otak bisa menciptakan perasaan kehadiran orang bayangan/yang tidak nampak (a "shadow person") yang mencontoh gerak-gerik tubuh kita. physorg.com melaporkan:

Olaf Blanke dan rekan-rekan di the Federal Polytechnic School of Lausanne mengatakan, penemuan mereka bisa menjelaskan proses-proses otak yang menyumbang bagi gejala-gejala schizophrenia, dimana seorang penderita merasa kelakuannya ditiru oleh orang lain.

Dokter yang mengevaluasi seorang wanita normal tanpa latar belakang problema psikiatris menemukan bahwa stimulasi bagian otaknya yang disebut the left temporoparietal junction membuatnya percaya bahwa ada seseorang yang berdiri dibelakangnya.

Sang pasien melaporkan bahwa "orang itu" melakukan gerak gerik yang persis sama dengan dirinya, walau ia tidak mengira dampak itu sebagai sebuah ilusi. Pada saat penyidikan, pasien diminta untuk membungkuk ke depan dan memegang lututnya: ini mengakibatkan perasaan bahwa ‘orang bayangannya itu’ sedang memeluknya, yang dirasakannya sebagai tidak nyaman.

Penemuan ini bisa membawa satu langkah untuk semakin mengerti dampak-dampak psikiatris seperti paranoia, kontrol dan penindasan oleh mahluk ruang angkasa, kata para neuroscientist (pakar ilmu saraf).

Mahluk luar angkasa

Penemuan ini dilaporkan dalam sebuah isu jurnal Nature minggu ini. [46]

Mungkinkah penemuan ini menjelaskan apa yang didengarkan dan dirasakan Muhammad saat terbang ke surga? Muhammad datang dari budaya yang percaya jin, malaikat, gendruwo, setan dan mahluk-makluk itu jugalah yang dilihatkan dalam halusinasinya. Di jaman itu berlangsung perdebatan tentang mereka yang percaya akan satu Tuhan, seperti Yahudi, Kristen dan Hanifisme (sekte monoteis pra Islam yang merupakan kepercayaan Khadijah yang disebarkan di Arabia), versus mereka yang politeis, seperti yang dipercaya klannya Muhammad. Muhammad berpihak pada monoteisme yang lebih “eksotik”, ketimbang konsep tradisional religius yang dipercaya sukunya. Juga perlu diingat pengaruh Khadijah dalam menafsirkan halusinasi Muhammad.

Apa yang dialami Muhammad dirasakan benar-benar terjadi, tapi ini hanya pengalaman mental. Ketika ia menceritakannya kepada Khadijah, apa yang dipikirkannya adalah bahwa suami tercintanya entah kesurupan atau disentuh malaikat. Jadi ketika Muhammad mengatakan kepadanya “Saya khawatir sesuatu akan terjadi pada saya”, ia menjawab, “Tidak mungkin! Allâh tidak akan mempermalukanmu”. Karena ia tidak mampu menerima kenyataan bahwa Muhammad telah menjadi gila, ia hanya memiliki satu-satunya alternatif dan menyimpulkan bahwa ia pastilah dipilih menjadi nabi. Kalau bukan karena dukungan dan dorongan Khadijah itu, Muhammad akan merasa bahwa ia memang kemasukan setan dan ia akan menyadari kondisinya seperti layaknya penderita epilepsi.

Onta Berlutut Karena Beratnya Wahyu

Muslim sering melebih-lebihkan dan menyusun mujizat-mujizat yang kata mereka dilakukan Muhammad. Ini memang normal bagi pengikut aliran yang senang mengatribusi mukjizat pada pemimpin mereka. Sebuah hadis mengatakan bahwa satu saat Muhammad menumpangi ontanya, datanglah sebuah wahyu, dan wahyu itu sedemikian beratnya sampai sang onta tidak tahan dan harus berlutut di tanah.

Muhammad dan ontanya yang sedang keberatan wahyu ...

Berlututnya hewan itu yang merupakan indikasi berikutnya bahwa sang penumpang memang menderita epilepsi. Bonnie Beaver, pakar kelakuan hewan di the College of Veterinary Medicine at Texas A&M University, mengatakan “Anjing dan kucing dikenal telah memperingatkan orang saat kejang-kejang mereka akan dimulai. Sangat lazim bagi hewan untuk meramalkan datangnya kejang-kejang pada pemilik mereka. Bahkan anjing tertentu bisa dilatih untuk memperingatkan seorang penderita epilepsi akan datangnya sebuah serangan.” [47]

Kemampuan meramalkan datangnya kejang-kejang ini tidak hanya terbatas pada anjing dan kucing. Hewan nampaknya memiliki indera yang tidak dimiliki manusia. Hewan bisa meramalkan datangnya gempa bumi, berjam-jam sebelum gempa bumi itu tiba. Kuda dan ternak - khususnya - bisa merasakan datangnya badai.

Tanggal 4 Januari 4, 2005 The National Geographic menulis:

“10 hari sebelum gelombang raksasa menghantam garis-garis pantai Sri Lanka dan India, hewan liar dan piaraan nampaknya tahu apa yang akan terjadi dan melarikan diri mencari tempat aman. Menurut saksi mata, gajah berseru-seru dan berlarian ke tempat-tempat yang lebih tinggi, anjing menolak untuk keluar rumah, flamingo meninggalkan dataran rendah, hewan-hewan di kebun binatang bergegas masuk kandang mereka dan tidak bisa dirayu agar keluar. Kepercayaan bahwa hewan piaraan maupun liar memiliki panca indera ke enam—dan mengetahui kapan bumi akan bergetar—sudah ada selama berabad-abad. [48]

Pointnya adalah bahwa hewan bisa merasakan sesuatu, khususnya sebelum datangnya serangan epilepsi pada pemilik mereka, sesuatu yang tidak dapat dilakukan manusia. Tidak heran kalau seekor hewan menjadi stres atau berlaku kurang wajar menjelang detik-detik pemiliknya akan kena serangan. Kami tahu bahwa istri-istri ataupun sahabat-sahabat Muhammad tidak merasakan apa-apa saat ia “menerima wahyu”. Selama salah satu halusinasinya Muhammad mengatakan kepada Aisha, “Ini Jibril. Ia mengirimkan salam dan salut kepadamu. Aisha menjawab, ‘Salut dan salam kepadanya juga.’ Lalu ia mengatakan kepada nabi, ‘Kau melihat apa yang saya tidak lihat.’” [49] Jadi, dengan adanya seekor onta yang bisa merasakan apa yang terjadi pada Muhammad, ini lagi-lagi indikasi bahwa ia kena serangan epilepsi.

Kasus Phil K. Kindred

Kasus-kasus penderita epilepsi lainnya bisa membuat kita lebih mengerti tentang apa yang kemungkinan terjadi pada Muhammad. Kemiripannya sering menakjubkan.

http://en.wikipedia.org/wiki/Philip_K._Dick

Penulis science fiction AS, Philip Kindred (1928-1982), berbicara tentang visi-visinya yang aneh, mengatakan kepada Charles Platt, “Saya merasakan otak saya diinvasi oleh sebuah otak rasional yang transendental, seakan-akan saya gila selama seluruh hidup saya dan tiba-tiba menjadi waras.” [50] Semua karya Philip dimulai dengan asumsi dasar bahwa tidak mungkin ada satu realitas tunggal yang obyektif. Charles Platt menggambarkan novel-novel Philip. “Semuanya adalah persepsi. Tanah bisa bergerak dari bawah kakimu. Sang protagonis menemukan dirinya hidup dalam mimpi orang lain, atau ia masuk keadaan yang dirangsang oleh narkoba sehingga ia bisa lebih mengerti dunia nyata, atau ia kemungkinan menyeberang ke sebuah alam semesta yang berbeda total.” [51]

Seperti Muhammad, Philip juga paranoid, dan memiliki emosi kekanak-kanakan, narsisis, berangan-angan untuk bunuh diri dan benci orang tuanya. Ia membayangkan plot-plot melawan dirinya yang direncanakan KGB atau FBI, yang ia percaya terus menerus mencoba mencegatnya. Kami merasakan paranoia yang mirip dalam tulisan-tulisan Muhammad yang terus menerus berbicara tentang kafir dan bagaimana mereka merancang plot-plot melawan dirinya, menentang agamanya dan menindas dirinya dan pengikutnya.

VALIS, novel otobiografis pertama dari tiga novel Philip, adalah perjalanan orang tolol mencari Tuhan yang ternyata merupakan sebuah virus, sebuah lelucon, dan sebuah hologram mental yang ditransmisikan oleh satelit yang mengorbit. Tokoh utama dalam novel ini terlempar dalam sebuah perjalanan teologis saat ia menerima komuni dalam ledakan cahaya laser merah jambu yang ternyata merupakan sebuah hubungan komunikasi langsung dengan Tuhan. Dalam karyanya ini, Philip mempelajari ‘pertemuan-pertemuannya’ dengan sebuah kehadiran ilahi.

VALIS adalah kependekan dari Vast Active Living Intelligence System. Ia berteori bahwa VALIS adalah baik sebuah “generator realitas”, maupun sebuah cara untuk mengadakan komunikasi extraterestrial.

Lawrence Sutin, dalam Divine Invasions: A Life of Philip Kindred menulis tentang salah sebuah pengalaman mistik Phil yang sangat mirip pengalaman Muhammad. “Hari Senin ia menelpon saya dan mengatakan, malam sebelumnya ia merokok marijuana yang ditinggalkan seorang tamunya dan merasakan dirinya melihat sebuah visi yang sekarang sangat dikenalinya (saat ia tidak berhubungan dengan narkoba), dan ia mengatakan, ‘Saya ingin melihat Tuhan. Biarkan saya melihat-Mu.’ Dan lalu tiba-tiba, katanya, ia dirasuki rasa diteror yang sangat ekstrim yang pernah dirasakannya, dan melihat Tabut Perjanjian (tempat penyimpan 10 Perintah Yahweh kepada Musa), dan sebuah suara mengatakan, ‘Kau tidak akan datang kepada saya lewat bukti logis atau kepercayaan atau apa saja, jadi saya harus meyakinkanmu dengan cara ini.’ Tirai tabut ditariknya dan ia melihat, sebuah segi tiga dengan sebuah mata di dalamnya, yang menatapnya langsung.

Phil mengatakan, ia berlutut saking ketakutan sambil mengalami Visi Ilahi ini dari pukul 9 pagi sampai pukul 5 sore. Hari Senin ia pasti bahwa ia akan mati dan kalau ia bisa meraih telpon ia akan memanggil ambulans. Suara itu mengatakan kepadanya, ‘Kau berhasil membujuk dirimu agar tidak percaya semua hal. Saya membiarkan kau melihat, tetapi ini tidak akan pernah bisa kau lupakan atau sesuaikan atau kau anggap salah.’” [52]

Phil, yang mati muda pada usia 54, menulis jutaan kata. Dalam Biografinya, Sutin mengutip salah satu tulisannya yang menjelaskan pengalaman mistiknya:

Tuhan menunjukkan diri kepada saya sebagai kekosongan yang tidak terbatas; tapi bukan sebagai neraka, itu adalah atap surga, dengan langit biru dan awan-awan putih. Ia bukan Tuhan yang asing, namun Tuhannya leluhur saya. Ia penuh cinta kasih dan baik hati dan memiliki kepribadian. Katanya, “Kini kau sedang menderita; namun penderitaanmu itu kecil dibandingkan dengan kebahagiaan yang besar, kenikmatan yang menantimu. Kau pikir dalam wawasan saya kau akan menderita lebih parah dibandingkan dengan rahmat yang akan kau dapatkan?”

Ia membuat saya yakin akan kenikmatan yang akan datang; tidak terbatas dan manis. Katanya, “Saya adalah kekuatan tanpa penghabisan. Saya adalah yang tak terbatas. Saya akan menunjukkan kepadamu. Dimana Saya berada, disitulah ketakterbatasan; dimana ada ketakterbatasan, disitulah saya… Mereka yang menolak saya akan menjadi sakit; saat mereka terbang dengan saya, saya adalah sayap-sayapnya. Saya adalah sang peragu dan keragu-raguan itu sendiri. [53]


Kasus-kasus TLE lainnya

Pada 23 Oktober 2001 televisi PBS menayangkan sebuah tayangan dokumenter mengenai TLE. Salah seorang yang diwawancarai, yang menderita temporal lobe epilepsy, bernama John Sharon. Menarik sekali membaca kasusnya dan membandingkannya dengan apa yang kita ketahui tentang Muhammad. Ini dapat memberi penjelasan tambahan mengenai keadaan alam pikiran sang nabi dan penyakitnya.

John Sharon: Kejang-kejang itu mencakup diri saya dan jiwa saya dan roh saya, semuanya itu. Saat saya mengalami perasaan itu seluruh tubuh saya merasa tergelitik dan saya hanya,..oh itulah dia.

Narator: Kejang-kejang epilepsi yang dialami John pada dasarnya adalah suatu badai listrik dalama temporal lobe ketika sekelompok neuron mulai menembak sembarangan, tidak sinkron dengan keseluruhan bagian otaknya. Baru-baru ini John mengalami salah satu episode terburuknya. Ia pergi berjalan-jalan ke gurun dengan seorang teman wanita, dan keduanya sangat mabuk, dan akibatnya sangatlah buruk. John tiba-tiba diserang sejumlah kejang-kejang, yang masing-masing berlangsung selama 5 menit dan mencakup sawan yang parah sehingga ia tidak sadarkan diri. Akhirnya, John berhasil menghubungi ayahnya yang membawanya keluar dari gurun untuk membawanya pulang.

John Sharon: Dalam perjalanan pulang, saya dan dia terlibat dalam diskusi filosofis mengenai segala sesuatu. Dan saya tidak dapat berhenti saat saya…dalam perjalanan pulang saya terus menerus berbicara. Seakan-akan saya terhubung dengan pembangkit tenaga listrik.

John Sharon, sr.: Pada dasarnya atu adalah sebuah gempa bumi di dalam tubuh, dan sebagaimana sebuah gempa bumi selalu diikuti dengan syok susulan. Dan sebagaimana selayaknya gempa bumi senantiasa mendatangkan kerusakan, ada yang harus dibangun kembali. Ada hal-hal yang harus dikesampingkan. Terutama sekali saya harus berurusan dengan dengan akibat buruknya, terutama dengan episode yang terakhir ini. Itu seperti melangkah masuk ke dalam lukisan Salvador Dali. Seketika segalanya menjadi surreal. Dan pada dasarnya, itulah segala sesuatunya tentang kejang-kejang yang dialaminya – akibat buruknya- dimana otaknya diletakkan, dimana ingatannya diletakkan, dimana pikirannya diletakkan, kemampuan berpikirnya, segala sesuatunya.

Narator: Ketika kejang-kelang yang dialami John berakhir ia sangat kelelahan tetapi ia merasa sangat berkuasa/omnipotent.

John Sharon: Saya berlari di jalanan sambil berteriak bahwa saya adalah Tuhan. Lalu ada seorang pria keluar dan saya memeluk panggulnya dan istrinya dan saya berkata, “Maukah kamu bertaruh saya Tuhan atau bukan?"

John Sharon sr.: Dan saya berkata, “Kamu anak kurangajar, kembali kemari! Apa yang sedang kamu lakukan? Kamu mengganggu tetangga kita Mereka akan memanggil polisi. Apa-apaan ini?”

John Sharon: Saya hanya memandangnya dengan tenang dan minta maaf padanya, dan berkata, “Tidak. Tak seorangpun akan memanggil polisi.” Sepertinya saya tidak mengatakan kalimat yang terakhir ini tapi saya berpikir dalam diri sayaLike, “Tidak seorangpun akan melaporkan Tuhan pada polisi!”

Narrator: John bukanlah seorang yang religious seumur hidupnya, namun seringnya serangan kejang yang dialaminya membawa suatu perasaan spiritual yang mendalam.

Vilayanur.S. Ramachandran adalah Director bagi Pusat Penelitian Otak dan Kognisi dan seorang professor pada Departemen Psikologi dan Program Neurosains di University of California, San Diego. Ia telah melakukan studi ekstensif mengenai Temporal Lobe Epilepsy.

V.S. Ramachandran: Sudah diketahui sejak lama bahwa beberapa pasien penderita kejang yang bermula di dalam temporal lobe mempunyai aura religious yang intens, pengalaman dikunjungi Tuhan secara intens. Kadang-kadang Tuhan secara pribadi, kadang-kadang lebih merupakan perasaan menyatu dengan semesta. Segala sesuatu seakan memiliki makna.Si pasien akan berkata, “Akhirnya saya melihat apa yang sesungguhnya, Dokter. Saya sangat memahami Tuhan. Saya memahami tempat saya dalam alam semesta ini.”Mengapa hal ini terjadi dan mengapa terjadi begitu sering pada pasien yang menderita kejang-kejang temporal lobe?

John Sharon: Oh Tuhanku. Dan tahukah anda? Saya sangat waras dalam kepalaku sendiri, saya tahu saya dapat pergi keluar dan menarik orang-orang untuk mengikuti saya. Tidak seperti orang-orang sinting ini dengan kain diatas kepala mereka, bukan seperti orang-orang idiot itu...tapi kini saatnya bagi generasi nabi-nabi yang baru. Dan bukankah semua nabi bergeletakan di tanah, bukankah itu adalah pesan dan pemberian dari para dewa selama ini?

V.S. Ramachandran: Bukankah hal itu sangat mungkin?Ya?

John Sharon: Saya belum pernah menjadi seorang yang religius. Orang berkata, “Tidak, kamu tidak dapat melihat masa depan...beginilah begitulah.” Itulah maksudnya karunia ini, tapi anda harus membayarnya dengan membiarkan diri dibanting-banting kesana kemari.

V.S. Ramachandran: Nah, mengapa pasien-pasien ini mempunyai pengalaman-pengalaman religious yang intens ketika mereka kejang-kejang? Dan mengapa mereka begitu terhanyut dengan hal-hal teologis dan religius bahkan diantara satu kejang dengan kejang berikutnya?

Ada kemungkinan bahwa aktifitas kejang dalam temporal lobe menciptakan semua jenis emosi yang aneh dan janggal dalam pikiran seseorang…dalam otak seseorang. Dan ini emosi-emosi aneh yang memuncak ini dapat ditafsirkan oleh si pasien sebagai sebuah kunjungan dari dunia lain, atau sebagai “Tuhan sedang melawat saya.” Bisa jadi itulah satu-satunya cara ia dapat memahami semua emosi aneh yang terjadi dalam otknya. Kemungkinan lainnya adalah ini merupakan sesuatu yang berhubungan dengan cara dalam mana temporal lobe diperintahkan untuk berhubungan dengan dunia secara emosional. Saat kita berkeliling dan berinteraksi dengan dunia, anda membutuhkan beberapa cara untuk memutuskan apa yang penting, apa yang berarti secara emosi dan apa yang relevan bagi anda versus apa yang tidak penting dan sepele.

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Kita memikirkan apa yang penting sebagai hubungan antara area sensori dalam temporal lobe dan amygdale, yang merupakan pintu masuk ke pusat emosi di dalam otak. Kekuatan dari hubungan-hubungan inilah yang menentukan seberapa berartinya secara emosi sesuatu hal itu. Maka dari itu, anda dapat menggambarkan adanya semacam bentangan keberartian secara emosinil, dengan lembah-lembah dan bukit-bukit, berdasarkan apa yang penting dan apa yang tidak penting. Dan setiap kita mempunyai bentangan keberartian secara emosionil yang sedikit berbeda. Sekarang, pikirkanlah apa yang terjadi dalam temporal lobe epilepsy jika anda mengalami kejang yang berulang. Apa yang akan terjadi adalah suatu penguatan yang sembrono terhadap semua jalan ini. Itu sedikit mirip dengan air yang meluncur menuruni anak sungai di sepanjang permukaan tebing. Ketika ada hujan berulangkali ada kecenderungan yang meningkat bagi air itu untuk membuat alur-alur di sepanjang satu jalur dan pendalaman alur-alur yang semakin progresif ini kemudian membangkitkan rasa keberartian emosionil dari beberapa kategori masukan. this. Jadi, alih-alih hanya menemukan bahwa singa dan harimau dan juga ibu mempunyai keberartian emosionil, ia menemukan bahwa semua hal berarti. Sebagai contoh, segumpal pasir, sepotong kayu apung, rumput laut, semua hal ini semakin ditambahkan dengan makna yang mendalam. Nah, kecenderungan untuk memberikan makna kosmis kepada segala sesuatu di sekitar anda, akan membuat anda terbiasa dengan apa yang disebut sebagai pengalaman mistis atau sebuah pengalaman religious.

Tidak ada area spesifik dalam temporal lobe yang berkaitan dengan Tuhan. Tetapi ada kemungkinan ada bagian-bagian dari temporal lobe yang aktifitasnya bisa bersifat kondusif terhadap kepercayaan religius. Emang sepertinya ini tidak lazim, tapi bisa jadi benar.

Nah, mengapa bisa jadi kita mempunyai mesin syaraf dalam temporal lobe untuk system kepercayaan dalam agama? Kepercayaan dalam agama sangatlah luas tersebar. Setiap suku, setiap kelompok masyarakat mempunyai suatu bentuk ibadah religius. Dan bisa jadi alas an kemunculannya, jika memang ia muncul, adalah ia bersifat kondusif terhadap stabilitas masyarakat, dan ini adalah yang termudah jika anda percaya pada suatu makluk/pribadi yang maha kuasa. Dan itulah alas an mengapa sentimen-sentimen religius berevolusi di dalam otak.[54]

Sejarah dipenuhi dengan tokoh-tokoh agama yang kharismatik. Psikolog William James (1902) percaya bahwa suara hati nurani baru yang didengar Rasul Paulus dalam perjalanannya kembali ke Damsyik, dimana ia melihat cahaya terang dan ada suara yang bertanya padanya, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya aku?”[55], yang mengakibatkan ia buta untuk sementara waktu dan bertobat, bisa jadi merupakan “suatu badai syaraf fisiologis atau pelepasan luka seperti yang dialami seorang terserang epilepsi.” Rasul Paulus menceritakan penglihatannya sebagai berikut:

Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri. Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku, "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.[56]

Peneliti TLE Eve LaPlante[57] berpendapat bahwa pengalaman Musa berjumpa dengan semak yang menyala adalah juga hasil dari TLE.

Yehezkiel juga dipercaya menderita TLE. Penglihatannya sangatlah mengejutkan.

Lalu aku melihat, sungguh, angin badai bertiup dari utara, dan membawa segumpal awan yang besar dengan api yang berkilat-kilat dan awan itu dikelilingi oleh sinar; di dalam, di tengah-tengah api itukelihatannya seperti suasa mengkilat. Dan di tengah-tengah itu juga ada yang menyerupai empat makluk hidup dan beginilah kelihatannya mereka: mereka menyerupai manusia, tetapi masing-masing mempunyai empat muka dan pada masing-masing ada pula empat sayap. Kaki mereka adalah lurus dan telapak kaki mereka seperti kuku anak lembu; kaki-kaki ini mengkilap seperti tembaga yang baru digosok. Pada keempat sisi mereka di bawah sayap-sayapnya tampak tangan manusia. Mengenai muka dan sayap mereka berempat adalah begini: mereka saling menyentuh dengan sayapnya; mereka tidak berbalik kalau berjalan, masing-masing berjalan lurus ke depan.[58]

Adalah tidak mungkin untuk membuat suatu psikoanalisa yang tepat mengenai karakter-karakter yang telah hidup berabad-abad yang lalu dan yang hanya sedikit kita ketahui. Terutama Musa yang adalah seorang pribadi yang semi-mitologis. Kita bahkan tidak dapat memastikan bahwa cerita-cerita yang berkenaan dengannya adalah benar. Bagaimanapun, yang dapat kita katakana adalah bahwa cerita-cerita aneh ini, jika benar, konsisten dengan gejala-gejala yang menjadi karakter TLE.

Dewasa ini, para pasien TLE melihat UFO/benda-benda asing angkasa luar dan makluk angkasa luar. LaPlante mencatata bahwa banyak korban penculikan UFO merasakan gejala-gejala seperti epilepsy sesaat sebelum mereka “ditangkap”. Beberapa korban penculikan merasakan hawa panas pada salah satu sisi wajah mereka; mendengar dering di telinga mereka, dan melihat kilatan cahaya sebelum penculikan. Yang lainnya melaporkan terhentinya suara dan perasaan, atau suatu perasaan ketakutan yang mendalam.

Kisah lainnya yang terkenal melibatkan seorang biarawati pada abad ke -16 yang dikenal dengan Santa Teresa dari Avila (1515 -1582). Ia mengalami penglihatan-penglihatan yang jelas, sakit kepala yang intens dan kata-kata yang menghilangkan kesadaran, diikuti oleh “rasa damai, tenang, dan buah-buah yang baik dalam jiwa, dan ... suatu persepsi akan kebesaran Tuhan” (St. Theresa 1930:171). Para penulis biografi berpendapat bahwa boleh jadi ia mengalami kejang-kejang epilepsi (Sackville-West 1943).

LaPlante mengatakan bahwa para pelukis dan penulis seperti Vincent van Gogh, Gustave Flaubert, Lewis Carroll, Marcel Proust, Tennyson dan Fyodor Dostoevsky semuanya didiagnosa menderita TLE. Para penderita TLE seringkali mengalami perubahan-perubahan pola-pola kepribadian, biasanya meliputi menulis atau menggambar secara kompulsif dan keagamaan yang berlebihan.

Berdasarkan LaPlante, Muhammad juga menderita TLE. Contoh-contoh terbaru adalah Joseph Smith, pendiri Mormonisme, dan Ellen White, pendiri Gerakan Advent Hari Ke-tujuh, yang pada usia 9 tahun menderita cedera otak yang mengubah seluruh kepribadiannya. Ia juga mulai memiliki penglihatan-penglihatan religius yang kuat.

Helen Schucman, seorang psikolog ateis Yahudi yang mengklaim telah menerima pesan-pesan dari Yesus Kristus dalam bentuk “bacaan-bacaan” yang disebutnya A Course in Miracles, kemungkinan besar menderita TLE. Diberitakan juga, Schucman menghabiskan dua tahun terakhir hidupnya dengan depresi paranoid yang parah.

Syed Ali Muhammad Bab pendiri agama Babi juga menderita epilepsi. Persian Bayan karangannya (telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan telah tersedia secara online) dapat didefinisikan sebagai “tulisan epileptic”.

Orang-orang terkenal yang menderita Epilepsi

Heidi Hansen dan Leif Bork Hansen yang mengaku bahwa Søren Kierkegaard telah menulis dalam jurnalnya bahwa dia menderita TLE dan merahasiakan itu sepanjang hidupnya, mengutip: “Dari semua penderitaan yang ada mungkin tidak ada yang begitu menderita daripada menjadi objek rasa kasihan, tidak ada hal lain lagi yang bisa membujuk orang agar berontak terhadap Tuhannya. Orang demikian dianggap bodoh dan picik, tapi tidak sulit untuk menunjukkan bahwa inilah sebenarnya rahasia yang disembunyikan dalam banyak kehidupan figur-figur sejarah yang terkenal.” [59]

Filsuf Denmark benar sekali. Bukannya bodoh, tapi penderita TLE biasanya malah orang-orang jenius.

TLE bisa didefinisikan sebagai penyakit kreatifitas. Banyak orang berbakat dan terkenal dalam sejarah menderita TLE dan tanpa dapat dibantah mereka jadi begitu karena penyakit ini. Antara lima sampai sepuluh orang tiap 1.000 orang penderita TLE. Memang tidak semuanya tentu saja yang menjadi terkenal.

Steven C. Schachter, M.D. telah menyusun sebuah daftar orang terkenal dalam sejarah yang mungkin menderita TLE. Daftar ini terdiri dari para filsuf, penulis, pemimpin dunia, figur religius, pelukis, penyair, komposer, aktor dan selebriti lainnya.

“Orang jadul (jaman dulu)” tulis Schachter, “punya pikiran bahwa serangan epilepsi disebabkan oleh roh jahat atau iblis yang menyerang tubuh seseorang. Para Pendeta berusaha menyembuhkan serangan epilepsi dengan mencoba mengeluarkan iblis yang bersarang dengan doa-doa dan tindakan-tindakan magis. Takhyul ini ditentang oleh dokter jadul seperti Atreya di India dan belakangan oleh Hippocrates di Yunani, keduanya menyadari bahwa serangan itu adalah sebuah disfungsi otak bukannya kejadian supernatural.” Lebih lanjut dikatakan, “serangan epilepsi punya kekuatan dan simbolisme yang, secara sejarah, telah mendorong sesuatu yang berhubungan dengan kreatifitas atau kemampuan kepemimpinan yang tidak biasa. Para akademisi telah lama terkesan oleh bukti bahwa para nabi dan orang-orang suci, pemimpin politik, filsuf dan banyak lagi yang telah mencapai kebesaran mereka dalam bidang seni dan sains, menderita epilepsi.” [60]

Aristoteles, yang pertama menghubungkan epilepsi dengan kejeniusan, dia mengatakan bahwa Socrates juga menderita epilepsi.

Dr. Jerome Engel menganggap hubungan epilepsi dan kejeniusan sebagai sebuah kebetulan belaka. [61] Schachter melanjutkan: “Yang lainnya tidak setuju itu, mereka mengatakan telah menemukan hubungan antara epilepsi dan bakat dalam beberapa orang. Eve LaPlante dalam bukunya Seized, menulis bahwa aktivitas otak tidak normal yang ditemukan dalam area temporal lobe (complex partial) epilepsi memainkan peran dalam pemikiran kreatif dan penciptaan karya seni. Neuropsikologis Dr. Paul Spiers berkeras: “Kadang hal yang sama yang menyebabkan epilepsi menyebabkan juga timbulnya bakat. Jika anda merusak sebuah area otak pada saat yang tepat diawal kehidupan anda, area yang berhubungan dengan sisi lainnya punya kesempatan untuk berkembang lebih cepat untuk mengkompensasi hal itu.”[62]

Ini teori yang menarik. Jika Spiers benar, bukanlah TLE yang menyebabkan jenius atau kreativitas tapi reaksi otak yang mengkompensasi kerusakan yang timbul oleh TLE-lah yang menyebabkannya.

Berikut adalah daftar pendek orang-orang jenius yang Schachter percaya menderita penyakit epilepsi.

Alexander Agung: Raja Makedonia yang diabad ketiga SM menaklukkan hampir seluruh dunia yang dikenal saat itu.

Julius Caesar: jendral brilian dan politisi hebat.

Napoleon Bonaparte: figur militer brilian lainnya.

Harriet Tubman: Wanita negro yang memimpin ratusan budak belian dari Amerika Selatan menuju kemerdekaan di Kanada. Dia dikenal sebagai “Musa kaumnya”.

Joan of Arc: Anak petani yang tidak berpendidikan di sebuah dusun terpencil abad pertengahan Perancis yang mengubah jalan sejarah lewat kemenangan-kemenangan militernya yang menakjubkan. Dari umur 13 Joan melaporkan kejadian-kejadian ekstatik yang mana dia melihat kilatan cahaya, mendengar suara-suara para santo/santa dan mendapat penglihatan malaikat-malaikat.

Alfred Nobel: Ahli kimia Swedia dan industrialis yang menciptakan dinamit dan mendanai Hadiah Nobel.

Dante: Penulis dari La Divina Comedia;

Sir Walter Scott: Salah satu figur literatur jaman Romantik; abad 18.

Jonathan Swift: Satiris dari Inggris, penulis dari Gulliver's Travels.

Edgar Allan Poe: Penulis Amerika abad 19.

Lord Byron, Percy Bysshe Shelley, dan Alfred Lord Tennyson: tiga dari penyair Roman Inggris terkenal,

Charles Dickens: Penulis jaman Victoria, diantaranya buku klasik seperti A Christmas Carol dan Oliver Twist.

Lewis Carroll: Penulis dari Alice's Adventures in Wonderland yang mungkin menulis mengenai pengalamannya ketika mendapat serangan TLE. Sensasi tersebut mengawali petualangan dari Alice – merasa seperti jatuh ke sebuah lubang merupakan salah satu ciri tipikal/khas bagi orang-orang yang terserang TLE.

Fyodor Dostoevsky, Novelis Rusia, penulis novel klasik seperti Crime and Punishment dan The Brothers Karamazov, dianggap telah membawa kejayaan novel Barat ke puncaknya.

Muhammad mungkin mendapat serangan TLE pada umur lima tahun. Dostoevsky mendapat serangan tersebut ketika berumur sembilan. Setelah mendapat remisi/pengampunan, sampai di umur 25, dia terus mendapat serangan epilepsi tiap beberapa hari sekali, berfluktuasi dalam perioda sedang hingga parah, yang kemudian berubah menjadi perasaan sedih dan takut yang dalam. Pengalaman-pengalamannya ini mirip dengan pengalaman dari Muhammad, yang mana mendapat penglihatan neraka yang mengerikan, penuh dengan kutukan dan gambaran-gambaran keji dari penyiksaan. Ini beberapa contoh apa yang Muhammad lihat:

Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan): "Rasailah azab yang membakar ini" (Q 22.19-22)

Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahanam. Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat. (Q 23.103-104

Dostoevsky juga melihat cahaya menyilaukan. Lalu dia akan menjerit dan hilang kesadaran beberapa detik. Kadang epilepsi ini membuat kejutan di sepanjang otak, menghasilkan serangan tonic-clonic sekunder. Setelah itu dia tidak bisa mengingat kejadian-kejadian dan pembicaraan-pembicaraan yang terjadi selama serangan tersebut, dan dia sering merasa depresi, bersalah dan gampang marah selama berhari-hari kemudian.

Count Leo Tolstoy: Penulis Abad 19 dari Rusia, karyanya Anna Karenina dan War and Peace, juga diperkirakan punya epilepsi.

Gustave Flaubert: nama besar lain dalam bidang literatur. Jenius dari Perancis abad 19 ini menulis maha karya seperti Madame Bovary dan A Sentimental Education. Menurut Schachter, “serangan terhadap Flaubert sangat khas, dimulai dengan perasaan seakan-akan mau mati, setelah mana dia merasa tidak aman dalam dirinya, seakan-akan telah dipindahkan ke dimensi lain. Dia menulis bahwa tiap serangan epilepsinya ‘seperti pusaran ide dan gambar-gambar dalam otaknya, dimana selama itu dia merasa kesadarannya terbenam ke tengah-tengah badai.’ Dia mengeluh, mendapatkan sentakan memori, melihat halusinasi-halusinasi mengerikan, mulutnya berbusa, tangan kanannya bergerak sendiri, ia berada dalam kondisi seperti ini sekitar 10 menit, lalu muntah.”

Dame Agatha Christie: Penulis novel misteri juga dilaporkan punya epilepsi.

Truman Capote: Penulis orang Amerika, In Cold Blood dan Breakfast at Tiffany’s.

George Frederick Handel: Komposer baroque terkenal the Messiah.

Niccolo Paganini: salah seorang violinis terbesar.

Peter Tchaikovsky: Komposer Rusia terkenal akan ballet Sleeping Beauty dan The Nutcracker.

dan

Ludwig van Beethoven: Salah seorang komposer klasik paling besar.

Schachter mengatakan, “ini cuma contoh-contoh dari banyak lagi orang terkenal yang epilepsinya tercatat oleh sejarawan.” Malah daftar orang terkenal yang didiagnosa atau diduga punya epilepsi itu sangat panjang. Muhammad bukan satu-satunya orang jahat dalam daftar ini. Kuasa imajinatifnya, depresinya, keinginan bunuh dirinya, sifatnya yang gampang marah, ketertarikannya pada agama, penglihatannya akan hari kiamat dan hidup sesudah mati, penglihatan dan pendengaran halusinasinya dan banyak lagi karakteristik psikologis dan fisik yang dapat dijelaskan dengan TLE.

Tapi, epilepsi tidak menjelaskan kekejian dari Muhammad, pembantaian-pembantaiannya dan kegigihannya. Semua itu adalah hasil dari penyakit narsisistik patologisnya. Kombinasi penyakit mental dan kepribadian inilah yang membuat dia menjadi fenomena seperti sekarang ini. Muhammad memupuk pikiran-pikiran “kemahaan”, maha agung, maha kuasa, dll. Penglihatan-penglihatan epileptik membuat dia merasa yakin akan kemahaan dia dan penglihatan-penglihatan epileptik membuat dia merasa mendapat kepastian/konfirmasi bahwa dia sungguh-sungguh adalah nabi pilihan Tuhan. Seakan semua ini belumlah cukup, dia nikahi juga seorang wanita yang punya penyakit co-dependent, wanita yang mencari kebesaran dirinya sendiri dengan cara mengagung-agungkan suaminya.

Muhammad yakin akan misi nabinya. Keyakinan inilah yang mengilhami mereka yang dekat padanya dan membuat mereka yakin akan kepercayaan mereka padanya. Tapi ini tidak berarti bahwa seluruh ayat Qur’an ‘diturunkan’ padanya selama ‘kesurupan’ epilepsi ini. Serangan epilepsi ini mungkin berhenti di tahun-tahun terakhir hidupnya. Tapi, dia sendiri telah diyakinkan oleh ‘kemuliaannya’, hingga dia meneruskan saja mengucapkan ayat-ayat dikala situasi membutuhkannya untuk itu. Sebagai seorang narsisis, dia menerima konfirmasi bagi kenabiannya dari mereka yang percaya buta padanya. Sulit untuk mengatakan siapa yang membodohi siapa,. Muhammad yakin akan pengakuannya meskipun dia seenaknya berbohong, mengarang ayat-ayat ketika dia perlu, tapi, ketika orang-orang juga mempercayai ini semua, dia sendiri jadi percaya juga, merasa diyakinkan. Hasilnya, dia pikir dia dikaruniai otoritas Ilahi untuk menghukum mereka yang tidak satu tujuan dengannya. Dia merasa menjadi suara Tuhan dan menentang dia sama dengan menentang Yang Maha Kuasa. Dia merasa berhak untuk berbohong. Jika dia berbohong, itu untuk kebaikan dan dengan demikian dibenarkan. Ketika dia merampok dan membantai orang tak bersalah, dia melakukannya dengan kesadaran dan nurani yang jernih. Tujuan/maksud yang dia ingin capai sedemikian besarnya hingga semua cara untuk mencapai tujuan/maksud tersebut dianggap olehnya sebagai sah-sah saja. Dia begitu teryakinkan oleh halusinasinya hingga dia merasa benar meski harus membunuh siapapun yang menghalanginya. Ayat-ayat Quran berikut ini menerangkan hal itu dengan sendirinya.

Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (Q 4.14)

Di hari itu orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai rasul, ingin supaya mereka disama-ratakan dengan tanah, dan mereka tidak dapat menyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadianpun. (Q 4.42)

Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. (Q 72.23)

Seksualitas, Pengalaman Religius dan Aktivasi Hiper dari Temporal Lobe

Hadits menjelaskan banyak kelakuan seksual dari Muhammad. Apakah TLE mempengaruhi seksualitas juga? Jika iya dan jika hal itu bisa menjelaskan kebiasaan seksnya Muhammad, maka kita punya lebih dari satu bukti bahwa dia benar menderita epilepsi. Neuroscientist Rhawn Joseph menjawab demikian. Dia menulis:

Karakteristik yang tidak biasa dari sistem limbic (jaringan otak dan syaraf) taraf atas dan aktivitas temporal lobe yang rendah ikut berubah dalam hal seksualitas, seiring dengan semakin dalamnya gairah religius. Patut dicatat bahwa bukan saja para pemuka agama jaman sekarang, tapi juga pemuka agama jaman dulu, termasuk Abraham, Yakub dan Muhammad, cenderung punya seksual yang tinggi dan mengambil banyak pasangan, atau melakukan seks dengan istri-istri orang lain, atau membunuh lelaki lain dengan tujuan mengambil istrinya (Muhammad, Raja Daud). Banyak nabi dan figur religius lain juga menunjukkan bukti adanya sindrom Kluver-Bucy, seperti memakan tahi (ezekiel) [63], juga adanya temporal lobe, hiper aktifnya jaringan otak dan epilepsi, ditambah dengan halusinasi, katalepsi, kegilaan atau kekacauan bahasa.

Dimana Musa mempunyai kesulitan hebat dalam berbicara, Muhammad, ‘utusan’ Allah, jelas menderita disleksia dan agraphic (sebuah penyakit otak yang dicirikan oleh ketidakmampuan total atau sebagian dalam hal tulis menulis). Lebih jauh lagi, dengan tujuan menerima kata-kata Allah, Muhammad dengan khas akan kehilangan kesadaran dan masuk dalam kondisi kesurupan (Armstrong 1994; Lings 1983). Malah, dia mendapat ‘wahyu’ pertamanya ketika dia dibangunkan dari tidur oleh malaikat jibril yang lalu menutupinya dalam sebuah pelukan yang, baginya, menyesakkan dan menakutkan, berulang-ulang Jibril memerintahkan Muhammad untuk mengatakan perkataan Allah, yakni Qur’an. Ini adalah pengalaman yang pertama dari banyak lagi episode-episode dimana Malaikat Jibril kadang muncul pada Muhammad dalam sebuah bentuk yang menggemparkan menurut pendapatnya.

Sejalan dengan suara “Tuhan” atau malaikatnya, Muhammad tidak hanya mengucapkan tapi dia mulai membaca dan melantunkan tema-tema berbeda dari ‘perkataan Tuhan’ dalam urutan yang acak sepanjang 23 tahun dalam kehidupannya; sebuah pengalaman yang dia rasakan sangat menyakitkan dan melelahkan (Armstrong 1994; Lings 1983). Sebagai tambahan bagi kefanatikannya, Muhammad dilaporkan punya kekuatan seks sama dengan 40 lelaki, dan katanya telah meniduri sedikitnya sembilan istri dan banyak lagi selir-selir termasuk juga satu anak kecil bau kencur (Lings 1983). Dalam satu peristiwa, setelah mendapat penolakan, dia kesurupan, dan lalu mengklaim bahwa “Tuhan” memerintahkan agar seorang wanita, istri anak angkatnya sendiri, harus menjadi istrinya.

Dia (Muhammad) juga dikenal gampang murka dan gampang membunuh (atau memerintahkan pembunuhan) para kafir dan pedagang dan mereka yang melawannya. Kelakuan seperti ini jika digabungkan dengan bertambahnya keinginan seksual, semangat religius yang meninggi, kondisi kesurupan, mudah berubah mood dan halusinasi penglihatan dan pendengaran akan malaikat-malaikat, pastilah menunjuk pada sistem otak dan temporal lobe yang cacat, sebuah kelainan syaraf yang mungkin bagi adanya pengalaman-pengalaman demikian. Pastilah, Muhammad juga menderita depresi yang parah dan dalam kondisi tertentu merasa ingin bunuh diri, dan memang Muhammad ingin loncat dari tebing, hanya dicegah oleh malaikat jibril angannya. [64]

Sudah menjadi kepercayaan umum bahwa Muhammad punya kekuatan seks beberapa lelaki. Kepercayaan ini berdasarkan pada beberapa hadis. Satu hadis yang diceritakan Salma, seorang pembantunya Muhammad, menceritakan: “Satu malam kesembilan istri nabi yang bersamanya sampai kematiannya (Muhammad punya juga istri-istri lain yang telah dia cerai) hadir. Nabi meniduri mereka semua. Ketika dia selesai dengan satu orang, dia suka meminta aku untuk membawakan dia air agar dia bisa membersihkan diri (wudhu). Saya tanya, oh rasul Allah, bukankah satu kali wudhu saja cukup? Dia menjawab begini lebih baik dan lebih bersih. [65]

Tapi, riset saya menyimpulkan bahwa klaim kejantanan Muhammad ini hanya bohong belaka, dan malah nyatanya dalam dekade terakhir kehidupannya dia sebenarnya sudah impoten. Muhammad punya libido (gairah seks) yang tinggi, yang dia coba puaskan dengan meraba-raba istri-istri dan selir-selirnya, tanpa mampu untuk melakukan hubungan seks yang sepatutnya.

Riset di Universitas Utrecht, Netherland memastikan bahwa opioid endogenous, yaitu senyawa kimia yang diproduksi otak agar kita merasa enak, bisa menambah gairah seks dan sekaligus menghilangkan kemampuan seks. [66] Dalam studi lain lagi, periset mengamati adanya aktivitas berlebihan dari opioid selama fase maniak pada pasien. [67] Sebagai seorang narsisis, mood dari Muhammad mudah sekali berubah. Kadang dia merasa euphoria dan penuh energi sementara dilain waktu dia menderita depresi berat hingga merasa ingin bunuh diri. Penemuan ini menjelaskan kenapa dia punya gairah seks yang begitu tinggi dan meski punya banyak pasangan muda, dia tetap saja tidak punya anak. Satu-satunya kesimpulan yang paling logis adalah bahwa dia tidak mampu berhubungan seks secara normal, dengan kata lain senjatanya tidak berfungsi.

Meski demikian, masih ada lubang dalam teori ini. Jika Muhammad impoten pada tahun-tahun terakhir kehidupannya, seperti yang saya yakini, bagaimana dia bisa mempunyai anak Ibrahim ketika dia berumur 60 tahun lebih? Ibrahim lahir dari Mariyah, budak Koptik yang cantik dengan rambut ikal, yang dicemburui dan tidak disukai oleh istri-istri lainnya. Saya duga anak ini bukan anak Muhammad, tapi hasil selingkuh, tadinya saya tidak punya bukti-bukti. Lalu saya temukan ini.

Saya menemukan sebuah riwayat yang diceritakan oleh Ibn Sa’d, yang menceritakan seorang lelaki Koptik di Medina yang suka mengunjungi Mariyah, gosip beredar bahwa dia adalah kekasih Mariyah. Mariyah tinggal di sebuah taman di Utara Medina; ia dipindahkan kesana karena istri-istri Muhammad yang lain membencinya. Gosip ini juga sampai ke telinga Muhammad yang lalu menyuruh Ali untuk membunuh lelaki Koptik itu. Si lelaki ketika melihat Ali menghampirinya langsung mengangkat pakaiannya dan Ali melihat bahwa lelaki itu tidak punya aurat (alat kelamin), lalu Ali membiarkan dia hidup. [68]

Ini alibi yang sempurna sekali untuk membungkam gosip itu. Aisha juga pernah dituduh selingkuh dengan Safwan, anak muda dari Medina, hal ini membuat kegemparan. Aisha menyangkal tuduhan dan bilang bahwa Safwan adalah seorang kebiri.

Cerita seorang lelaki Koptik yang menunjukkan auratnya untuk membuktikan ketidak-bersalahan dia jelas hanya dibuat-buat saja. Kenapa lagi sang utusan Allah ingin membunuh orang tak bersalah dan dari mana lelaki ini tahu bahwa Ali menghampiri dia untuk membunuh?

Untuk menutupi lebih jauh perselingkuhan dan hal memalukan yang biasanya muncul dalam kisah-kisah demikian, khususnya dalam masyarakat Chauvinistis (mengikuti garis lelaki), dimana pembunuhan demi kehormatan masih menjadi kebiasaan, Muhammad mengklaim bahwa ketika Ibrahim lahir, Jibril memberi kepastian padanya bahwa dialah ayah dari sang bayi dengan cara memberinya salam “Assalamo Alaikum ya aba Ibrahim,” (Asalamualaikum o bapaknya Ibrahim). Hadis ini mungkin juga dikarang belakangan, dikarang untuk mengakhiri gosip yang masih beredar. Kenapa Muhammad merasa perlu menceritakan tentang konfirmasi Jibril ini? Bukankah ini memberitahu kita bahwa Muhammad juga sebenarnya curiga dan kisah Jibril memanggilnya Bapak Ibrahim (aba Ibrahim) adalah untuk menghentikan gosip tersebut? Trik ini mungkin berhasil. Muhammad sendiri, sebagai seorang narsisis, adalah seorang ahli tipuan, baik menipu diri sendiri maupun orang lain. Dia sering percaya apapun yang dia ingin percaya. Dia dilaporkan menangis ketika Ibrahim meninggal pada umur 16 bulan.

Tapi, meski fakta bahwa Mariyah adalah satu-satunya wanita yang melahirkan anak lelaki bagi Muhammad ketika ia lewat umur 60 tahun, dan mungkin Mariyah lebih cantik dari istri-istri lainnya, Muhammad tetap saja tidak menikahi dia.

Ibn Sa’d menceritakan bahwa ketika Ibrahim lahir, Muhammad membawanya pada Aisha dan berkata, “Lihat betapa dia mirip denganku.” Aisha menjawab, “Tak kulihat kemiripannya denganmu.” Muhammad bilang, tidakkah kau lihat pipinya yang tembem dan putih? Aisha lalu menjawab, “Semua bayi yang baru lahir yang minum susu punya pipi tembam.” [69]

Pernyataan bahwa Muhammad punya kekuatan seks empat puluh lelaki adalah bohong, sengaja diciptakan untuk menutupi fakta bahwa dia sebenarnya impoten. Muhammad punya tujuh anak dengan Khadijah, yang sudah berumur empat puluh tahun ketika dinikahinya. Anak-anak ini didapat ketika Muhammad berumur 25 sampai 35 tahun. Tapi, tak seorangpun dari istri dan selir mudanya, yang jumlahnya lebih dari dua puluh, mendapatkan anak dari dia selama sepuluh tahun terakhir hidupnya.

“Disfungsi ereksi dengan gairah seks yang tetap ada pada lelaki yang mengidap epilepsi telah diketahui kebenarannya oleh para periset sejak tahun 1950,” kata Gastaut.[70] Dan Pritchard mengatakan bahwa hyperprolactinemia yang dihasilkan dari serangan CP diketahui menyebabkan disfungsi seksual pada pria dengan epilepsi.[71]

Kita baca sebelumnya bahwa Muhammad membayangkan melakukan seks ketika kenyataannya dia tidak melakukan itu. Juga ada hadis yang menceritakan bahwa dia tidak melakukan seks dengan istri-istrinya tapi hanya meraba-raba mereka saja. Dia mengunjungi mereka, kadang semuanya dalam satu malam, melakukan pemanasan tapi tidak pernah terjun dalam permainan sesungguhnya. Aisha melaporkan, “Tak seorangpun dari kalian punya kekuatan untuk mengontrol nafsunya seperti sang nabi karena dia bisa meraba-raba istrinya tapi tidak melakukan hubungan seks.”[72] Aisha hanya anak kecil. Dia mungkin tidak tahu bahwa suami bangkotannya tidak melakukan kontrol nafsu melainkan tidak mampu. Di tempat lain dia berkata, “Aku tidak pernah melihat atau menyaksikan aurat dari sang nabi.”[73] Saya biarkan pembaca membayangkan sendiri kenapa. (karena kecil sekali hingga tidak kelihatan, penerjemah. He he he orang Arab kok penisnya kecil).

Ini bukan berarti bahwa Muhammad tidak punya gairah seks. Dia tidak mau ketinggalan melakukan seks. Gairah seksnya yang tidak terpuaskan hanya menimbulkan kecurigaan bahwa meski begitu banyak wanita dalam haremnya, dia masih saja kelaparan seks. Ada hadis yang menceritakan ketika dia merampok kota Bani Jaun, seorang anak perempuan yang dipanggil Jauniyya ditemani dengan perawatnya dibawa ke hadapan Muhammad. Nabi bilang padanya, “Berikan dirimu sebagai hadiah.” (Dalam istilah jaman sekarang: saya ingin melakukan seks denganmu). Anak perempuan itu menjawab, “Bisakah seorang putri raja memberikan dirinya pada orang biasa-biasa saja?” Muhammad lalu mengangkat tangan untuk memukulnya, ketika anak itu berteriak, “Aku minta pertolongan Allah darimu,” dan dia berhenti.[74] Umur anak perempuan ini tidak disebutkan tapi kita hanya bisa mengira pastilah masih sangat muda karena masih perlu perawat.

Anda bisa bilang, semua ini cuma spekulasi, tapi ada satu hadis yang tanpa keraguan lagi ada fakta bahwa Muhammad itu impoten. Ibn Sa’d mengutip gurunya Waqidi, yang berkata: “Rasul Allah suka berkata bahwa aku adalah orang yang lemah seks. Lalu Allah memberiku satu periuk daging matang. Setelah aku memakannya, kudapatkan kekuatan kapanpun aku ingin berhubungan seks.”[75]

Ini adalah pengakuan dari mulut sang Nabi sendiri. Terserah anda apa mau percaya dongeng bahwa Allah begitu perhatian akan kekuatan seks nabinya hingga mengirim makanan penguat kejantanan untuk menyembuhkan impotensi atau menyimpulkan bahwa nabi chauvinis megalomaniak kita ini , seperti juga kebanyakan orang Arab lainnya, yang menganggap kekuatan seks sebagai lambang kejantanan dan terus menerus membanggakan hal tersebut, hanya seorang yang besar mulut dan mencoba menyembunyikan impotensinya.

Dalam hadis lain Muhammad berkata, “Jibril membawakanku makanan satu periuk. Kumakan makanan itu dan kekuatan seksku bertambah menjadi sama dengan empat puluh orang.[76]

Dongeng ini, seperti juga kisah-kisah lain dalam hadis, dikarang untuk menyembunyikan fakta bahwa Muhammad tak mampu secara seksual. Seorang narsisis dengan ego begitu melangit tidaklah mungkin mau terlihat sebagai seorang yang impoten.


TLE adalah penyakit bermuka banyak

Secara klinis, penderita TLE sering didiagnosa mempunyai penyakit psikiatris yang bermacam-macam, termasuk schizophrenia dan penyakit muka dua karena banyaknya gejala-gejala termasuk gampang marahnya sang penderita.

Schizophrenia: Muhammad mungkin juga menderita schizophrenia. Beberapa gejala dari schizophrenia yang mungkin bisa ditelusuri pada Muhammad adalah:

l Delusi, kepercayaan pribadi yang palsu yang dipegang erat meski alasan atau bukti-bukti menunjukkan sebaliknya, tidak terjelaskan oleh konteks budaya orang tersebut.

l Halusinasi, persepsi (bisa suara, penglihatan, sentuhan, penciuman atau rasa) yang muncul ketika tidak adanya rangsangan luar yang sebenarnya (halusinasi pendengaran adalah yang paling biasa terjadi dalam halusinasi pada orang schizophrenia.)

l Kacaunya pemikiran dan tingkah laku.

l Kacaunya ucapan

l Tingkah laku agresif atau kekerasan

l Gelisah

l Kelakuan katatonik, dimana orang tersebut tubuhnya bisa kaku dan tidak responsif.[77]

Pemikiran Muhammad yang kacau bisa dilihat sepanjang terciptanya, Qur’an. Dia juga keji dan sering gelisah. Dalam sepuluh tahun saja, dia melakukan tujuh puluh peperangan, semuanya semacam perampokan. Sedang untuk kelakuan katatoniknya, sebuah sindrom yang sering terlihat pada orang schizophrenia, dicirikan dengan kakunya otot dan pingsan secara mental, cukup kita dengar dari Ali, yang berkata, “ketika dia berjalan dia mengangkat kakinya dengan kaku, seakan berjalan naik. Ketika berpaling dia memutar seluruh tubuhnya.”[78]

Penyakit Bipolar: Muhammad mungkin juga menderita manic-depressive (nama yang lebih populer untuk Bipolar). Penyakit ini menyebabkan mood yang cepat berubah – dari sangat “tinggi” dan/atau gampang marah ke sedih dan putus asa, lalu kembali lagi menjadi gampang marah, sering diselingi dengan mood yang normal diantaranya. Perioda tinggi dan rendah ini disebut episode mania dan depresi. Perubahan mood yang ekstrim yang dijelaskan dengan perioda kelakuan even-keel ini mencirikan penyakit demikian.

Ciri dari Bipolar adalah: gampang marah, harga diri yang berlebihan, berkurangnya kebutuhan tidur, bertambahnya energi, pemikiran berloncatan, perasaan lemah, penilaian yang lemah, dorongan seksual meninggi dan penyangkalan bahwa segalanya salah, merasa putus asa, tidak berharga, atau melankoli, lelah, punya pikiran utk mati atau bunuh diri dan berusaha untuk bunuh diri.

Ibn Sa’d melaporkan sebuah hadis yang bisa diartikan sebagai sebuah gejala penyakit bipolar. Dia menulis: “Kadang nabi suka puasa berlebihan, seakan dia tidak mau mengakhiri puasanya dan kadang tidak berpuasa begitu lama hingga orang pikir ia tidak mau puasa sama sekali.”[79]

Orang pertama yang curiga bahwa Muhammad menderita epilepsi adalah Halima, atau suaminya, ketika Muhammad berumur lima tahun. Theopanes[80], (752-817) seorang sejarawan Byzantine, adalah akademisi pertama yang mengklaim bahwa Muhammad menderita epilepsi. Sekarang, kita banyak tahu tentang epilepsi dan bisa memastikan pengakuan ini. Tapi, narsisisme sebagai sebuah sikap cinta diri sendiri menjadi bagian dari istilah psikiatris ketika Freud menyatakan dalam penemuan patologinya tahun 1914. Konsepnya akan sebuah ego-ideal – sebuah gambar diri yang mewujudkan harapan tertinggi seseorang dan perannya dalam penghargaan diri menjadi penentu penyakit Narsisistik ini. Ide ini dikembangkan lebih jauh oleh Annie Reich (1902-1971) yang membuat regulasi penghargaan diri menjadi sentral terhadap konsep narsisisme dan membentuk kembali narsisisme patologis sebagai sebuah usaha berlebihan bagi pertahanan diri sebagai respon karena rendahnya harga diri tersebut. Dengan demikian narsisisme adalah relatif sebuah pendatang baru masuk kedalam daftar penyakit mental. Hal ini belum sepenuhnya dipastikan sampai akhir tahun 80an. Dalam pandangan saya, hubungan antara Muhammad dan NPD yang dibuat dalam buku ini, adalah yang pertama dilakukan. Saya telah menulis banyak artikel tentang hubungan ini sejak 1998. Tapi, buku ini memberikan bukti-bukti lebih kuat sampai saat ini.

Berdasarkan penemuan ini, jelas bahwa Muhammad paling mungkin menderita berbagai jenis penyakit kepribadian dan mental. Menurut Occam’s Razor, seseorang tidak harus membuat asumsi lebih dari yang minimum diperlukan untuk menjelaskan sesuatu. Jika TLE dan NPD dapat menjelaskan kelakuan dan perwujudan dari Muhammad, untuk apa bersandar pada metafisik, sim salabim dan penjelasan mistik yang tidak berdasar lain? Sekarang kita punya bukti sains bahwa otak Muhammad itu sakit, sesuatu yang telah diketahui oleh orang-orang sejamannya sendiri. Sialnya, mereka menyerah pada kekejaman Muhammad dan suara mereka dibungkam.

Sangat ironis bahwa lebih dari satu milyar orang bersandar pada seorang gila sebagai nabi mereka dan mencoba meniru dia dalam segala hal. Tidak heran dunia muslim semakin lemah. Tindakan para muslim hanya bisa disebut sebagai kegilaan. Ini karena mereka secara mental sudah tidak benar, karena mereka punya seorang yang mentalnya terganggu sebagai suri tauladan dan petunjuk jalan. Jika orang waras mengikuti orang tidak waras mereka jadi tidak waras juga. Ini mungkin, tragedi terbesar sepanjang masa. Sebuah kegilaan yang begitu kolosal besarnya adalah sesuatu yang menjijikkan.


[1] Sahih al-Bukhari, Volume 6, Book 60, Number 448:


[2] Sahih al-Bukhari Volume 1, Book 1, Number 2


[3] Majma'uz Zawaa'id dengan referensi dari Tabraani


[4] Ibid.


[5] Bukhari Volume 1, Book 1, Number 3:


[6] Sahih Muslim Book 001, Number 0301:


[7] Tabari VI:67


[8] Sahih Bukhari Volume 9, Book 87, Number 111


[9] Tirmidhi Hadith, Number 1524


[10] Sira Ibn Ishaq, p. 105


[11] Sahih Bukhari Volume 2, Book 22, Number 301


[12] Sahih Bukhari Volume 7, Book 71, Number 660:


[13] Sahih Muslim Book 007, Number 2654:


[14] Sahih Bukhari Volume 6, Book 60, Number 451:


[15] Bukhari Volume 6, Book 60, Number 478


[16] Sira Ibn Ishaq p. 106


[17] Seringkali roh-roh jahat dalam mitologi Arab, mampu menampakkan diri dalam wujud manusia dan binatang.


[18] Scott Atran, NeuroTheology: Brain, Science, Spirituality, Religious Experience by Chapter 10 http://jeannicod.ccsd.cnrs.fr/docs/00/05/32/82/RTF/ijn_00000110_00.rtf


[19] Qur’an, 72:8; 37:6-10; 63:5.


[20] Muhammad Husayn Haykal (1888, 1956): The Life of Muhammad, diterjemahkan oleh Isma'il Razi A. al-Faruqi. ISBN: 0892591374 Chapter 8: From the Violation of the Boycott to al Isra'.


[21] /www.mental-health-matters.com/articles/article.php?artID=92


[22] http://samvak.tripod.com/journal71.html


[23] www.emedicine.com/NEURO/topic365.htm


[24] Kennedy: Arch Int Med 1911 viii p317.


[25] Sirat Rasoul p. 77


[26] www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001399.htm


[27] www.epilepsy.dk/Handbook/Mental-complications-uk.asp


[28] Ibid.


[29] Qur’an, 42:7. Klaim yang sama terdapat dalam Qur’an, 6:92


[30] “Nay, it is the Truth from thy Lord, that thou mayest admonish a people to whom no warner has come before thee: in order that they may receive guidance.”(Qur’an 32:3) and In order that thou mayest admonish a people, whose fathers had received no admonition, and who therefore remain heedless (of the Signs of Allâh). (Qura’an, 36:6)


[31] A.S. Tritton, Islam: Belief and Practice 1951, p. 16.


[32] Sahih Bukhari Volume 2, Book 22, Number 301.


[33] Bukhari, Volume 4, Book 56, Number 763.


[34] Qur’an: Sura 13, ayat 62


[35] Sindiran itu berhubungan Surah 40:46, ‘Buanglah keluarga Firaun ke dalam penghukuman-penghukuman yang paling buruk


[36] Sahih Bukhari Volume 1, Book 6, Number 301 melaporkan bahwa Muhammad, “Aku telah melihat bahwa mayoritas penghuni-penghuni api neraka adalah kamu (wanita)." Mereka bertanya, "Mengapa demikian wahai Rasul Allah?" Ia menjawab, "Kamu sering mengutuk dan tidak berterimakasih kepada suamimu. Belum pernah kutemukan orang yang sangat kurang kecerdasan dan agamanya daripada kamu.Seorang laki-laki yang berakal dapat disesatkan oleh beberapa diantara kamu." Para wanita itu bertanya, "Wahai rasul Allâh! Apakah yang kurang dalam kecerdasan dan agama kami?" Ia berkata, "Bukankah kesaksian dua wanita setara dengan kesaksian satu laki-lakiI?" Mereka mengiyakannya. Ia berkata, "Inilah kekurangan kecerdasannya. Bukankah benar bahwa seorang wanita tidak dapat berdoa dan berpuasa ketika ia datang bulan?" Para wanita itu mengiyakannya. Ia berkata, "Inilah kekurangannya dalam agama."


[37] Beberapa tahun kemudian di Medina Muhammad jatuh cinya pada istri Zayd dan menunjukkan nafsunya. Zayd merasa harus menceraikan istrinya sehingga Muhammad dapat menikahinya.


[38] www.emedicine.com/neuro/topic658.htm


[39] Newsweek May 7, 2001, U.S. Edition; Section: SCIENCE AND TECHNOLOGY; Religion And The Brain By Sharon Begley With Anne Underwood


[40] http://web.ionsys.com/~remedy/Persinger,%20Michael.htm


[41] Ken Hollings http://www.channel4.com/science/microsites/S/science/body/exorcism.html


[42] www.laurentian.ca/neurosci/_research/tectonic_theory.htm


[43] Ken Hollings http://www.channel4.com/science/microsites/S/science/body/exorcism.html


[44] Ibid


[45] How We Believe, 2000, Michael Shermer p.66


[46] www.physorg.com/news77992285.html


[47] http://www.tamu.edu/univrel/aggiedaily/news/stories/04/070104-3.html


[48] National Geographic: “Did Animals Sense Tsunami Was Coming?” http://news.nationalgeographic.com/news/2005/01/0104_050104_tsunami_animals.html


[49] Bukhari:Volume4, Book 54, Number 440


[50] [50] Platt, Charles. (1980). Dream Makers: The Uncommon People Who Write Science Fiction. Berkley Publishing. ISBN 0-425-04668-0


[51] Ibid


[52] Divine Invasion , A Life of Philip K. Dick by Lawrence Sutin p.264


[53] Ibid. p.269


[54] www.pbs.org/wgbh/nova/transcripts/2812mind.html


[55] Acts 9:1-9.


[56] 2 Corinthians 12 7-9


[57] Seized: Temporal Lobe Epilepsy as a Medical, Historical, and Artistic Phenomenon, (HarperCollins, 1993, 2000),


[58] Ezekiel 1:4-9


[59] www.utas.edu.au/docs/humsoc/kierkegaard/docs/Kierkepilepsy.pdf


[60] www.epilepsy.com/epilepsy/famous.html


[61] Dr. Jerome Engel, Professor of Neurology at the University of California School of Medicine and author of the book Seizures and Epilepsy:


[62] www.epilepsy.com/epilepsy/famous.html


[63] Muhammad malah memberi saran utk meminum air kencing onta untuk obat sakit perut. Dia mestinya telah meminumnya juga.


[64] The Limbic System And The Soul From: Zygon, the Journal of Religon and Science (in press, March, 2001) by Rhawn Joseph, Ph.D. http://brainmind.com/BrainReligion.html


[65] Tabaqat Volume 8, Page 201


[66] W. R. Van Furth, I. G. Wolterink-Donselaar and J. M. van Ree. Department of Pharmacology, Rudolf Magnus Institute, University of Utrecht, The Netherlands http://ajpregu.physiology.org/cgi/content/abstract/266/2/R606


[67] W. R. Van Furth, I. G. Wolterink-Donselaar and J. M. van Ree. Department of Pharmacology, Rudolf Magnus Institute, University of Utrecht, The Netherlands http://ajpregu.physiology.org/cgi/content/abstract/266/2/R606


[68] Tabaqat,. Volume 8, Page 224


[69] Tabaqat Volume I, page 125


[70] Gastaut H: So-called psychomotor and temporal epilepsy: a critical study. Epilepsia 1953; 2: 59-76.


[71] Pritchard P: Hyposexuality: a complication of complex partial epilepsy. Trans Am Neurol Assoc 1980; 105: 193-5.


[72] Sahih Bukhari Volume 1, Book 6, Number 299.


[73] Tabaqat Volume 1, page 368


[74] Bukhari Volume 7, Book 63, Number 182:


[75] Tabaqat Volume 8, Page 200


[76] Tabaqat Volume 8, Page 200


[77] www.emedicinehealth.com/schizophrenia/article_em.htm


[78] The Book of Merits (manaqib) in Sunan Imam at-Tirmidhi. www.naqshbandi.asn.au/description.htm


[79] Tabaqat, Volume 1, Page 371


[80] Theophanes, 1007, Chronographia, vol. 1, p334


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar